Alyne Maarif Akhirnya Buka Suara

Maret 15, 2026 | Maret 15, 2026 WIB Last Updated 2026-03-15T10:42:50Z
Jakarta, - detiksatu.com ||| Selama ini tidak banyak yang mengetahui bahwa Alyne Maarif, seorang penyanyi sekaligus ibu dari
artis cilik Niloufer Bahlwan, yang dikenal publik melalui perannya sebagai Agil dalam film Keluarga
Cemara 2 serta Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta, telah lama bercerai dan menjalani
kehidupan pasca perceraian di tengah konflik keluarga yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Di balik keputusan tersebut, terdapat perjalanan panjang yang diwarnai berbagai bentuk kekerasan
dalam rumah tangga, mulai dari kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik
yang pernah ia alami dalam relasi pernikahannya.
Sebelum perceraian benar-benar terjadi, Alyne telah dua kali mengajukan gugatan cerai ke
pengadilan. Namun setiap kali proses itu berjalan, relasi yang sarat manipulasi membuatnya
kembali ke dalam hubungan tersebut. Pola relasi yang tidak sehat ini berlangsung bertahun-tahun
hingga pada fase terakhir perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami.
Pada saat itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang memadai. Fokus
utamanya hanya satu: mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat. Ia percaya
bahwa setelah perceraian terjadi, konflik akan berhenti dan masing-masing pihak dapat menjalani
kehidupan secara terpisah dengan tenang.
Namun kenyataannya justru berbeda.
Pasca perceraian, konflik tidak benar-benar berhenti. Alyne berusaha menjalani hidup secara
normal tanpa memperpanjang pertikaian. Ia bahkan tetap membuka ruang komunikasi yang wajar
demi kepentingan anak-anak, termasuk tidak pernah melarang mantan suaminya untuk datang
atau bertemu dengan mereka.
Namun dalam praktiknya, pola kekerasan psikologis dan manipulasi masih terus terjadi. Tuduhan,
penyalahkan, serta gaslighting terus berulang tanpa adanya refleksi dari pihak yang bersangkutan.
Situasi ini akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk mengambil langkah tegas dengan
melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya.
Setelah batas tersebut dibuat, satu-satunya akses yang tersisa untuk masuk ke dalam
kehidupannya adalah melalui anak-anak. Dalam berbagai kesempatan Alyne melihat anak-anak
mulai berada di tengah dinamika konflik orang dewasa.
Perjalanan ini juga berdampak serius pada kondisi psikologis Alyne. Ia pernah mengalami depresi
dengan tingkat kecemasan yang sangat tinggi hingga akhirnya secara sadar mencari bantuan
profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis. Ironisnya, langkah tersebut justru digunakan
untuk menyerangnya secara personal melalui stigma, intimidasi, dan pelabelan yang tidak
berdasar.
Di tengah berbagai tuduhan dan fitnah yang berkembang, Alyne akhirnya memutuskan untuk
mencari perlindungan melalui lembaga yang berwenang. Ia datang ke LPAI untuk meminta bantuan
serta perlindungan bagi anak-anaknya.

Melalui proses asesmen yang dilakukan terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI kemudian
mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama
ibunya serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang
jelas.
Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.
Situasi inilah yang akhirnya membuat Alyne Maarif memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk
menciptakan konflik baru atau mencari perhatian publik, melainkan karena situasi yang dibiarkan
terlalu lama justru memberi ruang bagi tindakan yang sama untuk terus berulang tanpa
konsekuensi.
Selama ini Alyne dikenal memilih jalur yang tenang dan prosedural. Ia berusaha sekuat mungkin
untuk tidak ikut terseret ke dalam arus konflik terbuka di ruang publik. Sebagai seorang seniman,
Alyne lebih memilih menyalurkan emosi dan pengalamannya melalui karya.
Perasaan, refleksi, dan pergulatan batin yang ia alami selama bertahun-tahun dituangkan melalui
lagu, tulisan, buku, serta jurnal pribadi sebagai bentuk regulasi emosinya. Karya-karya tersebut
menjadi ruang aman baginya untuk memproses pengalaman tanpa harus memperkeruh situasi.
Salah satu bentuk ekspresi tersebut juga tercermin dalam album yang ia kerjakan, termasuk album
Narc, yang memuat berbagai refleksi emosional dan perjalanan batin yang ia alami selama
melewati masa-masa sulit tersebut.
Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari ada titik di mana ia tidak lagi bisa hanya diam dan
mengekspresikan semuanya melalui karya.
Alyne juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi psikologis anak-anak. Ia melihat
adanya fase pendekatan emosional yang sangat intens yang berpotensi diikuti pola manipulasi
yang sama seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
Sebagai seorang ibu, Alyne menegaskan bahwa ia tidak dapat tinggal diam melihat anak-anaknya
berpotensi masuk ke dalam siklus yang sama.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, Alyne mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta
pengamatan secara psikologis mengenai perubahan yang terjadi pada anak-anaknya. Meskipun ia
yakin telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kekhawatiran seorang ibu tetap tidak
dapat diabaikan.
Langkah untuk berbicara secara terbuka ini juga bukanlah langkah pertama yang ia tempuh.
Sebelumnya Alyne telah meminta pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk
LPAI dan UPTD PPA.
Bagi Alyne, ini adalah upaya terakhir untuk memastikan keselamatan emosional serta masa depan
anak-anaknya tetap terjaga.
Ia juga menegaskan bahwa apabila situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka
langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Alyne menyatakan kesiapannya untuk
menempuh proses hukum secara penuh, tidak hanya dalam ranah perdata tetapi juga pidana apabila diperlukan.
Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi
terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi
tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat.
Alyne berharap langkah ini dapat menjadi titik awal menuju penyelesaian yang lebih serius dan
bertanggung jawab dengan kepentingan terbaik anak sebagai prioritas utama.

(Nina)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Alyne Maarif Akhirnya Buka Suara

Trending Now