Timur Tengah, Peran Indonesia di BoP, dan Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga?*

Redaksi
Februari 28, 2026 | Februari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-02-28T15:38:57Z
*Timur Tengah, Peran Indonesia di BoP, dan Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga?*

_Oleh: Prof. Eggi Sudjana._
                                         

ALLAAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّا رِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰٮهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ ۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِ نْجِيْلِ ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَـهٗ فَاٰ زَرَهٗ فَا سْتَغْلَظَ فَا سْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّا عَ لِيَـغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّا رَ ۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. 

Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). 

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath 48: Ayat 29) .
                         
Perkembangan mutakhir di Timur Tengah memperlihatkan paradoks besar dengan Statement Allah tersebut dalam Wahyunya Surah Al Fath ayat 29, ketika diplomasi global melalui Board of Peace (BoP) digagas untuk meredam konflik, justru eskalasi militer meningkat tajam, sedihnya tak ada Ukhuwah Islamiah di Timur Tengah tersebut, daya bantu pada palestina hanya didemonstrasikan oleh Iran dan Yaman.

Serangan bersama yang dilaporkan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 hari ini menjadi titik balik yang mengguncang stabilitas kawasan. Laporan media internasional seperti Reuters dan The Guardian menyebutkan bahwa serangan udara tersebut menyasar fasilitas strategis dan memicu ledakan besar di Teheran, disusul respon rudal Iran ke arah wilayah Israel dan instalasi yang diduga terkait kepentingan AS di kawasan sana .

Dampaknya langsung terasa, dejumlah maskapai internasional membatalkan penerbangan setelah wilayah udara Iran dan beberapa negara Teluk ditutup sementara demi keamanan. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tersebut bukan hanya persoalan dua atau tiga negara, tapi telah menyentuh kepentingan global mulai dari jalur energi, perdagangan, hingga stabilitas ekonomi dunia.

Sebelum eskalasi terbaru ini, dunia sempat mencatat momentum positif ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza. Ketegangan antara Israel dan Hamas memang sempat mereda secara formal, tetapi di lapangan ketidakpercayaan tetap tinggi. Rekonstruksi Gaza berjalan lambat, dan perundingan politik jangka panjang belum menghasilkan solusi final mengenai status wilayah dan keamanan bersama.

Serangan terhadap Iran praktis menggeser fokus dari Gaza ke konflik regional yang lebih luas. Banyak analis melihat bahwa konflik Israel dan Iran berpotensi membuka kembali front-front proksi di Lebanon, Suriah, Irak, hingga Yaman. Artinya, satu gesekan dapat memicu kobaran yang lebih besar dan meluas.

Di tengah pusaran konflik, inisiatif Board of Peace (BoP) yang dipimpin oleh Donald Trump menjadi sorotan. BoP diluncurkan dengan klaim memperkuat stabilitas global, termasuk rekonstruksi Gaza dan konsolidasi perdamaian pascaperang. Indonesia termasuk negara yang hadir dan menyatakan dukungan terhadap upaya stabilisasi tersebut, bahkan menjadi wakil komandan nya di BoP . 

Namun kritik muncul dari berbagai kalangan internasional. Sebagian pihak mempertanyakan netralitas dan efektivitas BoP, terutama karena AS secara bersamaan tetap menjadi pendukung militer utama Israel. Di sinilah muncul dilema, dapatkah sebuah forum perdamaian berjalan optimal jika salah satu aktor kuncinya juga terlibat aktif dalam operasi militer bahkan ikut memeranginya?

Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah apakah eskalasi ini berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga?

Secara historis, perang dunia terjadi ketika konflik regional menyeret aliansi besar dan memperluas front peperangan lintas benua. Saat ini, terdapat beberapa indikator yang patut dicermati yakni keterlibatan langsung kekuatan besar. AS sudah terlibat secara militer. Jika Iran mendapat dukungan terbuka dari kekuatan global lain seperti Rusia atau Tiongkok, eskalasi bisa melebar.

Blok aliansi yang mengeras, Negara-negara Teluk, Eropa, serta NATO berada dalam orbit keamanan AS, sementara Iran memiliki jejaring mitra strategis sendiri, akan tetapi problem seriusnya bagaimana dengan Peran Indonesia di BoP tersebut sebagai wakil Komandan, tentu dengan mudah ikut serta dalam perang yg notabene sesama Negara Muslims, how came?

Dimensi ekonomi global, Selat Hormuz adalah jalur vital energi dunia. Gangguan serius dapat memicu krisis ekonomi global yang memperkeruh ketegangan politik antarnegara.

Namun demikian, banyak analis menilai bahwa meski resiko eskalasi tinggi, semua pihak juga memahami biaya yang luar biasa dari perang global terbuka. Keseimbangan ketakutan (balance of deterrence) masih menjadi pertimbangan kuat yang menahan konflik agar tidak melebar ke skala dunia.

*Respons Palestina dan Negara Pendukung terhadap Indonesia*

Kerja sama Indonesia dalam BoP di bawah Trump memunculkan dinamika tersendiri. Pemerintah Palestina secara resmi tetap menyampaikan apresiasi atas konsistensi dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional, termasuk di PBB. Indonesia dipandang sebagai salah satu negara dengan posisi moral kuat dalam membela hak rakyat Palestina tapi Paradoxnya mengapa bergandengan dengan Donald Trump yang rekam jejaknya sejak periode awal menjadi Presiden, dan kini kembali terpilih tidak konsisten atas stabilitas dan kemerdekaan Palestina?

Namun, dari sebagian kelompok masyarakat sipil Palestina dan negara-negara pendukung seperti Turki, Iran, dan beberapa negara Amerika Latin, muncul nada kehati-hatian bahkan kecurigaan. Mereka menilai keterlibatan dalam BoP perlu diimbangi dengan sikap tegas terhadap setiap tindakan militer yang merugikan rakyat sipil Palestina. Intinya, dukungan diplomatik Indonesia masih dihargai, tetapi publik internasional menunggu bukti konkrit bahwa Indonesia tetap konsisten memperjuangkan keadilan, bukan hanya stabilitas politik, tapi agar tidak pabaliut (bahasa Sunda: kacau) bagusnya peran Indonesia di batalkan ikut BoP.

Sejauh ini, tidak ada pernyataan resmi yang menyatakan kekecewaan langsung kepada Indonesia. Tetapi dinamika opini publik global menunjukkan bahwa kredibilitas moral sebuah negara sangat ditentukan oleh konsistensinya antara retorika dan tindakan, jangan Munafik!

Bagi Indonesia, posisi ini ibarat berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, keterlibatan dalam BoP membuka ruang diplomasi dan peran global yang lebih besar. Di sisi lain, Indonesia harus menjaga identitasnya sebagai pendukung kemerdekaan Palestina yang tegas dan konsisten sejak era Konferensi Asia Afrika, yaitu dengan gerakkan politik luar negeri Indonesia yang NON BLOK bebas aktif, siapun presidennya.

Opini ini ditulis dengan netral dengan melihat persoalan secara objektif, sistematis, toleran terhadap diplomasi bukan pengkhianatan, tetapi juga bukan tujuan akhir. Diplomasi adalah alat/seni dan efektivitasnya diukur dari hasil nyata, apakah mampu menurunkan korban sipil, menghentikan agresi, dan membuka jalan menuju solusi cerdas negara yang adil.

*Penutup*

Eskalasi terbaru di Timur Tengah adalah peringatan semua pihak, bahwa perdamaian tidak cukup dibicarakan, namun harus diperjuangkan dengan konsistensi dan keberanian moral. Resiko perang dunia memang belum menjadi keniscayaan, tetapi sejarah mengajarkan bahwa konflik besar sering bermula dari kegagalan membaca tanda-tanda kecil.

Kini dunia menanti, apakah kekuatan global memilih jalan eskalasi, atau kembali ke meja perundingan dengan komitmen yang lebih tulus?

Bagi Indonesia, sejarah akan mencatat bukan soal siapa yang diajak bekerja sama tapi sejauh mana komitmen mewujudkan keadilan dan kemanusiaan tetap dijunjung tinggi dan dijaga ditengah pusaran geopolitik semakin keras bahkan perang.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Timur Tengah, Peran Indonesia di BoP, dan Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga?*

Trending Now