Global Fatty Liver Day 2026: Kemenkes dan Novo Nordisk Ajak Masyarakat Deteksi Dini Perlemakan Hati

Redaksi
Kamis, 11 Juni 2026 | Kamis, Juni 11, 2026 WIB Last Updated 2026-06-11T14:26:46Z
Jakarta, Detiksatu.com || Dalam rangka memperingati Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama mengajak masyarakat untuk segera melakukan deteksi dini penyakit perlemakan hati (fatty liver disease) serta mengelola faktor risiko utamanya, terutama obesitas.

Tahun ini, Global Fatty Liver Day mengusung tema "Act Now", sebuah seruan global untuk mendorong masyarakat mengambil tindakan nyata dalam mengenali, mendiagnosis, dan menangani penyakit perlemakan hati sejak dini. Penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga sering tidak terdeteksi hingga memasuki fase yang lebih serius.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan perlemakan hati menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena berkaitan erat dengan meningkatnya angka obesitas di Indonesia.

"Fatty liver sering berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utamanya adalah obesitas yang kini menjadi tantangan kesehatan serius. Kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap faktor risiko yang dimiliki dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati. Act now sebelum kondisi berkembang lebih jauh," ujarnya dalam diskusi edukatif Global Fatty Liver Day 2026, Kamis (11/6).

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen, sementara obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 36,8 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena obesitas merupakan salah satu faktor utama yang dapat memicu penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM, Rino Alvani Gani, menjelaskan bahwa MASLD merupakan spektrum penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi lebih berat, yaitu Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis (MASH) yang disertai peradangan dan kerusakan sel hati.

"Jika faktor risiko tidak dikelola dengan baik, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. Selain itu, penyakit kardiovaskular juga menjadi penyebab utama kematian pada pasien dengan MASLD," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa individu dengan obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal perlu melakukan penilaian risiko dan pemeriksaan kesehatan hati secara berkala.

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes FKUI-RSCM, Dicky Levenus Tahapary, menekankan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif.

"Obesitas bukan sekadar persoalan kemauan. Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati dan jantung. Tujuan terapi bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kesehatan metabolik secara menyeluruh," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung penanganan obesitas melalui edukasi dan inovasi terapi berbasis GLP-1 RA untuk manajemen berat badan.

"Melalui edukasi dan inovasi terapi, kami berharap semakin banyak masyarakat memahami risiko obesitas, termasuk kaitannya dengan penyakit perlemakan hati, serta terdorong untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," ujarnya.


Melalui momentum Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan dan Novo Nordisk Indonesia berharap kesadaran masyarakat terhadap hubungan antara obesitas, gangguan metabolik, dan penyakit perlemakan hati semakin meningkat. 

Dengan deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko yang tepat, risiko komplikasi serius dapat ditekan sehingga kualitas hidup masyarakat dapat terjaga dalam jangka panjang.
(Nina)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Global Fatty Liver Day 2026: Kemenkes dan Novo Nordisk Ajak Masyarakat Deteksi Dini Perlemakan Hati

Trending Now

Iklan