Kota Kupang, detiksatu.com || d!talk #02 mengajak publik Nusa Tenggara Timur (NTT) merefleksikan kembali arah pembangunan Indonesia setelah 81 tahun kemerdekaan. Refleksi tersebut dibahas dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan” yang digelar di Aula St. Hendrikus, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Kamis, 20 Agustus 2026.
Diskusi yang dimulai pukul 15.00 WITA itu membedah buku #RESET INDONESIA: Gagasan tentang Indonesia Baru karya Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Kegiatan tersebut tidak hanya membahas perjalanan 81 tahun Indonesia, tetapi juga mempertanyakan kembali Indonesia seperti apa yang ingin dibangun dan sejauh mana daerah memiliki ruang dalam menentukan arah pembangunan nasional.
Perspektif NTT dinilai penting karena daerah di luar pusat kekuasaan nasional kerap menjadi penerima kebijakan sekaligus menghadapi langsung dampak berbagai keputusan pembangunan.
Penulis #RESET INDONESIA sekaligus pegiat jurnalisme visual, Dandhy Laksono, menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi yang menurutnya masih menjadi tantangan setelah 81 tahun Indonesia merdeka.
“Fakta yang paling menohok, setelah 81 tahun kemerdekaan, kesenjangan masih ada. Ada kesenjangan ekonomi. Negara yang sehat dan kuat, kesenjangannya makin dekat.”
Dandhy juga menyinggung persoalan air minum yang aman sebagai gambaran dari tata kelola yang lebih luas. Menurut dia, penyediaan air yang aman tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kebijakan politik, hukum, ekonomi, pemberantasan korupsi, serta perlindungan lingkungan.
Sementara itu, Benaya Harobu mengingatkan agar NTT tidak sekadar meniru pola pembangunan dari daerah lain.
“Refleksi kita di NTT: jangan terlalu haus akan pembangunan, karena belum tentu yang sukses dibangun di Jawa, cocok dibangun di NTT," katanya.
Dari perspektif lingkungan, Direktur WALHI NTT Yuvensius S. Nonga menyoroti hubungan investasi, penetapan kawasan strategis, dan risiko bencana di NTT. Ia mempertanyakan apa yang perlu “di-reset” dalam konteks pembangunan daerah, terutama ketika kebijakan politik berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan bencana.
Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL, Torry Kuswardono, mengatakan kekuatan-kekuatan lama dalam sistem politik dan ekonomi tidak benar-benar hilang, melainkan dapat kembali muncul ketika menemukan momentum yang tepat.
“Ada sesuatu yang bisa disebut sebagai ‘dormant’ seperti tumbuhan yang berada dalam kondisi tidur. Ia tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kondisi yang tepat untuk kembali tumbuh," ujar dia.
Sekretaris Program Studi Ilmu Pemerintahan Unwira Kupang, Maximianus Ardon Bidi, mengingatkan agar pembangunan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik.
“Kadang-kadang orang masih melihat pembangunan hanya dari aspek infrastrukturnya, bukan dalam konteks kehidupan manusia secara keseluruhan.”
Wartawan Pos Kupang, Novemy Leo, menegaskan bahwa istilah “reset” dalam buku tersebut bukan berarti menghancurkan Indonesia, melainkan keberanian untuk mengevaluasi kembali berbagai hal yang perlu diperbaiki.
“Reset bukan berarti menghancurkan Indonesia. Reset berarti berani bertanya kembali: apa yang perlu diperbaiki agar Indonesia tetap menjadi rumah yang adil bagi seluruh rakyatnya?” imbuhnya.
Diskusi tersebut dipandu Joy Sihombing dari Kupang Book Party. Pertemuan berbagai perspektif itu diharapkan membuka percakapan publik mengenai ketimpangan pembangunan, keberlanjutan lingkungan, kebijakan publik, partisipasi masyarakat, serta posisi daerah dalam menentukan masa depan pembangunan nasional.
Selain diskusi, d!talk #02 juga dimeriahkan penampilan musisi lokal Bhuram, Rumput Tetangga, dan Maya Dewanti. Kegiatan turut menghadirkan bazar buku dari Leko Book Store, Kupang Book Party, dan Lucule.
Panitia juga mengimbau peserta membawa tumbler atau botol minum pribadi sebagai bagian dari komitmen mengurangi sampah plastik.
Buku #RESET INDONESIA
Buku #RESET INDONESIA: Gagasan tentang Indonesia Baru merupakan karya kolaborasi lintas generasi empat jurnalis, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Buku setebal 448 halaman tersebut merupakan rangkuman dari tiga ekspedisi jurnalistik keliling Indonesia yang dirintis sejak sekitar 15 tahun lalu. Buku itu membahas berbagai persoalan bangsa, antara lain ketimpangan struktural, kerusakan lingkungan, konflik agraria dan sumber daya alam, relasi kuasa antara negara, korporasi dan warga, demokrasi, serta tata kelola pemerintahan.
Buku tersebut juga membuka diskursus mengenai desentralisasi kekuasaan dan wacana federalisme sebagai salah satu pilihan untuk menjawab kompleksitas geografis, sosial, dan budaya Indonesia.
Melalui diskusi di Kupang, publik NTT diajak melihat relevansi gagasan dalam buku tersebut dengan persoalan lokal, seperti krisis air, konflik agraria di Flores, kerentanan masyarakat adat, serta persoalan perempuan dan anak di NTT.
Kegiatan d!talk #02 diselenggarakan melalui kolaborasi DIAM Kreatif, PIKUL, dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, bersama WALHI NTT, SkolMus, IBP, Leko Bookstore, Tenggara Youth Community, serta sejumlah komunitas dan organisasi lokal lainnya.
Reporter: Emanuel Boli