Penghianatan Rismon Sianipar: Ketika Air Susu Dibalas Dengan Tuba

Redaksi
April 23, 2026 | April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T22:19:01Z
Jakarta,detiksatu.com || Sejumlah video tayangan program Rakyat Bersuara (21/2), beredar di Sosial Media. Diantara video yang sempat penulis tonton, adalah tuduhan Rismon Sianipar terhadap AS yang kemudian disebut Abraham Samad. 

Rismon menuduh, penulis dan Abdul Ghafur Sangaji, melakukan perjuangan dan menyampaikan narasi pembelaan yang keras atas permintaan Abraham Samad. Rismon, merasa tidak pernah dimintai persetujuan.

Padahal, kami di tim diberikan kemandirian untuk menentukan pilihan statemen dan kebijakan untuk melakukan pembelaan. Rismon selaku klien, telah menandatangi Surat Kuasa yang memberikan legalitas bagi kami untuk melakukan pembelaan, sesuai dengan kepentingan hukum yang kami nilai terbaik.

Pak Abraham Samad, juga tak pernah meminta kami menyampaikan statemen tertentu dengan gaya tertentu. Gaya bahasa dan aksen penulis adalah khas karakter penulis. Begitu juga dengan Abdul Ghafur Sangaji.

Rismon Sianipar memang tak punya adab, tak punya etika, tak tahu balas Budi. Anak ini, sudah dibela puluhan advokat secara probono (gratis), tapi malah menyerang pengacara yang dulu membelanya.

Kalau dia menyerah, minta ampun ke Jokowi, demi SP-3, kami bisa maklum. Karena kami tahu, karakter asli Rismon Sianipar itu pengecut. Anak ini hanya mencoba terlihat garang di ruang publik, padahal sikap batinnya pengecut. Beberapa kali anak ini kedapatan menangis, karena tak kuat menghadapi ujian perjuangan melawan Jokowi.

Karena misi perjuangan, kami coba terus bina dan kuatkan. Kami berikan support, agar dia kuat dan sampai pada ujung perjuangan.

Namun, guncangan pengkhianatan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang berkunjung ke Solo, membuatnya galau. Benteng pertahanannya yang rapuh, mulai runtuh. 

Dia tak menyangka, Eggi Sudjana yang ketua TPUA, yang dulu garang menyebut JOKOWI munafik dan berijazah palsu, juga Damai Hari Lubis yang dianggap sudah sebagai 'Tulang' baginya, ternyata berkhianat meninggalkan dirinya.

Disisi lain, dia makin tersudut saat tim Jokowi melaporkan dugaan ijazah palsu miliknya dari universitas Yamaghuci Jepang. Akhirnya, dia mengambil pilihan menyerah, minta ampun pada Jokowi demi mendapatkan SP-3 dan berharap kasus pemalsuan gelar 'Doktor' dan 'Eng' miliknya tidak dilanjutkan. Belum lagi, surat kematian dirinya.

Sebagai manusia, kami bisa maklum saat Rismon Sianipar mengambil pilihan menyerah dan berdamai dengan Jokowi. Tapi, begitu Rismon menyerang tim kami, ini yang tidak bisa didiamkan. Air susu dibalas air tuba. Anak satu ini, tidak bisa didiamkan.

Dengan Jokowi saja, kami siap berkonfrontasi. Apalagi hanya dengan seorang Rismon Sianipar, ahli abal-abal, ijazah palsu, hingga zombie yang masih berkeliaran di dunia manusia.

Ya, karena dia membuat surat keterangan kematian dengan motif menghindari denda beasiswa Yamaguchi. Berarti, saat ini yang tampil di sejumlah media bukanlah Rismon Sianipar yang hidup normal, melainkan mayat hidup atau zombie.

Penulis memahami kekecewaan dan kemarahan anggota tim kami. Karena mereka telah berjuang, berkorban waktu, tenaga dan uang, bahkan ikut menanggung potensi resiko perjuangan. Tapi itu semua dikhianati oleh Rismon Sianipar.

Penulis harus menuliskan ini, agar seluruh rakyat tahu, bahwa dalam perjuangan itu biasa ada pengkhianat. Namun, kita tak boleh berhenti berjuang karena ada pengkhianatan.

Dan pesan paling tegas adalah jangan beri ruang sedikitpun bagi para pengkhianat. Jangan berikan ampun apalagi menormalisasi pengkhianatan. Kita jadikan pelajaran berbangsa, agar kejadian hari ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. [].
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Penghianatan Rismon Sianipar: Ketika Air Susu Dibalas Dengan Tuba

Trending Now