Kupang, detiksatu.com || Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Workshop Bina Talenta bertema "Ekosistem Digital dan Masa Depan Profesi sebagai bagian dari rangkaian persiapan pembukaan Program Studi Magister (S2) Bisnis Digital.
Kegiatan yang mendapat dukungan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta DPR RI Komisi X tersebut berlangsung di Aula Agus Benu, Lantai 3 Pascasarjana Undana, Senin, 6 Juli 2026.
Workshop diikuti lebih dari 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa program sarjana dan pascasarjana Universitas Nusa Cendana. Selain memperoleh materi pelatihan, peserta juga mendapatkan sertifikat, seminar kit, dan doorprize.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Pascasarjana Undana, Dr. Hamza Huri Wulakada, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Pascasarjana Undana mendapat mandat dari Rektor untuk mengawal implementasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam seluruh aktivitas akademik maupun nonakademik.
"Untuk khusus ditugaskan Pak Rektor mengawal ini, program studi kami untuk implementasi AI dalam seluruh aktivitas akademik dan non-akademik," ujar Doktor Hamza.
Ia berkata, Pascasarjana Undana telah menyiapkan berbagai instrumen agar transformasi digital tidak hanya dihadapi sebagai ancaman disrupsi, tetapi juga menjadi peluang untuk berperan dalam membentuk masa depan.
"Kami di Pasca juga bersama itu, sudah menyiapkan beberapa instrumen dan semoga kita tidak dalam kungkungan dan kendali teknologi atas ancaman disrupsi ini, tetapi kita menjadi bagian yang juga ikut serta dalam mengendalikan masa depan itu sendiri. Itulah harapan-harapan kami," katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang terjalin dalam waktu singkat. Menurutnya, dari enam titik pelaksanaan kegiatan di Nusa Tenggara Timur, Pascasarjana Undana dipercaya menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan.
Pada kesempatan itu, Hamza mengungkapkan peningkatan signifikan jumlah calon mahasiswa Pascasarjana Undana. Jika pada tahun sebelumnya mahasiswa baru aktif berjumlah sekitar 26 orang, maka pada tahun akademik ini jumlah calon mahasiswa telah meningkat menjadi sekitar 76 orang.
Ia menjelaskan bahwa pembukaan Program Studi Magister Bisnis Digital merupakan bagian dari strategi pengembangan Pascasarjana Undana.
"Apa yang dimaksudkan dan diniatkan kita ke depan sehingga prodi baru ini menjadi cikal bakal. Kami kemarin awalnya ekosistem digital terlihat di SIAGA, rupanya kami mengubah strategi namanya menjadi Bisnis Digital," ujarnya.
Selain Magister Bisnis Digital, Pascasarjana Undana juga mengusulkan sejumlah program studi baru lainnya, di antaranya Ketahanan Maritim, Manajemen Pendidikan, dan Hukum Kesehatan.
Sementara itu, keynote speech disampaikan secara daring oleh Anggota DPR RI Komisi X, Stevano Rizki Adranacus. Ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir secara langsung akibat agenda mendadak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan.
"Lewat serangkaian kegiatan bimbingan teknis yang akan dilaksanakan di beberapa universitas di seluruh NTT, saya berharap seluruh sivitas akademika dapat memanfaatkan momentum ini sebagai ruang diskusi yang produktif demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Stevano menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi kawah candradimuka dalam membentuk karakter, integritas, dan inovasi generasi muda.
"Melalui forum ini, kita ditantang untuk terus berpikir responsif terhadap perkembangan zaman di era digitalisasi yang terus berkembang dengan sangat pesat."
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Nusa Cendana, Kemendiktisaintek, serta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan workshop tersebut.
"Semoga acara ini memicu lahirnya gagasan-gagasan baru yang bermanfaat bagi bangsa dan negara," pungkasnya.
Dalam sesi materi, narasumber dari LLDIKTI Wilayah XV sekaligus praktisi, Dr. Deford Lakapu, MM, memaparkan peluang dan tantangan pembukaan Program Studi Magister Bisnis Digital di Universitas Nusa Cendana.
Menurut dia, transformasi digital telah mengubah lanskap ekonomi secara fundamental sehingga dibutuhkan pemimpin-pemimpin baru yang memiliki kompetensi digital.
"Teknologi digital bukan lagi sekadar alat operasional, melainkan fondasi penciptaan nilai ekonomi dan daya saing kawasan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa inisiatif pembukaan program studi tersebut berada pada titik konvergensi antara agenda nasional, kebutuhan regional, dan mandat institusi.
Dari sisi agenda nasional, program tersebut sejalan dengan Asta Cita yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia unggul, hilirisasi inovasi, serta tata kelola pemerintahan digital.
Sementara itu, kebutuhan kawasan Indonesia Timur meliputi digitalisasi UMKM, sektor pariwisata, dan pelayanan publik di wilayah kepulauan.
Di sisi lain, langkah tersebut juga selaras dengan visi strategis Undana dalam pengembangan kawasan lahan kering kepulauan yang memiliki daya saing global.
Menurut Deford, kawasan Indonesia Timur masih mengalami kekosongan ekosistem pendidikan pascasarjana di bidang bisnis digital.
"Undana tidak bersaing di ranah umum, melainkan menguasai ceruk spesifik yang menjadi keunggulan komparatif kawasan," jelasnya.
"Magister Bisnis Digital Undana bukan sekadar program studi baru, tetapi arsitek peradaban digital bagi kawasan lahan kering dan kepulauan Nusantara," tegasnya.
Sementara itu, akademisi Undana, Dr. Dony Sitohang, M.Sc, membawakan materi bertajuk "Membangun Kompetensi Digital Mahasiswa Pascasarjana: Peluang Karier di Era Ekosistem Digital."
Dalam paparannya, ia menjelaskan perjalanan transformasi teknologi, mulai dari era komputer pada dekade 1960–1980, internet pada 1990–2000, mobile pada 2000–2010, cloud computing pada 2010–2015, artificial intelligence pada 2015–2020, hingga memasuki era ekosistem digital sejak 2020.
"Era ekosistem digital menuntut kita untuk berpikir sistemik, kolaboratif, dan adaptif agar mampu menciptakan nilai bagi masyarakat dan masa depan," paparnya.
Ia menjelaskan bahwa ekosistem digital merupakan keterhubungan antara manusia, organisasi, teknologi, data, platform, kebijakan, dan inovasi yang secara bersama-sama menciptakan nilai.
Selain itu, Dony juga menguraikan berbagai tantangan dan peluang pengembangan ekosistem digital di Nusa Tenggara Timur.
"NTT merupakan living laboratory bagi pengembangan ekosistem digital Indonesia Timur, dengan konteks nyata, keberagaman tantangan, dan potensi besar untuk inovasi digital yang berdampak," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Universitas Nusa Cendana harus siap mengambil peran strategis dalam transformasi digital karena digitalisasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan untuk membangun masa depan Indonesia.
Reporter: Emanuel Boli