Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik
Kekalahan telak Amerika atas Iran, bukan semata karena ketangguhan Iran. Akan tetapi, karena gobloknya Donald Trump. Pria gila ini, lebih mengikuti syahwat dan insting ngawurnya, ketimbang rasio dan kejernihan berfikir dalam menentukan kebijakan pertahanan.
Bayangkan, militer terkuat dunia (versi Global Firepower 2026), dengan anggaran pertahanan mencapai US$895 miliar (2025), tertinggi di dunia, bisa kalah dengan Iran yang kekuatan militernya hanya menempati peringkat ke-16 militer di dunia.
Kalau kita rinci, Kekuatan utama AS didukung oleh 1,33 juta personel aktif, 11 kapal induk, dan armada udara terbesar di dunia (sekitar 13.000+ pesawat).
Angkatan udara terbesar di dunia dengan 1.790+ pesawat tempur, 1.002+ helikopter serang, dan teknologi canggih seperti F-22 Raptor serta F-35 Lightning II.
Angkatan Laut AS juga terbesar di dunia berdasarkan tonase, mengoperasikan 11 kapal induk, 60+ kapal selam (termasuk nuklir), dan puluhan kapal perusak/kapal perang permukaan lainnya.
Adapun Angkatan Darat AS dilengkapi dengan setidaknya 5.500+ tank tempur utama (MBT), 300.000+ kendaraan lapis baja, serta sistem pertahanan canggih lainnya.
Namun, hanya untuk membuka selat Hormouz saja, militer AS tidak sanggup. Jalur perairan nadi ekonomi dan energi dunia ini, sebelumnya turut melayani kepentingan ekonomi Amerika.
Namun, pasca serangan ngawur AS pada 28 Februari 2026, selat Hormouz ditutup. Misi invasi militer AS yang sebelumnya diklaim untuk menghentikan program nuklir Iran, berubah untuk membuka selat Hormouz.
Seorang Senator AS sempat meledek Trump. "Anda berperang untuk membuka selat Hormouz, yang padahal sebelum Anda memulai perang selat itu terbuka untuk Amerika".
Ya, konyol. Perang yang menguras anggaran, sumber daya dan SDM Amerika ini dipandang konyol dan merugikan rakyat Amerika.
Dampak penutupan selat Hormouz, harga BBM di AS naik 200 %. Warga AS mengumpat Trump, bukan karena membantai rakyat Iran, tapi karena perang menyusahkan rakyat Amerika.
Andaikan, misi Trump di Iran sukses seperti di Venezuela, sukses merampok minyak Iran untuk Amerika seperti AS memindahkan minyak Venezuela untuk AS, pastilah rakyat Amerika bersorak sorai. Karena negara kampium demokrasi ini, hanya bicara dan protes saat kezaliman itu menimpa mereka.
Mereka tidak pernah protes atas kezaliman Amerika atas dunia Islam (Irak, Afghanistan, Suriah, Palestina, Sudan, dll). Mereka membiarkan pemerintahan Amerika terus menjajah untuk membiayai APBN, baik dengan pendekatan Soft Power maupun Hard Power.
Gaya kepemimpinan Partai Demokrat menggunakan penjajahan model Soft Power. Partai Republik, gaya Hard Power ala koboi, seperti yang dipraktikan oleh Donald Trump. Amerika adalah negara dengan ideologi kapitalisme yang menindas, dan demokrasi Amerika tegak diatas penindasan.
Jadi, hari ini Iran menang bukan hanya karena Iran tangguh. Tetapi karena kebodohan Donald Trump. Atau tepatnya, karena kegilaan Donald Trump.
Barisan orang gila dan bodoh, seperti Donald Trump yang terdaftar di file Eipstein dan Pete Hegseth, adalah dua orang gila dan bodoh yang menyebabkan militer Amerika jatuh dimata dunia. AS tidak lagi menjadi Adi Daya, tapi tak berdaya melawan Iran.
Rakyat Amerika marah pada Donald Trump dan Pete Hegseth, juga sejumlah pimpinan pemerintahan yang lebih mengedepankan ego ketimbang logika, lebih mengikuti kepentingan diri dan hawa nafsu daripada kepentingan rakyat Amerika. Akan tetapi, mereka jadi penguasa juga karena dipilih rakyat Amerika. Jadi, rasakan oleh kalian kerusakan atas pemimpin pilihan kalian !
Jika Indonesia rusak binasa karena menjadikan Jokowi sebagai Presiden, maka Amerika ancur ancuran karena rakyatnya memilih Donald Trump. Amerika jatuh karena kebodohan Trump. Dan ini, akan sangat sulit membangun dan bangkit kembali, untuk periode yang tidak bisa diraih dalam waktu cepat.
Pada akhirnya, kekuasaan dipergilirkan. Kendali Amerika atas dunia, telah berakhir karena kebodohan Trump.
Kini, dunia sedang melakukan kesetimbangan politik baru. Adidaya lama beranjak pergi, adidaya baru akan datang menggantikan.
Inikah, saat Khilafah tegak untuk menggantikan Amerika dan menjadi adidaya baru dunia? [].

