Jakarta,detiksatu.com || 25 September 2026 Jangan terlalu percaya diri jika merasa sudah mengetahui siapa dalang di balik rangkaian pembunuhan dalam film Lobang Buaya hanya dengan melihat trailernya.
Film horor-misteri garapan sutradara Hanung Bramantyo itu justru menyiapkan sejumlah plot twist yang dirancang untuk mengecoh penonton. Hal tersebut terasa dalam gelaran Gala Premiere Lobang Buaya di Epicentrum XXI, Jakarta, yang berlangsung dengan suasana tegang dan mencekam.
Film produksi kolaborasi Adhya Pictures dan Dapur Film tersebut menghadirkan kisah fiksi sejarah dengan latar Indonesia pada era 1960-an. Film ini dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus.
Cerita berpusat pada Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra. Ia mendapat tugas untuk menyelidiki serangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.
Satu per satu tokoh penting di desa ditemukan tewas dengan luka yang memiliki pola tertentu. Yang membuat kasus tersebut semakin mengerikan, pembunuhan selalu terjadi tepat pada tanggal 30 setiap bulannya.
Soegeng pun harus mengungkap siapa pelaku sebenarnya sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.
Namun, penyelidikan tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hampir setiap karakter memiliki rahasia masing-masing sehingga penonton terus diarahkan untuk mencurigai sosok yang berbeda.
Bahkan Baskara Mahendra yang berperan sebagai tokoh utama mengaku ikut terkecoh ketika membaca naskah hingga menjalani proses syuting.
“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an, dan mengikuti investigasi Soegeng dengan banyaknya plot twist di film ini adalah pengalaman yang seru banget, bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” ujar Baskara.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa misteri dalam Lobang Buaya tidak sekadar mengandalkan elemen horor, tetapi juga permainan teka-teki dan psikologis terhadap penonton.
Hanung Tegaskan ‘Lobang Buaya’ Bukan Film tentang Tragedi 1965
Penggunaan latar sejarah dalam film ini juga menjadi perhatian tersendiri. Hanung Bramantyo menegaskan bahwa Lobang Buaya merupakan karya fiksi yang menggunakan peristiwa sejarah sebagai latar dan titik temu antara cerita personal dengan ingatan kolektif.
Hanung juga menekankan bahwa film tersebut tidak dibuat untuk menceritakan kembali tragedi 30 September 1965 dalam bentuk film horor.
Menurutnya, unsur horor digunakan sebagai bahasa sinematik untuk menggambarkan trauma dan dendam yang terdapat dalam dunia fiksi cerita.
“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius,” kata Hanung.
Ia menambahkan, film tersebut dibuat bukan untuk menjadikan tragedi sejarah sebagai bahan lelucon, melainkan mengangkat persoalan dendam dan kekuasaan dalam sebuah cerita fiksi.
“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya,” ujarnya.
Ketika cerita mendekati 30 September 1965, Hanung sengaja memberikan batas antara dunia fiksi dengan tragedi sejarah yang menjadi bagian dari ingatan bangsa Indonesia.
“Di situlah batas antara fiksi dan sejarah menjadi penting, dan di situlah tanggung jawab saya sebagai pembuat film,” lanjutnya.
Dengan misteri pembunuhan, suasana mencekam, serta sejumlah plot twist yang sengaja dirahasiakan, Lobang Buaya menawarkan tantangan tersendiri bagi penonton untuk menebak siapa sebenarnya dalang di balik seluruh rangkaian kejadian.
Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
(Nina)