Kota-kota baru tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi pusat kedudukan lembaga pemerintahan mereka di negeri-negeri taklukan tersebut. Saat mulai merancang pembangunan kota tersebut, fokus utama mereka adalah mengupayakan agar kota-kota generasi awal dibangun secara sederhana dalam penggunaan material bangunannya.
Kebijakan efisiensi material ini sengaja diterapkan demi menghemat alokasi anggaran dana yang diprioritaskan untuk keperluan logistik perang dan ekspansi perluasan wilayah. Selain itu, kota-kota ini harus didirikan di titik lokasi geografis yang memudahkan jalur komunikasi langsung dengan pusat kekhalifahan di Madinah Al-Munawwarah.
Para panglima perang dituntut jeli dalam memilih lokasi geografis yang paling ideal bagi kawasan perkotaan tersebut. Mereka harus mempertimbangkan aspek iklim cuaca, ketersediaan sumber air bersih, jaminan sarana penunjang kehidupan, serta kemudahan akses jalur transportasi.
Para perancang tata kota selalu memastikan bahwa pusat pemerintahan, gedung emirat, masjid, dan kantor dinas administrasi berada tepat di jantung kota. Penempatan strategis ini bertujuan mempermudah masyarakat mengakses lokasi perkantoran tersebut dari segala penjuru arah.
Dengan demikian, warga kota dapat menunaikan kewajiban ibadah agama sekaligus mengurus berbagai keperluan birokrasi kedinasan mereka dengan efisien. Di samping itu, para arsitek juga menaruh perhatian besar pada penyediaan fasilitas hiburan dan rekreasi bagi penduduk setempat.
Mereka memperindah area alun-alun publik dengan menanam pepohonan rindang, membuat kolam air, taman kota, lapangan olahraga, hingga tempat peristirahatan. Jika situasi keamanan dinilai mendesak, mereka akan membangun benteng tembok pertahanan dan parit pelindung di sekeliling wilayah perkotaan.
Fasilitas defensif ini berfungsi menghalau serangan luar saat berkecamuk perang demi melindungi keselamatan jemaah warga kota. Hal ini juga menjamin ketersediaan logistik dan kenyamanan hidup penduduk agar tetap bertahan di dalam kota saat menghadapi blokade pengepungan musuh.
Para sejarawan mencatat bahwa seluruh cetak biru perencanaan tata kota baru bisa dieksekusi setelah melalui proses studi kelayakan yang sangat komprehensif. Sketsa rancangan tersebut digambar secara detail di atas media kertas, lembaran kulit hewan, ataupun bentangan kain.
Proses perancangan ini juga dilengkapi dengan pembuatan maket bangunan tiga dimensi sebagaimana jamak dilakukan oleh para arsitek modern pada masa sekarang. Para insinyur muslim kala itu sudah menyadari betul urgensi pembuatan sebuah jalan protokol berukuran besar di setiap pusat kota.
Jalan utama yang megah ini nantinya akan menjadi poros yang terhubung langsung dengan jaringan jalan-jalan sekunder di bagian lateralnya. Tepat di bagian tengah jalan protokol ini, dibangun sebuah alun-alun luas yang menampung bangunan masjid agung kota dan gedung emirat.
Kota Basrah
Basrah merupakan kota perdana yang didirikan oleh kaum muslimin pascapembebasan wilayah Irak pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab tahun 16 Hijriah atau 635 Masehi. Mereka memilih lokasi di sisi barat Sungai Eufrat agar tidak ada hambatan bentang air yang memisahkan kota ini dengan Madinah Al-Munawwarah selaku ibu kota utama.
Secara arsitektural, Kota Basrah dibangun dengan pola tata ruang berbentuk persegi panjang yang simetris. Jalan protokol utamanya dirancang memiliki lebar enam puluh hasta, sedangkan untuk lebar setiap jalur gang sekunder ditetapkan berukuran tujuh hasta.
Kawasan pasar sengaja dibangun berdekatan dengan area masjid agung untuk mempermudah masyarakat dalam berinteraksi langsung dengan jajaran gubernur. Penempatan ini juga mempermudah jemaah dalam menunaikan ibadah salat sekaligus menyetorkan kewajiban pajak ke kas Baitulmal. Pada masa berikutnya, kota ini ditetapkan sebagai pusat administrasi pemerintahan selama era dinasti Bani Umayyah.
Kota Fusthat
Setelah Amru bin Ash berhasil menyelesaikan misi pembebasan Mesir dan mengusir pasukan Romawi dari sana, beliau mendirikan barak militer bagi pasukannya pada tahun 21 Hijriah atau 642 Masehi. Kawasan militer ini dinamai Fusthat dan tercatat sebagai kota ketiga yang dibangun kaum muslimin setelah Basrah dan Kufah.
Masyarakat segera berbondong-bondong datang untuk mendirikan bangunan rumah tinggal dan memakmurkan banyak masjid di kawasan baru tersebut. Tidak butuh waktu lama sejak awal perencanaannya, Fusthat menjelma menjadi kota dengan kualitas arsitektur bangunan yang sangat indah.
Amru bin Ash meletakkan batu pertama pembangunan masjid perdana di kota tersebut dan melaksanakan salat berjemaah di dalamnya. Beliau kemudian menjadikan bangunan rumah tinggalnya yang berada dekat masjid sebagai gedung pusat emirat.
Kota Kairouan
Pada tahun 661 Masehi, Khalifah Umar bin Khattab mengutus panglima militer Uqbah bin Nafi untuk menjalankan ekspansi pembebasan di wilayah Afrika Utara atau Tunisia. Pascapetikan kemenangan tersebut, Uqbah mendirikan sebuah kota baru tepat di tengah kawasan gurun pasir yang dinamai Kairouan.
Kota ini difungsikan sebagai pangkalan militer pertahanan bagi jajaran pasukan ekspedisi Islam pada tahun 50 Hijriah atau 670 Masehi. Kairouan dirancang memiliki empat belas gerbang utama sebagai akses keluar masuk kota yang dijaga ketat.
Kawasan pasarnya membentang di sepanjang jalur utama yang menghubungkan area masjid jami dengan gerbang Babur Rabi di sisi selatan kota. Jalur perdagangan ini memiliki panjang satu sepertiga mil dengan kontur permukaan persegi panjang yang menampung seluruh unit toko dan bengkel industri kerajinan.
Baghdad (Darussalam)
Ketika Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur naik takhta memimpin Kekhalifahan Abbasiah pada tahun 754 Masehi, beliau turun langsung ke lapangan untuk memilih lokasi ibu kota baru. Beliau menginginkan sebuah kawasan yang subur, berada tepat di titik tengah wilayah negaranya, serta memiliki akses konektivitas yang mudah ke seluruh provinsi.
Pilihan beliau akhirnya jatuh pada lokasi Kota Baghdad saat ini yang terletak di sisi barat aliran Sungai Tigris. Al-Manshur mulai melakukan proses pemetaan dan perencanaan kota Darussalam ini pada tahun 145 Hijriah atau 762 Masehi.
Kota ini dirancang dengan cetak biru berbentuk lingkaran sempurna yang dilindungi oleh parit dan dua lapis benteng tembok raksasa di sisi luar. Beliau juga menambahkan bangunan tembok lapis ketiga di bagian dalam serta melengkapinya dengan empat gerbang utama yang megah.
Tepat di titik pusat lingkaran kota, didirikan bangunan masjid jami, istana khalifah, beserta gedung-gedung kementerian dinas administrasi. Seiring berjalannya waktu, kota ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat hingga mendorong dinasti Abbasiah membangun kompleks istana baru di sisi timur sungai.
Kota Kairo
Setelah Jawhar as-Siqilli yang merupakan panglima perang dinasti Fatimiah berhasil membebaskan Mesir pada tahun 969 Masehi, ia mulai membangun kota baru sebagai basis militer. Kota baru tersebut dinamai Kairo dan bertransformasi menjadi ibu kota resmi dinasti Fatimiah setelah khalifah memutuskan pindah ke sana.
Tata ruang Kota Kairo dirancang sedemikian rupa dengan menempatkan kompleks istana megah khalifah tepat berada di jantung kota. Khalifah Al-Mu’izz Lidinillah kemudian membentengi kota ini dengan struktur tembok raksasa yang dilengkapi delapan gerbang utama.
Pihak Fatimiah juga membangun banyak kompleks istana dan taman-taman kota yang indah di dalam maupun di luar perimeter tembok Kairo.
Selain itu, Panglima Jawhar juga memprakarsai pembangunan Masjid Al-Azhar yang monumental pada tahun 361 Hijriah atau 972 Masehi. Kota Kairo akhirnya berhasil mencapai puncak kejayaannya dalam bidang arsitektur, kesusastraan, dan perdagangan internasional pada masa pemerintahan dinasti Mamluk.[]

