Jakarta,detiksatu.com || Kehadiran Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis (DHL) di Solo (8/1/2026),lalu bukan untuk minta maaf kepada Jokowi, dan bukan untuk mengakui ijazah Jokowi asli. Saya tidak pernah bilang ijazah Jokowi asli, tegas eggi Sudjana kepada wartawan (22/5/26)
Advokat senior sekaligus aktivis Eggi Sudjana meluapkan kekesalan setelah dirinya dituding “dibeli untuk jadi pengkhianat” dan dilecehkan dengan sebutan “tuyul” oleh Ahmad Khozinudin dan Roy Suryo.
Eggi menilai tuduhan tersebut bukan sekadar kritik, melainkan fitnah yang merendahkan kehormatannya sebagai advokat.
Dalam podcast YouTube Forum Keadilan TV bersama host Margi Syarif, akhir pekan lalu, Eggi menegaskan bahwa istilah “dibeli Jokowi” adalah tuduhan serius tanpa bukti.
Dia pakai istilah membeli. Saya boleh dong tanya, dibeli berapa? Mana transaksinya? Kalau tidak sesuai fakta, itu namanya fitnah. Sakit hati saya,” ujarnya.
Kekesalan Eggi semakin memuncak ketika Roy Suryo menyebut dirinya “tuyul”. Menurutnya, istilah itu bukan satire, melainkan penghinaan langsung di tengah kasus hukum yang sedang ia hadapi.
Ruang publik dipenuhi berbagai spekulasi dan opini yang berkembang sangat cepat. Sayangnya, sebagian opini tersebut bernada negatif dan berpotensi merugikan pihak yang bersangkutan.dan juga di penuhi dengan fitnah, kata Eggi
Sebagai orang yang diberikan informasi (via phone) secara langsung oleh BES pada beberapa peristiwa strategis pasca munculnya berita tersebut, dapat memahami keadaannya pasca BES di Solo.
Namun demikian, saya memahami dengan sadar bahwa tidak semua informasi patut disampaikan ke ruang publik. Ada etika, tanggung jawab moral, dan batas kewenangan yang harus dijaga, terlebih dalam situasi yang sensitif dan mudah dipelintir oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab ujarnya ";
Sikap ini saya ambil bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena kehati-hatian dan penghormatan terhadap kebenaran yang utuh serta berbagai hal yang sedang berproses soal polemik ijazah Jokowi,
Fakta penting yang perlu ditegaskan adalah bahwa hingga saat ini, berbagai opini yang berkembang baik dari pihak yang mengklaim sebagai oposisi maupun pihak pro-Jokowi, belum disertai bukti faktual yang dapat diverifikasi.
Tidak ada dokumentasi berupa foto maupun video, yang menunjukkan bahwa, Eggi Sudjana meminta maaf kepada mantan Presiden Joko Widodo terkait isu ijazah, atau Eggi Sudjana berpelukan dengan mantam Presiden Jokowi yang menegaskan sebagai tanda perdamaian dan pengakuan atas keaslian ijazah mantan Presiden.ken7
Lebih jauh, media, televisi nasional yang memberitakan hal tersebut juga belum menyajikan bukti visual maupun pernyataan resmi yang menguatkan narasi tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan terbuka dari Presiden Joko Widodo yang menyatakan telah bertemu dengan Eggi Sudjana menerima permintaan maaf, atau memberikan penegasan bahwa peristiwa tersebut benar terjadi sebagaimana yang terjadi.
Dalam konteks demokrasi dan kebebasan berekspresi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Namun, kebebasan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab.
Jangan sebarkan informasi tanpa fakta akhirnya berpotensi menyesatkan, membangun persepsi keliru, dan menciptakan kegaduhan yang sesungguhnya terhadap publik.
Oleh Karena itu, mari kita bersikap lebih bijak dan cerdas dalam menyikapi setiap informasi membaca berita secara utuh, memeriksa sumber, serta membedakan antara fakta, opini, dan asumsi adalah bagian dari kedewasaan publik yang sangat dibutuhkan saat ini.tegasnya.
Masih terdapat sejumlah hal lain terkait peristiwa pasca viralnya kabar Eggi Sudjana datang ke rumah mantan Presiden Jokowi di Solo” yang belum pada kapasitas saya untuk menyampaikan. Pada waktunya nanti akan dijelaskan secara langsung, terbuka, dan apa adanya oleh Eggi Sudjana dan Jokowi sendiri kepada publik.
Demikian catatan ini saya sampaikan sebagai ajakan untuk menjaga nalar sehat, etika informasi, dan ketenangan berpikir di tengah derasnya arus opini, fokus Pemerintahan Presiden Prabowo jalankan program pemgunan, mengentasan kemiskinan, penanganan bencana alam diberbagai wilayah Nusantara.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar