Naik Haji Tak Sekadar ‘Kesan’, Tapi Perwujudan ‘Pesan’ dalam Perjuangan.

Redaksi
Mei 02, 2026 | Mei 02, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T10:15:37Z
Bogor,detiksatu.com || Hampir semua cerita tentang ibadah haji sering kali berkutat pada “kesan”, bukan “pesan”. Percakapan para jamaah sepulang dari Makkah umumnya dipenuhi kisah euforia spiritual: suasana di Makkah dan Madinah, pengalaman ruhani yang menguras air mata, mulai dari miqat, ihram, talbiyah, tawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina, tahallul, penyembelihan hewan kurban, dan diakhiri dengan tawaf ifadah.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Madinah untuk berziarah ke Masjid Nabawi dan Raudhah, serta mengunjungi makam Nabi SAW, Baqi, Badar, Uhud, dan berbagai situs sejarah lainnya. Semua pengalaman itu menjadi oase spiritual yang indah, memukau, dan sering kali tak terwakili oleh kata-kata. Ungkapan yang keluar pun biasanya hanya berkisar pada kalimat tasbih dan tahmid: Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar.

Pengalaman spiritual ini juga kerap menjadi daya tarik utama dalam promosi perjalanan umrah dan haji, yang kini berkembang menjadi industri wisata ruhani. Hal ini tentu sah dan halal secara bisnis, apalagi memudahkan umat untuk beribadah ke Baitullah. Namun, ada catatan penting: selain ONH (ongkos naik haji), yang jauh lebih utama adalah INH (ilmu naik haji).


Pertanyaannya, cukupkah hanya “kesan” yang didapat dari ibadah haji? Bagaimana dengan “pesan”, bahkan lebih jauh lagi, bagaimana dengan perwujudan pesan tersebut dalam kehidupan? Pesan yang dimaksud adalah spirit perjuangan Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS dalam menegakkan tauhid.


Penulis teringat pengalaman saat kuliah di IAIN Jakarta (1991, kini UIN), ketika melakukan penelitian sejarah di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Pada masa penjajahan Belanda, pulau ini menjadi tempat karantina jamaah haji Nusantara sepulang dari Makkah. Selain pemeriksaan kesehatan, jamaah juga diinterogasi untuk mendeteksi pengaruh pemikiran revolusioner yang berkembang di Jazirah Arab saat itu.

Pemikiran tokoh-tokoh seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Hasan Al-Banna menyuarakan semangat pembebasan dan kemerdekaan bangsa-bangsa Muslim, serta seruan jihad melawan penjajah. Jamaah haji yang dianggap terpengaruh bisa ditahan berbulan-bulan, bahkan ada yang dieksekusi. Untuk memudahkan pengawasan, mereka diberi gelar “haji” yang disimbolkan dengan peci putih.

Tak heran jika banyak perlawanan terhadap kolonial Belanda dipimpin oleh para haji. Di antaranya KH Arsyad Thawil Al-Bantani dalam pemberontakan petani Banten 1888, H Wasid, H Haris, dan H Tubagus Ismail. Di Bogor ada Mama Falak Pagentongan, KH Abdullah bin Nuh, dan KH Sholeh Iskandar. Di Bekasi ada KH Nur Ali. Di Tasikmalaya, KH Zainal Musthofa memimpin perlawanan heroik terhadap Jepang dan Belanda. Bahkan tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, guru Soekarno, juga bergelar haji.


Mengapa para haji menjadi ujung tombak perlawanan? Salah satunya karena kesadaran iman yang kuat, sebagaimana ungkapan: “Hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Selain itu, pengalaman haji yang dilandasi pemahaman utuh tentang perjuangan Nabi Ibrahim AS membentuk kesadaran tauhid yang menolak segala bentuk kesyirikan dan kezaliman.


Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…” (QS. Al-Mumtahanah: 4).


Secara umum, pesan-pesan ibadah haji yang seharusnya terinternalisasi dalam diri setiap muslim antara lain membangun peradaban tauhid dan menolak segala bentuk penyimpangan, berjuang tanpa lelah seperti Siti Hajar dalam sa’i, terus bergerak mendekat kepada Allah sebagaimana makna tawaf, serta memperkuat ukhuwah umat melalui wukuf di Arafah yang menyatukan manusia tanpa sekat ras, suku, atau status sosial.

Selain itu, ibadah haji juga mengajarkan untuk melawan godaan setan yang disimbolkan dengan lempar jumrah, membersihkan pola pikir dari penyimpangan melalui tahallul, serta menanamkan semangat pengorbanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ismail AS.

Jika pesan-pesan ini benar-benar dipahami, maka haji akan menjadi kekuatan spiritual untuk menegakkan kebenaran, melawan kezaliman, dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsu dan setan.


Semangat inilah yang dahulu membuat Belanda takut terhadap jamaah haji Nusantara. Namun, bagaimana dengan kondisi saat ini? Apakah negara-negara penjajah yang menindas seperti Amerika Serikat dan Israel yang jelas-jelas zalim dengan membantai kaum Muslimin merasa gentar terhadap jutaan umat Islam yang berhaji setiap tahun? 

Faktanya, kezaliman justru semakin menjadi, mereka makin beringas, kasar, menjadi-jadi dalam melakukan genosida terhadap muslimin di Gaza, Palestina. Hal ini mengingatkan pada peringatan Nabi SAW bahwa umat Islam di akhir zaman akan seperti buih di lautan—banyak jumlahnya, tetapi lemah.


Dikisahkan pula dalam mimpi Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar, bahwa pada suatu musim haji hampir tidak ada ibadah haji yang diterima, kecuali milik seorang tukang sepatu di Damaskus yang bahkan tidak berangkat haji. Ia menghabiskan hartanya untuk membantu seorang janda dan anak-anak yatim yang kelaparan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa esensi ibadah bukan hanya pada ritual, tetapi pada keikhlasan, pengorbanan, dan keberpihakan kepada sesama.

Meski demikian, kita tetap berhusnuzan kepada Allah SWT. Semoga para jamaah haji memahami hakikat ibadah haji secara utuh dan menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakatnya masing-masing. Wallahu a’lam.

Sumber:Iyus Khaerunnas Malik
Pengasuh Pondok Bumi Tafakur Bogor

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Naik Haji Tak Sekadar ‘Kesan’, Tapi Perwujudan ‘Pesan’ dalam Perjuangan.

Trending Now