CIANJUR, DETIKSATU.COM || Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur didatangi massa aksi, Rabu (30/04/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM PTNU tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga membawa sampah hingga menumpuknya di depan pintu gerbang kantor dinas sebagai bentuk protes atas buruknya pengelolaan kebersihan di daerah tersebut.
Aksi ini menyoroti kegagalan manajemen persampahan yang dinilai semakin memprihatinkan, terutama saat musim hujan dimana sampah berserakan di berbagai titik vital.
Kepala Dinas Absen, Jawaban Dinilai Bingung dan Tidak Jelas
Koordinator aksi, Sahrul Ramadan, menegaskan bahwa pihaknya kecewa berat karena audiensi yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Salah satu sorotan utama adalah ketidakhadiran Kepala Dinas Lingkungan Hidup padahal pemberitahuan aksi sudah dilakukan sejak H-3 sesuai prosedur.
"Kita sangat kecewa, Kepala Dinas tidak bisa hadir. Sementara penjelasan dari jajaran di bawahnya justru terlihat bingung dan tidak bisa menjawab secara gamblang terkait data yang kami minta," ujar Sahrul kepada wartawan
Mahasiswa menyoroti ketidakjelasan data mengenai titik pembuangan sampah resmi (TPS/TPA) yang ada di Cianjur. Pihak DLH dinilai tidak mampu memberikan angka pasti berapa banyak titik pembuangan yang beroperasi secara legal dan resmi.
Yang lebih memprihatinkan, berdasarkan keterangan yang diterima, wilayah Cianjur Selatan disebut-sebut tidak memiliki titik pembuangan sampah resmi sama sekali. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, ke mana warga dan armada pengangkut membuang sampah selama ini?
"Dari penjelasan Sekdis, di Cianjur Selatan tidak ada titik resmi pembuangan. Ditambah lagi, saat ditanya apakah ada armada pengangkut khusus dari Selatan ke Kota, jawabannya juga tidak ada. Ini membuktikan bahwa Cianjur saat ini benar-benar dalam kondisi darurat sampah," tegas Sahrul.
Dalam orasinya, massa juga menyoroti kondisi memalukan yang terjadi tepat di depan kompleks Pemerintah Daerah (Pemda). Area yang seharusnya menjadi ikon dan wajah kebanggaan Kabupaten Cianjur justru dipenuhi tumpukan sampah yang berserakan.
"Kami soroti depan Pemda karena itu akan menjadi ikon kota. Sangat disayangkan ketika tamu atau pejabat dari luar datang, yang dilihat pertama kali adalah sampah. Apalagi Cianjur dikenal dengan IPM yang rendah, jangan sampai citanya makin buruk karena kotanya terlihat kumuh dan kotor," tuding Sahrul.
Selain itu mereka menuntut adanya penyediaan fasilitas dasar seperti tong sampah dan kepastian lokasi pembuangan yang layak dan memadai di seluruh wilayah.
Audiensi hari ini dinilai jalan di tempat. Karena tidak ada jawaban pasti dan solusi konkrit, mahasiswa memberikan ultimatum.
"Kalau tidak ada tanggapan serius dan perbaikan, kami akan datang kembali dengan massa yang jauh lebih banyak. Tuntutan utama kami adalah evaluasi total terhadap kinerja DLH dan evaluasi internal organisasi dinas ini," ancamnya.
Sementara itu, Kabid PSLB3 DLH Cianjur, Prihadi Wahyu Santoso, saat dikonfirmasi hanya menyebutkan bahwa aspirasi tersebut akan ditindaklanjuti dan disampaikan ke pimpinan.
"Ini masukan yang baik. Nanti akan kami sampaikan sebagian karena belum semua disampaikan. Fokus kami sekarang masih mendiskusikan pola yang bagus seperti apa agar hasilnya maksimal," ujar Prihadi singkat.
Jawaban ini semakin memperkuat anggapan bahwa dinas terkait belum memiliki formula pasti untuk mengatasi masalah sampah yang sudah menggunung dan menjadi sorotan publik tersebut.
Red

