Pemikiran Anies Baswedan tentang Pendidikan Perlu Diwujudkan Untuk Bangsa Ini Maju

Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026 | Kamis, Juni 18, 2026 WIB Last Updated 2026-06-18T00:20:25Z
Ajengan Abah KH Nurdin Ahmad (kanan) bersama Anies Baswedan dalam sebuah acara pengajian.. (Foto: detiksatu.com ).

“Karena itu di masa depan kita butuh pemimpin yang memikirkan bagaimana memajukan bangsa ini. Yang tidak hanya bisa berkoar-koar tetapi juga bertindak. Orang yang cocok untuk itu adalah Anies Baswedan, yang pintar dan sekaligus mempunyai konsep untuk membangun pendidikan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.” 

JAKARTA,DETIKSATU.COM || Pendidikan adalah sokoguru kemajuan bagi sebuah bangsa dan negara. Jika pendidikan maju maka banyak warganya yang pintar dan dipastikan negara itu akan kuat. Begitu juga sebaliknya, jika pedidikan mundur, akan banyak rakyat yang bodoh. Pada gilirannya akan membuat bangsa itu terpuruk dan dilecehkan dalam pergaulan dunia dan kancah internasional. Bangsa yang pendidikannya terbelakang akan menjadi bangsa yang paria.

Alim dari Karet Tengsin, Tanah Abang Jakarta Pusat yang juga mantan Ketua Ormas Mathla’ul Anwar (MA) Wilayah DKI Jakarta Ajengan KH Nurdin Ahmad menyatakan hal itu kepada KBA News, Rabu, 17 Juni 2026, menanggapi pemikiran Tokoh Penggagas Perubahan Anies Baswedan di ceramah atau tausiyahnya tentang pendidikan seperti yang dijelaskan dalam saluran (Channel) Youtubenya, Ahad, kemarin.

Pernyataan Pak Anies tentang relasi atau hubungan antara kemajuan bangsa dan pendidikan sangat tepat. Hanya negara yang maju pendidikannya yang akan menjadi negara maju. Sayangnya, negara kita belum bagus pendidikannya. IQ bangsa ini sangat rendah yaitu 78. Jauh dibandingkan dengan IQ negara-negara maju seperti Jepang dan Singapura, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika Serikat,” kata Ahli Agama yang dengan Anies Baswedan itu,.

Menurut Anies, pendidikan adalah investasi yang paling murah untuk masa depan bangsa. Sebesar apapun biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan tetap lebih murah dibandingkan ongkos yang dikeluarkan yang diakibatkan oleh kebodohan. Pendidikan memang mahal. Sebesar apapun biaya dan sumber daya yang kita keluarkan untuk pendidikan akan lebh murah dari pada pencurian.

“Pendidikan memang membutuhkan biaya namun ongkos yang harus dibayar akibat kebodohan jauh lebih mahal bagi kemajuan bangsa. Kebodohan adalah penghambat dan musuh utama dari kemajuan bangsa. Terkadang kita tidak pernah mengukur waktu yang singkat. Kebodohan itu merupakan penyakit yang menjadi penghambat utama bagi kemajuan dan peradaban,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Anies menekankan pentingnya pemerataan dalam mencapai akses pendidikan. Inisator Aksi Bersama itu menilai kemajuan sebagai bangsa tidak ditentukan oleh kelompok yang paling cepat maju tetapi oleh kelompok yang paling lambat. Pendidikan sangat penting terutama bagi rakyat biasa yang akses ke pendidikannya kecil. Kemajuan itu tidak diukur dari sebagian kecil yang pendidikan hebat tetapi dari seberapa jauh rakyat yang besar jumlahnya tetapi pendidikannya terbatas.

Perumpamaan Kereta Kuda

Untuk menggambarkan hal itu secara secara lebih jelas, Anies menggunakan perumpamaan tentang kereta yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Jika sebuah kereta ditarik oleh enam ekor berarti keenam kuda itu harus mempunyai koordinator kecepatan dan stamina yang sama. Jika ada yang berbeda, maka akan ada pengaruh terhadap kecematan kereta itu. Ternyata setelah diteliti, kecepatan kuda tidak ditentukan oleh kuda yang berlari paling cepat tetapi oleh yang paling lambat.

Jika kecepatan kereta itu 60 km/jam, maka maka setiap kuda harus mempunyai kecepatan di atas itu. Tetapi semua itu akan percuma jika ada satu saja kuda yang lambat dan lelet, misalnya kecepatannya cuma 20 Km/jam maka kecepatan kereta itu sangat dipengaruhi oleh yang lambat. Bisa cuma 20 Km per jam. Analogi ini cocok untuk membangun pendidikan nasional suatu bangsa dan negara, termasuk negara kita, Indonesia.

Maka, kata Anies, pendidikan harus dibuat seragam dalam kemajuan. Tidak bisa ada sekolah yang unggul sendiri sementara sekolah yang lain tertinggal kurikulum dan fasilitasnya. Sekolah yang kurikulum yang lemah akan membuat hasil siswa yang lemah pula. Karena itu, pemerintah bertanggung jawab penuh kepada keseragaman kualitas dengan memberikan keseragaman fasilitas, status dan kualitas walaupun dalam daerah yang jauh berbeda.

Pemikiran Anies itu, kata Abah Nurdin, sangat relevan dalam mengurai ketimpangan pendidikan bangsa ini. Ada sekolah-sekolah yang bermutu tinggi dan berstatus internasional tetapi masih ada sekolah yang fisilitasnya minim dan memprihatinkan. Ini yang harus segera dibenahi oleh pemerintah. Sayangnya, pembenahan itu terkendala oleh slogan kosong dan berhenti pada retorika kampanye tanpa ada gerakan membenahinya.

“Karena itu di masa depan kita butuh pemimpin yang memikirkan bagaimana memajukan bangsa ini. Yang tidak hanya bisa berkoar-koar tetapi juga bertindak.

 Orang cocok untuk itu adalah Anies Baswedan, yang pintar dan sekaligus mempunyai konsep untuk membangun pendidikan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,” demikian Abah Nurdin Ahmad

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pemikiran Anies Baswedan tentang Pendidikan Perlu Diwujudkan Untuk Bangsa Ini Maju

Trending Now

Iklan