Jakarta, detiksatu.com || Presiden Prabowo Subianto meneropong prospek Indonesia target pertumbuhan 8 persen dan transformasi ekonomi dari desa.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 8 persen dalam beberapa tahun ke depan. Target tersebut, menurutnya, bukan sekadar angka ambisius, melainkan bagian dari visi besar pembangunan jangka panjang yang ia sebut sebagai sebuah long march perjalanan panjang yang menuntut stamina, keberanian, serta sikap realistis dalam membaca tantangan bangsa.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
“Kita harus berani melihat kenyataan, mengakui kelemahan, lalu memperbaikinya. Tugas pemerintah adalah memberi kehidupan yang layak bagi rakyatnya,” ujar Presiden dalam pidatonya di hadapan pelaku usaha, ekonom, dan jajaran pejabat negara.
Indikator Daerah Mulai Menguat
Dalam paparannya, Prabowo mengklaim sejumlah indikator ekonomi di berbagai daerah menunjukkan tren perbaikan.
Ia menyebut laporan dari sejumlah kepala daerah yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga mulai meningkat, tingkat kemiskinan mengalami penurunan, pengangguran terbuka menyusut, serta rasio gini yang membaik sebagai tanda distribusi pendapatan semakin merata.
Tak hanya itu, asosiasi pengusaha juga disebut mulai merasakan dampak positif peningkatan daya beli masyarakat sejak awal tahun.
Menurutnya, geliat konsumsi domestik menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“Dari laporan yang saya terima, ada optimisme yang nyata di lapangan. Perputaran ekonomi mulai terasa, terutama di sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan rakyat,” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Penggerak
Salah satu program unggulan yang disorot Presiden adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diklaim telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat yang terdiri atas anak-anak, ibu hamil, serta lansia yang hidup sendiri. Secara kumulatif, pemerintah mencatat sebanyak 4,5 miliar porsi makanan telah diproduksi dan didistribusikan.
Dari sisi skala dan manajemen logistik, Prabowo menyebut pelaksanaan program tersebut sebagai capaian besar yang membanggakan.Meski demikian, ia mengakui terdapat sekitar 28 ribu kasus gangguan konsumsi makanan dari total miliaran porsi yang dibagikan. Namun secara statistik, angka tersebut dinilai sangat kecil. Pemerintah, tegasnya, tetap menargetkan zero error melalui penguatan pengawasan, peningkatan standar kualitas, dan perbaikan fasilitas produksi.
Saat ini, terdapat lebih dari 23 ribu dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi. Pada puncaknya, jumlah tersebut ditargetkan melampaui 30 ribu unit dengan total penerima manfaat mencapai 82 juta orang.
Setiap dapur rata-rata mempekerjakan 50 tenaga kerja dan menggandeng 5–10 pemasok lokal, mulai dari petani sayur, peternak, hingga nelayan.
Pemerintah memperkirakan program ini telah menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja dan berpotensi meningkat menjadi 1,5 juta orang dalam waktu dekat.
“Dari lapisan paling bawah inilah ekonomi Indonesia akan bangkit menjadi dinamis,” tegas Prabowo.
Bangun 1.000 Desa Nelayan pada 2026
Selain MBG, pemerintah juga meluncurkan transformasi ekonomi berbasis produksi melalui pembangunan desa nelayan. Pada 2026, ditargetkan berdiri 1.000 desa nelayan yang dilengkapi fasilitas terpadu seperti pabrik es, cold storage, dermaga, hingga akses pembiayaan dan pasar.
Dalam empat tahun ke depan, jumlahnya diproyeksikan mencapai 5.000 desa nelayan.
Skema pembiayaan yang digunakan bukan bantuan hibah, melainkan berbasis koperasi dengan mekanisme pengembalian jangka panjang lebih dari 10 tahun.
Model ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan, memperkuat posisi tawar nelayan, serta menekan ketergantungan pada tengkulak.
Koperasi Desa Merah Putih dan Integrasi Distribusi
Langkah transformasi ekonomi juga diperkuat melalui pembentukan koperasi desa Merah Putih. Dalam waktu dekat, ratusan koperasi ditargetkan mulai beroperasi, sementara sekitar 30 ribu koperasi disebut hampir rampung dibentuk.
Setiap koperasi akan dilengkapi gudang penyimpanan, fasilitas cold storage, gerai farmasi obat generik, klinik desa, hingga layanan pembiayaan ultra mikro untuk menekan praktik rentenir. Sumber pendanaannya memanfaatkan alokasi dana desa yang telah digelontorkan pemerintah selama satu dekade terakhir.
Dengan integrasi distribusi barang subsidi dan akses langsung ke masyarakat, pemerintah optimistis potensi kebocoran anggaran dapat ditekan secara signifikan.
Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Di akhir pidatonya, Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia akan menghadirkan “kejutan-kejutan” positif dalam kinerja ekonomi sepanjang tahun ini. Ia menegaskan visi kemandirian nasional sebagai prinsip utama dalam kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintahannya.
“Kita ingin berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak mau lagi didikte atau dipermainkan siapa pun,” tandasnya.
Dengan berbagai program yang menyasar langsung akar ekonomi rakyat dari gizi anak hingga penguatan koperasi desa, pemerintah berharap fondasi pertumbuhan yang inklusif dapat terbentuk. Target 8 persen pun diproyeksikan bukan sekadar retorika, melainkan hasil dari transformasi struktural yang dimulai dari desa dan lapisan masyarakat paling bawah.
Red-Ervinna

