Ayat di atas menegaskan urgensi tazkiyatun nafs (menyucikan hati dan membersihkan jiwa) melalui ketaatan sejati dan menjauhi sifat-sifat buruk, untuk mencapai spiritualitas hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.
Asbabun nuzul kedua ayat di atas dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (Juz 4:438) dan Imam Muslim (No. Hadis 2650). Diriwayatkan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keberuntungan dan kerugian seseorang di akhirat kelak? Apakah sesuai takdir Allah sebelum ia lahir ke dunia, atau karena melaksanakan syariat yang engkau bawa?”
Rasulullah saw menjawab, “Sesuai takdir sebelum dia lahir ke dunia.”
Untuk mencapai kesucian hati dan kebersihan jiwa, seseorang harus melalui beberapa tahapan. Ada tiga tahapan dalam menyucikan hati dan membesarkan jiwa, yaitu: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.
1. Takhalli
Artinya membersihkan diri dari dosa dan berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, ria, sombong, dan lainnya.
2. Tahalli
Artinya menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji melalui amalan ketaatan, baik yang wajib maupun sunnah.
Pelaksanaannya dilakukan melalui dua hal utama:
Sahabat itu bertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan amal-amalan di dunia yang dilaksanakan sesuai syariat yang engkau bawa, ya Rasulullah?”
Rasulullah saw menjawab, “Dalam Islam, Allah Swt telah memberikan dua pilihan: maksiat (fujur) atau taat (taqwa).”
Kemudian turunlah ayat 9-10 Surat Asy-Syams yang menjelaskan
Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya.” (Ibnu Katsir, Juz 4:517).
Makna “menyucikan hati dan membersihkan jiwa”, menurut Imam Qatadah, adalah bahwa seorang hamba wajib menaati aturan Allah Swt dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Menurut Imam Mujahid dari Sa’id bin Jubair, ayat 9-10 Surat Asy-Syams memiliki makna yang sama dengan firman Allah dalam Surat Al-A’la ayat 14-15.
Dari penjelasan ayat-ayat tersebut, kita diperintahkan membersihkan hati dari raan (noda hitam), seperti syirik, khurafat, tahayul, dan berbagai bentuk bid’ah. Jiwa juga harus dibersihkan dari sifat-sifat tercela seperti sombong, riya, sum’ah, ujub, kikir, dan penyakit hati lainnya. Setelah itu, jiwa dan raga dihiasi dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia.
Ayat 9-10 Surat Asy-Syams menggunakan kata qad (sesungguhnya), yang menegaskan bahwa hasil akhir kehidupan sangat ditentukan oleh usaha menjaga kesucian hati dan kebersihan jiwa agar menjadi qalbun salim (hati yang bersih dan selamat).
Hati yang bersih (qalbun salim) akan menghasilkan iman yang kuat dan amal saleh yang istiqamah. Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan kekerasan hati dan akhlak buruk.
a. Muhasabah
Yaitu evaluasi diri dan introspeksi perilaku, misalnya dengan menuntut ilmu dan memahami agama Islam secara benar agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil
b. Amal Saleh
Yaitu menjalankan syariat Islam seberat apa pun dan menjauhi larangan-Nya sekecil apa pun, termasuk meninggalkan rasa malas dan berbagai sifat tercela lainnya.
Sebagai muslim muttaqin dan mukmin muwahhid (yang mentauhidkan Allah Swt), kita wajib menyucikan hati dan membersihkan jiwa dari penyakit batin serta pengaruh hawa nafsu yang merusak iman dan ibadah, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Urgensi belajar menyucikan hati dan membersihkan jiwa adalah agar kita terbebas dari belenggu penyakit hati dan kotoran jiwa, seperti ambisi berlebihan terhadap dunia. Semua itu harus dikikis habis dari lubuk hati agar hati dan jiwa kita senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah saw.
Adapun kitab-kitab yang membahas penyucian hati dan pembersihan jiwa yang penting dipelajari antara lain karya para ulama salafushalih seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali, Ibnul Qayyim, dan Abu Hamid Al-Ghazali.
Menyucikan jiwa bukan hanya soal perilaku lahiriah, tetapi lebih fokus pada perbaikan batiniah. Karena secara substansial, bahagia atau celakanya seorang hamba sangat ditentukan oleh bagaimana ia menyikapi syariat Islam secara kaffah dan menjalankan ajaran tasawuf secara serius dan tuntas.
Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw:
Seorang perempuan masuk neraka karena memenjarakan seekor kucing tanpa memberinya makan. Sebaliknya, seorang laki-laki yang bergelimang maksiat selama 70 tahun masuk surga karena menolong seekor anjing yang kehausan lalu memberinya minum.
Untuk menjaga hati tetap suci dan jiwa tetap thuma’ninah, ada doa yang senantiasa dibaca Rasulullah SAW dan sangat baik diamalkan:
اللهم إني أعوذ بك من العجز والكسل والهرم والجبن والبخل وعذاب القبر، اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها، اللهم إني أعوذ بك من قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع، وعلم لا ينفع، ودعوة لا يستجاب لها
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut, sifat bakhil, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah ia, Engkau sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau pelindung dan penguasanya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, ilmu yang tidak bermanfaat, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam, 4:371).
Bagi kaum muslimin yang belum yakin bahwa rahmat dan ampunan Allah Swt sangat luas bagi hamba yang bertaubat, menyucikan hati, dan membersihkan jiwa, maka ingatlah firman-Nya:
رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَاتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ
“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, serta peliharalah mereka dari azab neraka.” (QS. Ghafir: 40:7).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar