Kupang, detiksatu.com || Akademisi Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. Alfred O. M. Dima, M.Si., mengatakan besarnya potensi ekonomi yang tersimpan dalam limbah industri garam sekaligus mengingatkan ancaman perubahan iklim terhadap keberlanjutan produksi garam nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan kuliah lapangan mahasiswa Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Undana yang berlangsung di Pulau Madura, Jawa Timur, pada 28–30 Mei 2026.
Ia menuturkan, jutaan liter air sisa proses kristalisasi garam yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi sumber bahan baku berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.
“Kita melihat ada peluang besar untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam industri garam. Air sisa kristalisasi tidak semestinya hanya dibuang. Kandungan mineral di dalamnya masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi,” kata Alfred usai mengikuti kuliah lapangan mahasiswa Pascasarjana Universitas Nusa Cendana di Pulau Madura, Jawa Timur.
Alfred menjelaskan, cairan sisa produksi garam tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman isotonik berbasis mineral laut, pupuk cair organik, magnesium, bahan baku industri kimia, hingga berbagai produk inovatif lainnya.
“Bisa jadi nilai ekonomi produk turunannya justru lebih besar dibandingkan produk garam itu sendiri. Inilah yang perlu dikaji melalui riset-riset lingkungan dan industri yang terintegrasi,” ujarnya dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (9/6).
Selain persoalan limbah, Alfred juga menyinggung dampak perubahan iklim terhadap industri garam nasional. Ia berkata, produksi garam sangat bergantung pada intensitas sinar matahari dan rendahnya curah hujan.
Namun, kata dia, dalam beberapa tahun terakhir, pola musim semakin sulit diprediksi sehingga berpotensi mengganggu proses kristalisasi dan menurunkan produktivitas.
“Ke depan diperlukan teknologi tepat guna yang mampu menjaga proses kristalisasi tetap berlangsung optimal meskipun terjadi anomali cuaca. Adaptasi terhadap perubahan iklim bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi industri garam nasional,” tegasnya.
Untuk diketahui, sebanyak 12 mahasiswa bersama dua dosen pendamping, yakni Dr. Yulianus Paonganan, S.Si., M.Si., dan Dr. Ir. Alfred O. M. Dima, M.Si., mengunjungi kawasan produksi garam PT Garam Nasional Area Sumenep I serta Pabrik Garam Camplong di Kabupaten Sampang.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari secara langsung rantai produksi garam nasional, mulai dari proses pemompaan air laut hingga pengolahan garam konsumsi yang siap dipasarkan.
Dalam kunjungan ke kawasan pegaraman Sumenep I, rombongan diterima oleh General Manager Produksi Bahan Baku Area Sumenep I bersama jajaran staf perusahaan.
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai sistem produksi garam yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Air laut dipompa ke waduk-waduk produksi seluas sekitar 2.000 hektare dan memerlukan waktu hampir satu bulan untuk mencapai tingkat kepekatan tertentu sebelum dialirkan ke meja kristalisasi.
Selanjutnya, sekitar 500 hektare lahan digunakan sebagai area pembentukan kristal garam yang menjadi pusat produksi perusahaan.
Dalam satu musim produksi, kawasan tersebut mampu menghasilkan sekitar 65.000 ton garam bahan baku yang kemudian dipasok ke berbagai industri pengolahan garam di Indonesia.
Perjalanan akademik kemudian dilanjutkan ke Pabrik Garam Camplong, Kabupaten Sampang. Di lokasi tersebut, mahasiswa menyaksikan secara langsung proses hilirisasi garam, mulai dari penerimaan bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi.
Manajemen pabrik menjelaskan bahwa setiap batch produksi wajib melalui pengujian laboratorium secara berkala untuk memastikan kualitas produk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Parameter yang diuji meliputi kadar air, kandungan magnesium (Mg), dan kadar natrium klorida (NaCl).
Sementara itu, akademisi Pascasarjana Undana, Dr. Yulianus Paonganan, menegaskan bahwa garam tidak hanya dipandang sebagai bahan penyedap makanan, tetapi merupakan komoditas strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, industri, dan ketahanan pangan nasional.
“Selama ini belum banyak akademisi yang tertarik meneliti garam. Mungkin karena masyarakat memandang garam hanya sebagai penyedap rasa di dapur. Padahal garam memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi, kesehatan, industri, hingga ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Yulianus menuturkan bahwa pengelolaan garam dalam skala besar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ia mengutip ungkapan yang menurutnya sarat makna.
“Garam satu sendok terasa asin, tetapi kalau satu truk terasa manis. Artinya, ketika dikelola dalam skala besar, garam tidak lagi sekadar soal rasa, melainkan menjadi sumber kesejahteraan dan nilai ekonomi yang sangat besar,” katanya.
Menurut Yulianus, kunjungan tersebut membuka wawasan mahasiswa mengenai posisi garam sebagai bagian penting dari sistem industri nasional yang melibatkan aspek lingkungan, teknologi, ekonomi, dan kebijakan publik.
Ia juga menegaskan bahwa Universitas Nusa Cendana memiliki tanggung jawab akademik untuk menjadi motor pengembangan sektor garam di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebagai provinsi kepulauan dengan garis pantai sekitar 5.700 kilometer, NTT memiliki potensi sumber daya laut yang besar.
Potensi tersebut semakin relevan dengan adanya sejumlah proyek strategis nasional pengembangan kawasan garam yang tersebar di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Utara, dan Sumba Timur.
“Undana harus menjadi lokomotif pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dalam pengembangan garam di NTT. Potensi laut kita sangat besar, tetapi masih membutuhkan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi multipihak agar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan Undana, kuliah lapangan ini menjadi ruang pembelajaran untuk memahami kontribusi ilmu lingkungan dalam pembangunan sektor garam yang berkelanjutan.
Pengelolaan sumber daya laut, adaptasi perubahan iklim, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, hingga hilirisasi produk menjadi isu-isu yang membuka peluang penelitian baru bagi mahasiswa dan dosen.
Dari hamparan tambak garam Madura, lahir refleksi bahwa garam bukan sekadar kristal putih yang memberi rasa asin pada makanan.
Di baliknya tersimpan peluang ekonomi, inovasi teknologi, serta agenda pembangunan berkelanjutan yang dapat menjadi masa depan baru bagi wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur.
Madura memberi pelajaran penting bahwa selain menyediakan sumber daya, laut juga peluang inovasi tanpa batas. Tantangannya sekarang adalah bagaimana ilmu pengetahuan mampu mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan masyarakat.
Reporter: Emanuel Boli

