Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Menolak Lupa Ketika Aspal Menggantikan Batu di Seuneu'am Apa yang Hilang

Redaksi
Jumat, 05 Juni 2026 | Jumat, Juni 05, 2026 WIB Last Updated 2026-06-05T08:08:16Z
Nagan Raya,Detiksatu.com || Setengah abad merupakan jarak waktu yang memadai untuk menilai sebuah transformasi. Bagi Seuneu'am, kawasan yang kini administratifnya Desa Suka Mulia, Kemukiman Ujong Raja, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, lima dekade cukup untuk mengubah wajah fisik sekaligus menguji kekokohan nilai.

Dulu orang menyebutnya Seuneu'am. Ia hanyalah hamparan sawah tadah hujan di ujung timur Kabupaten Aceh Barat. Panen bergantung pada kemurahan langit. Listrik adalah barang mewah. Cap "daerah tertinggal" melekat kuat. 

Kini, yang terbentang di hadapan Generasi Ketiga adalah lautan perkebunan kelapa sawit. Aspal telah menggantikan lumpur. Sinyal telekomunikasi menggantikan lampu teplok. Peta ekonomi bergeser dari menggantungkan hujan ke menggantungkan Tandan Buah Segar.

Transformasi fisik mudah diukur dan dipotret. Yang lebih kompleks, sekaligus lebih krusial, adalah transformasi nilai yang menyertainya.

*Jalan Bebatuan Sukamilia: Guru Pertama Generasi Pertama*

Lima puluh tahun silam, "berlian" anak Seuneu'am bukanlah emas. Ia adalah jalan bebatuan dan sepeda ontel. Roda besi berderit membelah jalan Desa Suka Mulia. Kerikilnya tajam. Jatuh berarti dengkul berdarah. Hujan sebentar saja, jalan berubah menjadi sungai lumpur.

Secara administratif, wilayah ini dulu tercatat sebagai bagian Kabupaten Aceh Barat. Sapaan "Aneuk Seuneu'am" menjadi identitas kolektif yang mengikat warga lintas desa.

Jalan bebatuan Sukamilia adalah infrastruktur paling jujur. Ia memaksa setiap pengendara memilih: berhenti, atau berani jatuh dan bangkit lagi. Dalam konteks pembangunan, jalan bebatuan itu adalah metafora "daerah tertinggal": akses sulit, biaya tinggi, tetapi karakter yang ditempa keras. Dari gesekan batu ke ban ontel, lahirlah jati diri anak Seuneu'am: jujur dan berani. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada hasil instan.

Perubahan terjadi pada 10 April 2002, ketika UU No. 4 Tahun 2002 memekarkan Kabupaten Aceh Barat dan melahirkan Kabupaten Nagan Raya. Seuneu'am yang semula berada di "ujung" Aceh Barat, berubah status menjadi Nagan Raya. Secara administratif, kawasan Seuneu'am kemudian masuk Desa Suka Mulia, Kemukiman Ujong Raja. Pemekaran membawa aspal, kantor, dan anggaran. Tetapi ia juga membawa logika baru: kecepatan.

*Ujian Generasi Ketiga di Tengah Lautan Sawit*

Setengah abad berlalu. Kini Generasi Ketiga membuka mata di tengah hamparan sawit yang membentang tanpa batas. Jalan bebatuan Sukamilia yang dulu membuat roda Sepada Phonix/Ontel terpental, kini beraspal mulus. Sepeda ontel itu sendiri bertransformasi: dari alat produksi menjadi artefak kenangan yang digantung di dinding sebagai "mesin waktu".

Di titik inilah ujian sesungguhnya muncul. Ketika gesekan fisik hilang dari jalan, risiko terbesarnya adalah ketika gesekan moral juga ikut terkikis dari dada. Kemudahan ekonomi yang dibawa sawit berpotensi melahirkan dua kutub: peningkatan kesejahteraan di satu sisi, dan kerentanan nilai di sisi lain.

Karena itu, warisan yang harus dijaga bukan infrastruktur fisiknya, melainkan modal sosial dan kultural. Jati diri anak Seuneu'am yang diwariskan Generasi Pertama berintikan dua kata: jujur dan berani. Uang boleh dicari dari sawit, tetapi harus melalui cara yang jujur. Takdir boleh diperjuangkan di rantau, tetapi harus dengan keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran.

Warisan ini tak pernah tertulis di plang Kemukiman Ujong Raja. Ia hidup dalam memori kolektif, dalam cerita kakek-nenek yang bertahan di sawah tadah hujan tanpa jaminan. Kini memori itu menjadi amanah bagi Generasi Ketiga. Sanggupkah mereka menjaga kejujuran di tengah fluktuasi harga TBS? Mampukah mereka mempertahankan keberanian moral di era informasi yang bising?

*Akar yang Tak Terganti*

Sejauh apa pun Generasi Ketiga merantau, panggilan tanah kelahiran tidak pernah padam. Pepatah Minangkabau mengingatkan: _Satinggi-tinggi tabang bangau, baliaknyo ka kubangan juo, sejauh jauh denai matantau pulang nyo ka kampung juo._ Rumah boleh berpindah, KTP boleh berganti alamat, tetapi tanah tempat pertama kali manusia belajar menangis di atas batu Sukamilia, belajar jujur, dan belajar berani, tidak akan pernah tergantikan.

Lima puluh tahun Seuneu'am telah mengukir sejarah. Dari jalan bebatuan ke aspal mulus, dari sawah ke sawit, dari ujung Aceh Barat ke Kabupaten Nagan Raya, dari Generasi Pertama ke Generasi Ketiga. Transformasi fisik telah terjadi. Pertanyaan yang tersisa adalah pertanyaan moral: di tengah hamparan sawit seluas mata memandang ini, takdir seperti apa yang akan diukir Generasi Ketiga untuk lima puluh tahun ke depan? Jawabannya tidak terletak pada peta atau statistik, melainkan pada pilihan nilai yang diambil setiap hari.

*[Pian]*
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menolak Lupa Ketika Aspal Menggantikan Batu di Seuneu'am Apa yang Hilang

Trending Now

Iklan