Jakarta, Detiksatu.com ||| Selama bertahun-tahun, Alyne ma'arif memilih diam. Bukan karena tak mampu bersuara, melainkan karena ia masih berusaha menjaga keutuhan keluarga dan melindungi anak-anaknya dari konflik yang lebih besar. Namun, waktu justru membuktikan bahwa diam tidak selalu menyelesaikan masalah—bahkan sering kali memperpanjang luka.
Dalam pengakuannya, Alyne menggambarkan perjalanan rumah tangga yang penuh tekanan. Ia mengaku mengalami berbagai bentuk ketidakadilan, mulai dari dugaan kekerasan, manipulasi, hingga kontrol yang perlahan menjauhkannya dari lingkungan terdekat. Dalam kondisi itu, ia sempat kehilangan kepercayaan diri, bahkan meragukan realitas yang ia alami sendiri.
“Aku sempat bingung, ini semua nyata atau hanya perasaanku saja,” ungkapnya.
Situasi tersebut berdampak besar pada kesehatan mentalnya. Alien mengaku pernah mengalami depresi di tengah tanggung jawabnya sebagai ibu dari empat anak. Namun, kondisi itu justru berbalik digunakan untuk meragukan kapasitasnya sebagai seorang ibu.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah lalai dalam mengasuh anak-anaknya. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara pendidikan, aktivitas, dan kebutuhan emosional mereka. Tuduhan eksploitasi anak yang sempat diarahkan kepadanya pun ia bantah keras.
“Kalau aku mengeksploitasi anak, pasti mereka takut. Tapi kenyataannya tidak,” tegas Alyne.
Kini, setelah melalui berbagai proses, termasuk asesmen psikologis dan pengumpulan bukti, Alyne mulai menemukan kembali pijakan dirinya. Ia menyimpan berbagai catatan dan dokumentasi sebagai bentuk upaya membela diri, sekaligus melindungi masa depan anak-anaknya.
Kekhawatiran terbesar Alyne bukan lagi pada dirinya, melainkan pada dampak yang mungkin dialami anak-anaknya. Ia takut pola yang sama terulang—rasa takut, tekanan, hingga kebingungan dalam memahami mana yang benar dan salah.
“Aku tidak mau anak-anak menganggap hal yang tidak wajar itu jadi wajar,” katanya.
Keputusan untuk berbicara bukan hal mudah bagi Allyne. Ia sadar akan risiko, termasuk penilaian publik hingga kemungkinan tekanan yang lebih besar. Namun, baginya, ini adalah langkah yang harus diambil.
“Aku diam bukan karena lemah. Aku diam karena aku masih menghargai dia sebagai ayah dari anak-anak. Tapi kalau terus seperti ini, aku harus melawan,” ujarnya.
Kini, Alyne berdiri di titik yang berbeda. Bukan lagi sebagai sosok yang hanya bertahan, tetapi sebagai ibu yang berusaha memperjuangkan kebenaran—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anaknya.