Mataram,detiksatu.com II Mengapa Gereja-gereja berbicara tentang surga tetapi diam terhadap ketidakadilan Negara yang ada didepan mata?” Menurut hemat saya gereja tidak hanya hadir untuk bicara tentang surga tapi panggilan untuk menghadirkan keadilan di bumi. Gereja boleh berbicara tentang surga. Gereja bahkan harus berbicara tentang surga. Tetapi selama gereja masih berada di bumi, gereja tidak boleh kehilangan keberanian untuk melihat air mata manusia yang ada di bumi. Iman kepada Allah yang adil seharusnya mendorong gereja untuk terus berkata: “Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”
"Hal Itu sampai, Lali Karungu Mahasiswa Teologi asal kabupaten nduga Provinsi papua pengunungan,Nyawa orang Asli Papua Tak Ada Harganya Dalam Negara Indonesia Ini, sepanjang kehidupan orang-orang pribumi Papua, OAP di Tembak Mati tanpa Berita, Mataram Nusa Tenggara barat (NTB ) Sabtu,28/09/2026".
"Ia Juga Mempertanyakan, Apakah seluruh korban kekerasan di Papua mendapatkan perhatian publik yang sama? Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan orang Papua dengan orang non-Papua. Sebaliknya, pertanyaan ini muncul karena kehidupan manusia seharusnya memiliki nilai yang sama, tanpa melihat ras, suku, agama, asal daerah, maupun identitas politik".
"Menurut Lali karunggu, berita sejumlah media Papua, sepuluh warga sipil yang sebelumnya berada di lokasi pendulangan emas disebut menjadi sasaran penembakan ketika kembali menuju kampung. Benar adanya Enam orang meninggal dan empat lainnya terluka. Warga sipil 6 orang benar-benar menjadi korban ditangan TNI-POLRI, maka kehidupan mereka harus diperlakukan sebagai persoalan HAM yang serius. Jangan diam karena TNI-POLRI adalah Troris (KKB) bernjata yang berkuasa diatas tanah Papua.
Wamena,ketika warga non-Papua menjadi korban
"Beberapa hari sebelumnya, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dilaporkan tewas ditembak ketika melakukan perjalanan untuk menyalurkan bantuan pangan. Delapan orang lain dalam rombongan tersebut dilaporkan selamat. Menteri HAM Natalius Pigai mengecam pembunuhan itu dan meminta pelaku dicari serta diproses secara hukum. Pada 15 September 2026, sopir travel bernama Aris Sanda juga ditemukan meninggal setelah kendaraan yang dibawanya ditemukan dalam keadaan terbakar di kawasan Habema. Kepolisian menyatakan sedang menyelidiki dugaan pembunuhan tersebut.
"Jangan menjadikan etnis sebagai ukuran nilai kehidupan, Orang Jawa bukan musuh orang Papua. Orang Maluku bukan musuh orang Papua,Orang Sumatra bukan musuh orang Papua,Orang Sulawesi bukan musuh orang Papua. Orang Bali bukan musuh orang Papua. Orang Kalimantan bukan musuh orang Papua. Orang NTT bukan musuh orang Papua.
Kritik Terhadap Ketimpangan Solidaritas Tidak Boleh Berubah Menjadi Kebencian Terhadap Suku Tertentu.
"Jika orang Papua mengkritik ketidakadilan, kritik itu diarahkan kepada tindakan, kebijakan, struktur, dan perilaku yang dapat dibuktikan, bukan kepada seluruh kelompok etnis orang Indonesia.
"Dalam konferensi pers pada 17 September 2026, Menteri HAM Natalius Pigai memperingatkan adanya pergeseran konflik Papua menuju sentimen etnis dan rasialisme. Ia memperingatkan bahwa konflik yang semakin didasarkan pada perbedaan etnis, ras, suku, dan agama dapat berkembang menjadi konflik horizontal.
"Standar Kemanusiaan Harus Dibangun Tanpa Berdasarkan Warna Kulit".
"Kepada masyarakat Jawa, Maluku, Sulawesi, Sumatra, Bali, Kalimantan, NTT, dan daerah lainnya, pertanyaan ini bukanlah ajakan untuk memusuhi Papua. Justru ini adalah ajakan untuk memperluas solidaritas. Ketika warga non-Papua dibunuh, bersuaralah.Kami rakyat dan bangsa Papua Barat serta Mahasiswa Papua mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak menggunakan penderitaan sebagai alasan membenci semua masyarakat Papua dan Indonesia. "Mahasiswa harus berani mengatakan: Saya membela orang Papua karena saya percaya kehidupan orang Papua berharga. Tetapi karena saya percaya pada kemanusiaan, saya juga membela warga non-Papua ketika mereka menjadi korban.
"Tugas Kami Tetap Menyampaikan Kebenaran dan Membongkar Kebohongan.
"Apakah Semua Nyawa Dipandang Sama di Tanah Papua? Pertanyaan yang harus terus diajukan dalam melihat konflik Papua bukanlah: Siapa orang Papua dan siapa orang non-Papua? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah setiap kehidupan manusia benar-benar dipandang memiliki nilai yang sama ketika menjadi korban kekerasan".Masyarakat sipil orang asli Papua dan masyarakat sipil non-Papua sama-sama manusia. Keduanya memiliki hak untuk hidup, hak atas keamanan, hak mendapatkan keadilan, dan hak untuk dilindungi dari kekerasan".
"Kematian Orang Papua Tidak Boleh Menjadi Biasa Hanya Karena Berasal Dari Papua.
"Warga Sipil yang ditembak mati oleh TNI di Yahukimo pada 18 September 2026, maka mereka berhak mendapatkan keadilan sebagaimana warga non-Papua yang menjadi korban kekerasan di Wamena dan tempat lainnya,Dari situlah melahirkan perbedaan manusia satu dengan yang lain.
"Beban Perjuangan dan Panggilan Membela Kehidupan.
"Beban saya bukan hanya kuliah. Ada beban lain yang terus saya bawa dalam hati: Ada penderitaan rakyat yang hidup dalam ketakutan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang mereka kasihi, dan menjadi korban konflik yang berkepanjangan. Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar".Alkitab berkata: “Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”- Yesaya 1:17 Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman tidak berhenti pada perkataan. Iman mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan manusia.
"Ketika Nyawa Rakyat Sipil Papua Menjadi Sunyi.
"Ketika rakyat sipil orang asli Papua menjadi korban kekerasan dalam konflik bersenjata, muncul sebuah pertanyaan yang tidak mudah dihapus dari hati nurani saya dan akan diwariskan kepada generasi berikut, Ketika beberapa nyawa manusia Papua hilang dalam satu peristiwa, seharusnya yang pertama muncul bukan pertanyaan tentang suku, agama, wilayah, atau keberpihakan politik, melainkan pertanyaan sederhana:"Di Papua, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena masyarakat sipil telah lama hidup di tengah konflik bersenjata. Ketika terjadi kontak senjata antara aparat keamanan dan TPNPB, warga sipil dapat menjadi pihak yang paling rentan. Mereka bukan pihak yang memilih perang, tetapi kehidupan mereka dapat dihancurkan oleh perang.
"Ketika Sepuluh Nyawa Tidak Lagi Menggetarkan Publik.
"Yang paling menyakitkan hati saya oleh negara ini bukan hanya ketika manusia kehilangan nyawanya. Yang lebih menyakitkan adalah ketika kematian itu seolah-olah tidak cukup penting untuk membuat masyarakat berhenti sejenak dan bertanya. Bayangkan apabila dalam satu hari sepuluh warga sipil Papua kehilangan nyawa.
"Negara Memiliki Tanggung Jawab Lebih Besar untuk Melindungi Warga Sipil,.
Ketika dugaan kekerasan melibatkan aparat negara, tuntutan terhadap penyelidikan menjadi semakin penting. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi masyarakat dan memastikan bahwa penggunaan kekuatan dilakukan sesuai hukum. Apabila terdapat dugaan bahwa aparat melakukan pelanggaran terhadap warga sipil, maka penyelidikan tidak boleh hanya bergantung pada versi internal institusi yang dituduh.
"Pertanyaan yang Tidak Boleh Hilang.
Ketika rakyat sipil Papua menjadi korban, kita tidak boleh hanya bertanya: Mengapa mereka dibunuh? Kita juga harus bertanya: Mengapa penderitaan mereka begitu cepat dilupakan? Mengapa suara keluarga korban tidak selalu terdengar media? Mengapa informasi tentang korban begitu sulit diverifikasi? Apakah penyelidikan yang independen telah dilakukan? Apakah negara benar-benar hadir untuk melindungi warga sipil".
"Agama, Mahasiswa, dan Luka Rakyat Papua: Ketika Kesabaran Tidak Boleh Membungkam Keadilan".
Para Agamawan mengajarkan warga yang mengalami ketidakadilan dengan kata sabar kehendak Tuhan, itu merupakan para paham-paham agama yang memelihara luka Rakyat tertindas. Sementara mahasiswa Papua malas tahu dengan ketidakadilan Negara yang pengusuran tanah berlapisan dengan membunuhan terhadap ibu-ibu dan saudara mereka.
"Agama Tidak Boleh Menjadi Tempat Memelihara Luka".
"Luka masyarakat tidak akan sembuh hanya karena korban diminta diam. Luka membutuhkan pengakuan. Luka membutuhkan pendengaran. Luka membutuhkan kebenara, Karena itu, para agamawan memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakan mimbar keagamaan secara bijaksana. Mereka dapat berkata: “Bersabarlah, tetapi jangan kehilangan keberanian untuk mencari kebenaran.” “Berdoalah, tetapi jangan berhenti memperjuangkan keadilan.” “Ampunilah, tetapi jangan menyebut ketidakadilan sebagai sesuatu yang benar.”
"Mahasiswa Papua dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Mahasiswa Papua juga mempunyai pergumulan yang tidak sederhana. Mereka datang ke perguruan tinggi untuk memperoleh ilmu, membangun masa depan, dan mencapai cita-cita. Tetapi pendidikan tidak seharusnya membuat seseorang terputus dari realitas masyarakatnya, Mahasiswa tidak harus menjadi aktivis politik. Namun, mahasiswa sebagai kelompok terdidik memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial".
"Dari luka menuju kesadaran"
Ada kemungkinan bahwa seseorang yang mengalami penderitaan memilih untuk melupakan semuanya. Namun, masyarakat yang kehilangan ingatan terhadap penderitaannya akan kesulitan belajar dari sejarah. Karena itu: Luka harus diingat, tetapi tidak untuk memelihara kebencian. Sejarah harus dipelajari, tetapi tidak untuk mewariskan dendam.
"Jangan Biarkan Hati Nurani Mati"
Gereja memiliki tugas untuk menghibur orang yang menangis, tetapi gereja juga dipanggil untuk mendengar suara mereka yang tidak didengar.
"Mahasiswa memiliki tugas untuk belajar, tetapi pendidikan juga seharusnya membentuk manusia yang memiliki hati nurani.
"Masyarakat memiliki hak untuk mencari kehidupan yang aman, tetapi kehidupan yang damai tidak akan lahir dari pembungkaman terhadap korban.
"Karena itu, ketika rakyat mengalami penderitaan, jangan hanya berkata: “Bersabarlah.” Harus beranilah mengatakan: Kami mendengarkan. Kami ingin memahami. Kami akan mencari kebenaran.
"Kami menolak ketidakadilan, tetapi kami juga menolak kebencian dan kekerasan terhadap manusia.
"Jangan biarkan luka masyarakat membuatmu kehilangan masa depan. Tetapi jangan pula biarkan pendidikan membuatmu kehilangan hati nurani terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari hidupmu. Ilmu harus menerangi kehidupan. Iman harus membela martabat manusia.
"Kesabaran harus melahirkan keteguhan. Dan hati nurani harus tetap hidup.
"Sebab masyarakat yang terluka tidak hanya membutuhkan orang yang menyuruh mereka bersabar; mereka membutuhkan manusia yang mau hadir, mendengar, memahami, dan bekerja bersama untuk menghadirkan keadilan serta perdamaian.
"Dilupakan Manusia, Diingat Tuhan (Refleksi Kejadian 40:20–23 dalam Konteks Papua).
"Dari Kisah Yusuf dalam Kejadian 40 memperlihatkan sebuah pengalaman yang sangat manusiawi: Yusuf menolong orang lain, tetapi setelah orang itu keluar dari penjara, Yusuf justru dilupakan. Pada ayat 23 dikatakan bahwa juru minuman itu tidak mengingat Yusuf, melainkan melupakannya".
1.Saat dilupakan manusia, tetaplah melayani.
"Yusuf tidak berhenti menjadi manusia yang berguna hanya karena kehidupannya sedang sulit. Sebelum peristiwa Kejadian 40:20–23, Yusuf justru menggunakan kesempatan di dalam penjara untuk membantu orang lain.
2.Saat dilupakan manusia, tetaplah percaya kepada Allah
"Kejadian 40 menunjukkan bahwa Yusuf berada dalam situasi yang tidak dapat ia kendalikan. Ia tidak dapat memaksa juru minuman mengingatnya".
3.Saat dilupakan manusia, tetaplah menunggu waktu Tuhan.
"Kejadian 40:23 berakhir dengan sesuatu yang mengecewakan: Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. Perhatikan: pertolongan Yusuf tidak langsung menghasilkan kebebasannya".
4.Meluruskan pandangan kita tentang “diLupakan”
"Ada kekeliruan yang sering muncul ketika manusia merasa dilupakan. Kekeliruan pertama: Kalau manusia melupakan saya, berarti saya tdak berharga.
5.Tuhan mengingat mereka yang dilupakan manusia.
"Ada perbedaan besar antara dilupakan manusia dan ditinggalkan Allah. Kejadian 40:23 berbicara tentang manusia yang melupakan Yusuf. Tetapi kisah Yusuf secara keseluruhan memperlihatkan bahwa Allah tidak meninggalkan Yusuf.
6.Konteks Papua: jangan sampai penderitaan membuat kita kehilangan kemanusiaan".
"Ada bahaya ketika seseorang terlalu lama mengalami penderitaan: ia dapat menjadi pahit, kehilangan harapan, bahkan mulai melihat semua orang sebagai musuh".
7.Pesan khusus bagi mahasiswa Papua.
"Mahasiswa Teologi dan mahasiswwa Pada umumnya yang membaca kisah Yusuf perlu bertanya: Apakah saya hanya ingin diingat manusia, atau saya ingin hidup saya berguna bagi sesama?. Mahasiswa jangan hanya mencari pengakuan. Jangan belajar hanya supaya disebut pintar. Jangan memperoleh gelar hanya untuk mendapatkan posisi."
"Pendidikan seharusnya membuat seseorang semakin peka terhadap kehidupan, bukan semakin jauh dari penderitaan masyarakat. Seorang mahasiswa Papua harus dapat berkata. Saya belajar bukan untuk melupakan rakyat dari mana saya berasal."
“Papua boleh merasa dilupakan oleh manusia, tetapi Papua tidak pernah dilupakan oleh Allah; karena itu, jangan kehilangan iman, jangan kehilangan pengharapan, dan jangan kehilangan keberanian untuk memperjuangkan kehidupan dengan kasih dan kebenaran.”
"Semoga segala tindakan yang tidak manusiawi terhadap rakyat sipil Papua tidak pernah luput dari penglihatan Tuhan. Kami tidak memiliki kekuatan dan kuasa untuk membalas segala penderitaan yang kami alami,.
"Kami memilih untuk menyerahkan pembalasan kepada Allah, bukan karena kami melupakan penderitaan, melainkan karena kami percaya bahwa keadilan Tuhan melampaui kemampuan manusia. Biarlah kebenaran terungkap, para korban memperoleh pemulihan, dan setiap tindakan terhadap rakyat sipil dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan hukum yang berlaku."
Reporter. Andinus kogoya