1. Petunjuk Allah Harus Menjadi Pedoman Pemimpin.*
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, pada QS Al-Baqarah 2:120:
تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120) .
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin, siapa pun dia harus menjadikan petunjuk Allah sebagai kompas moral dalam mengambil keputusan, bukan sekedar mengikuti tekanan atau kepentingan kekuatan politik dunia.
Namun para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini tidak serta-merta melarang hubungan politik atau diplomasi dengan non-Muslim.
Dalam sejarah Islam:
Perjanjian Hudaibiyah dibuat oleh Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy.
Nabi juga menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai raja non-Muslim pada masanya.
Islam tidak melarang hubungan politik atau diplomasi, selama prinsip iman dan keadilan tidak dikorbankan.*
Yang dilarang adalah: mengikuti akidah mereka, atau tunduk pada kezaliman yang merugikan kebenaran.*
2. Ketika Keputusan Politik Berhadapan dengan Prinsip
Firman Allah SWT juga menegaskan dalam QS Al-Ahzab 33:36:
وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36).
Makna ayat ini adalah bahwa nilai keadilan dan kebenaran harus tetap dijaga, bahkan ketika menghadapi tekanan politik global.
Bagi umat Islam, membela pihak yang tertindas adalah bagian dari amanah iman.
3. Tanggung Jawab Moral Pemimpin Muslim
Sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto memegang amanah besar, tidak hanya secara politik tetapi juga secara moral bagi rakyatnya.
Ketika Indonesia terlibat dalam forum internasional seperti Board of Peace yang dipimpin oleh Donald Trump, sebagian umat memandang langkah ini melalui perspektif keadilan global, terutama terkait sikap Amerika Serikat terhadap konflik Palestina.
Karena itu muncul kegelisahan moral di tengah masyarakat:
Apakah forum tersebut benar-benar menjadi sarana memperjuangkan perdamaian?
Ataukah berpotensi menimbulkan kesan kedekatan dengan kekuatan yang dinilai tidak adil terhadap Palestina?
Pertanyaan-pertanyaan ini lahir dari kepedulian umat terhadap keadilan, bukan semata-mata dari emosi politik.
4. Sikap Umat: Menasihati dengan Hikmah*
Rasulullah SAW, Muhammad, mengajarkan:
“Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa.”
Artinya umat memiliki tanggung jawab untuk:
menyampaikan nasehat dengan adab.
mengingatkan pemimpin agar tetap berada di jalan keadilan.
mendorong kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan.
Namun Islam juga menekankan bahwa kritik harus dilakukan dengan hikmah, kejujuran, dan tanpa merusak persatuan bangsa.*
5. Indonesia dan Amanah Sejarah*
Sejak awal kemerdekaan, Indonesia memiliki komitmen kuat terhadap kemerdekaan Palestina.
*Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah menegaskan:*
Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Karena itu rakyat Indonesia berharap kebijakan luar negeri bangsa ini selalu selaras dengan amanah sejarah tersebut.
Penutup Mutiara Hikmah
Kekuasaan adalah amanah yang berat. Seorang pemimpin tidak diingat karena kedekatannya dengan kekuatan dunia, tetapi karena keberaniannya berdiri di pihak keadilan.
Semoga Allah SWT membimbing para pemimpin negeri ini agar:*
menjaga prinsip kebenaran
mempertahankan martabat bangsa
dan tetap berpihak pada keadilan serta kemanusiaan.
Salam Juang, Jihad, dan Taqwa - BES (Brother Eggi Sudjana).

