Ket Foto: Andreas Baha Luon dan Yohanes
Goe saat ditemui di Dusun Lewokurang,
Senin (2/2/2026). Dok. EB.
Lembata, NTT, detiksatu.com || Warga Dusun Lewokurang, Desa Nubahaeraka, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menangis haru setelah wilayah mereka akhirnya dialiri air bersih dari sumber mata air Wai Wu pada 23 Oktober 2025 lalu.
Selama bertahun-tahun, warga Dusun Lewokurang 32 kepala keluarga (KK) hanya mengandalkan bak pah untuk menampung air hujan sebagai kebutuhan memasak dan minum.
Ketika air hujan habis, mereka terpaksa membeli air seharga Rp25 ribu per drum yang didatangkan dari sumber air Wai Krata, masih berada di wilayah Desa Nubahaeraka.
Hal tersebut diungkapkan Andreas Baha Luon (70) dan Yohanes Goe (33), warga Dusun Lewokurang, kepada Detiksatu saat ditemui di Dusun Lewokurang, Senin (2/2/2026).
“Waktu itu, 23 Oktober 2025, sekitar jam tujuh malam, ketika air keluar, warga di sini menangis. Menangis terharu melihat air meluap hingga ke lorong-lorong dusun. Penderitaan yang kami alami selama ini hilang malam itu,” ungkap Andreas Baha.
Yohanes Goe menjelaskan, sebelumnya pemerintah telah beberapa kali membangun proyek air minum di Wai Wu untuk mengalirkan air ke Dusun Lewokurang. Namun, proyek tersebut sempat mengalami kendala dan PHK.
“Ini sudah yang ketiga kali dari pemerintah kabupaten, yang pertama dari APBN. Kemarin dulu kita pakai mesin Yanmar untuk mengalirkan air ke atas. Baru-baru ini dibantu pihak PLN melalui Yayasan Papha dengan gardu listrik, sehingga tinggal kontak saja,” jelas Goe.
Air Lancar
Masuknya air bersih ke Dusun Lewokurang secara resmi diresmikan oleh Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, pada Rabu (28/1/2026). Peresmian tersebut turut dihadiri Direktur Yayasan Papha Indonesia, Petrus Makarius Dolu.
Saat peresmian, air yang keluar dari keran tampak kecil. Menanggapi hal tersebut, Yohanes Goe menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kekeliruan teknis.
“Waktu itu warga keliru menyambung pipa. Bukan ke keran warga, tapi ke pipa induk, sementara mesin di sumber air sedang dimatikan. Jadi yang keluar saat peresmian itu hanya sisa air di pipa,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika aliran berasal langsung dari bak penampung, air mengalir dengan sangat lancar.
“Kalau dari bak itu, lancar. Karena bak penuh, tekanannya besar. Kalau mesin dihidupkan, satu jam air sudah meluap. Kapasitasnya sekitar 5–7 liter per detik,” tambah Goe, yang juga merupakan Kepala Dusun Lewokurang.
Dalam kesempatan itu, Andreas Baha Luon menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan Yayasan Papha Indonesia atas terwujudnya aliran air bersih ke kampung mereka.
"Keberhasilan air masuk ke kampung tidak semata-mata karena bantuan yayasan, tetapi juga semangat gotong royong warga. Waktu kita tarik selang dari Wai Wu ke kampung, laki-laki dan perempuan semua turun tangan. Itu divideokan Pak Paul Dolu,” tegas mantan Kepala Desa Nubahaeraka tersebut.
Selain itu, warga Dusun Lewokurang juga akan melakukan serah terima fasilitas MCK bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lembata kepada 25 kepala keluarga (KK).
Peran Yayasan Papha dan PLN Peduli
Secara terpisah, Direktur Yayasan Payung Perjuangan Humanis Indonesia (Papha Indonesia), Paulus Makarius Dolu, menjelaskan bahwa kebutuhan air bersih warga Lewokurang terungkap dalam kegiatan bersama masyarakat terdampak Program Pembangunan PLTP Atadei 10 MW di Desa Nubahaeraka.
Menurutnya, sumber air berada di Wai Wu, sementara material berupa bak, jaringan perpipaan, dan jaringan listrik sebenarnya sudah tersedia.
Dengan aspirasi itu, kata dia, yayasan berkolaborasi dengan pemerintah desa dan warga melakukan survei, perencanaan, dan bekerja bersama masyarakat.
"Pendanaan kegiatan ini berasal dari dana CSR PLN Peduli sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan,” kata Paulus kepada Detiksatu, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, kegiatan ini dilakukan dalam tema “Desa Berdaya Air Bersih” melalui koordinasi antara Yayasan Papha, warga, Pemerintah Desa Nubahaeraka, Pemerintah Kecamatan Atadei, Pemerintah Kabupaten Lembata, serta PLN Peduli.
"Spesial buat Lewokurang itu juga karena ada fasilitas dasar berupa bak dan jaringan perpipaan yang sudah melintasi lereng Dusun Lewokurang. Karena sumber air di wilayah Dusun Lewokurang yang direncanakan Pemda melayani enam desa di Atadei di mana Waiwejak sudah terjangkau sementara Lewokurang belum maka dibangunlah jaringan perpipaan k Lewokurang," ungkapnya.
Menurut politisi Partai Gerindra tersebut, tantangan dari aspek teknis terletak pada keberlanjutan pengelolaan oleh enam desa di Atadei, khususnya dalam pemeliharaan bak penampung, jaringan perpipaan, dan jaringan listrik.
Dari aspek lingkungan, diperlukan upaya pemeliharaan dan pelestarian hutan di sekitar mata air secara berkelanjutan oleh warga. Sementara dari aspek sosial, yang dibutuhkan adalah soliditas semua pihak serta kolaborasi yang terus-menerus dalam mengelola air agar dia tetap lancar.
Reporter: Emanuel Boli

