Perpisahan dan Pertemuan Tahun Sebagai Sarana Muhasabah Diri

Redaksi
Senin, 15 Juni 2026 | Senin, Juni 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T21:37:38Z
2186 Serial Ke-17b Haji dan Bulan Haji: (2) Perpisahan dan Pertemuan Tahun sebagai Sarana Muhasabah Diri 

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika umat Islam memaknai pergantian tahun dengan muhasabah diri, hal itu dilakukan dengan berzikir dan berdoa kepada Allah Swt. Perbanyak melakukan istigfar terhadap dosa-dosa yang dilakukan pada tahun lalu dan bertekad untuk meningkatkan amal saleh pada tahun yang akan datang.

Memang ada dalil yang lazim digunakan untuk menyatakan klasifikasi perbuatan baik dan buruk dilakukan seseorang pada hari dan kemarin dalam satu riwayat,

مَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ خَيۡرًا مِنۡ اَمۡسِهِ فَهُوَ رَابِحُ. وَمَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ مثل اَمۡسه فهو مَغۡبُون. ومَن كان يومه شَرًّا مِنۡ امسه فهو مَلۡعُون

“Siapa yang harinya ini lebih baik daripada kemarin termasuk orang yang beruntung. Siapa yang harinya sama dengan kemarin adalah orang yang merugi. Siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin terlaknat.”

Riwayat itu diklasifikasikan ulama hadis sebagai hadis daif karena ada sanad hadisnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, roh hadis itu masih relevan dengan kenyataan bahwa perbuatan hari ini lebih baik daripada hari kemarin termasuk beruntung sehingga masih dapat diterima. Suatu aktivitas atau perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun lebih baik daripada sebelumnya pasti ada untungnya.

 Demikian pula perbuatan yang dilakukan sama dengan kemarin adalah perbuatan pulang modal. Namun, dalam kenteks kebaikan, hal itu dapat dikatakan merugi.

Ada perbuatan yang lebih buruk dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari akan mendapat celaan dari orang. Misalnya, kemarin seseorang membatu orang lain dengan pinjaman tanpa unsur ribawi, tetapi hari ini dia memaksa orang yang dipinjami itu untuk memberikan bunga atas pinjamam itu. 

 Pasti siapa pun akan mengutuk perbuatan pemerasan kepada orang yang dipinjamkan itu. Pemerasaan itu akan mendapat makian dan kutukan dari manusia dan akan dikutuk pula oleh Allah Swt. karena perbuatan riba adalah perbuatan terlaknat.

Dalam konteks pergantian tahun ada baiknya kita merenungkan apa yang telah dilakukan pada tahun silam dan apa pula yang dilakukan hari ini. Umat Islam yang terbaik pasti ada kalkulasi untung ruginya dalam beramal. Memang masa lalu tidak akan kembali pada hari ini, tetapi terbuatan baik dan buruk akan dapat terulang lagi. Hal itu bergantung pada bagaimana seseorang menyikapinya.  

Jika seseorang itu meyakini adanya timbangan amal baik dan buruk, hal itu akan menjadi bahan pertimbangannya. Di dalam Islam setiap amal manusia akan dipertanggungjawabkan pada hari esok di akhirat. Semua akan diperlihatkan secara nyata kepada setiap orang, bahkan amal sekecil apa pun akan disaksikan oleh manusia. Allah Swt. berfirman,

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Pertanyaan yang harus diajukan adalah seberapa besar amal saleh yang kita disiapkan pada tahun lalu sehingga akan dapat menambah pundi-pundi kebaikan kita selama ini dan dapat kita lihat di hadapan Allah Swt. nanti di akhirat? Mungkin juga sebaliknya, apakah perbuatan buruk itu justru lebih banyak daripada perbuatan baik?

Pergantian tahun baru itu, jika penanggalan resmi di Indonesia dijadikan patokan usia seseorang, akan menimbulkan kesadaran pribadi bahwa usia bertambah. Namun, sejatinya masa hidup seseorang akan berkurang. Jika usia seseorang 60 tahun, bertambah tahun akan memasuki usia 61 tahun, berapa lama orang itu akan bertahan hidup?  
Tidak ada yang tahu usianya berapa lama bertahan di dunia.

 Seandainya usianya ditakdirkan Allah Swt. 63 tahun seperti usia Nabi Muhammad saw., usia 61 tahun yang pada pergantian tahun ini akan tersisa dua tahun lagi. Sekali lagi tidak akan menjamin dua tahun lagi akan bertahan. Bisa jadi dia besok dipanggil Allah Swt. Allah SWT berfirman,

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS Al-A‘rāf [7]:34)

Karena ajal itu sebagai tanda perpisahan dengan dunia merupakan rahasia Allah Swt., persoalannya apakah hamba Allah ini sudah siap untuk menemui ajalnya? Seandainya Malaikat Maut datang menjemputnya dan mewujudkan rupanya, orang itu meminta penundaan kepadanya agar dapat beramal saleh yang banyak. 
Malaikat Izrail tidak dapat diajak kompromi sebagaimana ada oknum penegak hukum yang dapat disogok dengan sejumlah besar uang. Pesuruh Allah itu hanya menjalankan tugas atas perintah Allah Swt.

 Menyesalkah manusia yang rohnya sudah di ambang pintu?
Memang ada manusia yang menginginkan penundaan ajal itu agar bisa beramal saleh. Hal itu digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya,

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (Al-Munāfiqūn [63]:10)

Di dalam kehidupan sehari-hari penyesalan itu biasanya datang setelah seseuatu terjadi. Ketika badan sehat, berkecukupan, banyak waktu luang, masih muda, masa hidup, orang sering lupa terhadap nikmat itu. Namun, setelah semuanya sirna, manusia sadar untuk berbuat lebih baik. Allah Swt. tidak akan menunda masa kontrak manusia menempati bumi Allah Swt. ini dengan firman-Nya,

وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munāfiqūn [63]:11)

Dua ayat surah Al-Munāfiqūn itu menjelaskan manusia yang ajalnya sudah tiba, pasti tidak akan dapat ditunda kematiannya agar dapat bersedekah dan beramal saleh. Padahal, wahai manusia yang lupa diri, ke mana saja Anda selama ini?

 Masa sehat Anda tidakkah Anda gunakan untuk beribadah dan beramal saleh? Masa muda Anda tidakkah Anda manfaatkan untuk mencari kedidaan Allah Swt.?

Waktu luang Anda tidakkah Anda gunakan untuk meraih kasih sayang Allah Swt. dengan ibadah dan amal saleh? Masa Anda sedang jaya-jayanya dan harta berlimpah, mengapa Anda lupakan melakukan ibadah dan berbagi karunia Allah Swt. kepada pihak yang memerlukan? Selama hidup Anda tidakkan terbetik di dalam hati Anda untuk malaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya?

Ketika ajal sudah mendekati Anda, tidak ada timbangan kebaikan yang akan dipersembahkan kepada Allah Swt. Kematian yang harus Anda jalani bernilai kosong di sisi Allah Swt. yang akan menjatuhkan Anda ke dalam neraka?

 Ingatlah firman Allah Swt. yang ada dua pilihan yang akan diberikan Allah Swt. kepada manusia. Pilihan itu telah ditentukan selama hayat dikandung badan. Jika pilihan itu baik, beruntungkan hamba Allah Swt. di akhirat kelak. Namun, pilihan buruk akan menyisakan derita karena akan tercampak ke dalam neraka Hawiyah. Allah Swt. berfirman,

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ

“Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah. Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu? (Ia adalah) api yang sangat panas.” (Al-Qāri‘ah [101]:6–11)

Hari ini adalah saatnya penentuan pilihan manusia apakah hidupnya akan berakhir dengan membawa bekal yang cukup dan banyak atau dengan bekal yang hampa? Ada pepatah yang perlu dicamkan oleh mukmin yang cerdas atau ululalbab, “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.” 

Agar tidak menyesali nasibnya di akhirat kelak, mukmin harus melakukan persiapan yang matang dan terencana agar kehidupan abadinya selamat dan bahagia. Namun, mukmin yang dungu (lawan cerdas) akan melakukan apa saja sesuai dengan kehendak nafsunya. 

Walaupun beriman, manusia seperti itu mendahulukan kesenangan hidup di dunia dengan melupakan kesenangan dan kebahagiaan hidup di akhirat. Padahal, akhirat itu lebih baik daripada dunia sebagaimana firman Allah Swt.

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

“Padahal, kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A‘lā [87]:17)

Silakan Anda memilih untuk menjadi yang terbaik hari ini dalam bwramal saleh daripada hari kemarin dan orang yang terbaik pula persiapannya untuk hari esok di akhirat!

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.   

(Insyaallah, berlanjut besok.) 

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perpisahan dan Pertemuan Tahun Sebagai Sarana Muhasabah Diri

Trending Now

Iklan