FFH Pilih Pirunduk sebagai Film Terbaik Oktober 2026, Rarangken Angkat Mistik dan Budaya Sunda

FFH Pilih Pirunduk sebagai Film Terbaik Oktober 2026, Rarangken Angkat Mistik dan Budaya Sunda

Oktober 26, 2026 | Oktober 26, 2026 WIB Last Updated 2026-10-26T04:58:27Z
Jakarta,detiksatu.com || Festival Film Horor (FFH) kembali menghadirkan ruang apresiasi dan diskusi bagi pelaku perfilman Indonesia. Dalam penyelenggaraan edisi ke-10, FFH menetapkan Pirunduk sebagai film terbaik Oktober 2026 sekaligus menggelar diskusi bertajuk Let’s Talk to Horror yang menyoroti pentingnya budaya lokal sebagai sumber cerita film horor Indonesia.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kafe Kopi Besok Pagi, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026). Acara ini juga menjadi momentum perilisan film horor Rarangken, produksi PAS Productions, yang memadukan legenda Sunda, misteri keluarga, dan teror supernatural.

Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan budayawan, sastrawan, produser, dan pelaku perfilman, yakni Fanny G Poyk, Wan Emily Sjahrir, Ambu Rd Sonia Soema dari Dewan Penasihat MASDA, serta Tsania Prilla. Diskusi dipandu Alyne Maarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.

Budaya Lokal Jadi Pembeda Film Horor Indonesia

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menekankan bahwa kekayaan tradisi, legenda, dan kepercayaan masyarakat Nusantara memiliki potensi besar untuk memperkuat karakter film horor Indonesia.

Selain menghadirkan ketegangan dan hiburan, unsur budaya dinilai mampu memberikan identitas tersendiri bagi sebuah film. Pendekatan ini juga membuat cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus membedakannya dari film horor yang hanya mengandalkan formula serupa.

Budayawan dan sastrawan Fanny G Poyk menilai perpaduan budaya dan mistik merupakan tema yang selalu menarik untuk diangkat dalam perfilman horor.

Menurutnya, para pelaku industri film perlu memahami perkembangan perfilman, termasuk perubahan selera penonton serta persaingan dengan teknologi dan produksi film global.

“Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan produser film Rarangken, Wan Emily Sjahrir. Ia menilai film harus memiliki karakter dan pembeda yang kuat agar tidak sekadar mengulang pola cerita yang sudah banyak digunakan.

Wan Emily ingin kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia semakin banyak diangkat melalui karya film yang memiliki identitas khas.

“Film itu harus ada pembedanya, kalau sama sebaiknya tak perlu buat tapi nonton saja. Dan bila ingin membuat film harus out of the box, keluar dari kebiasaan terutama dari unsur budayanya,” katanya.

Menurutnya, eksplorasi budaya dapat menjadi salah satu jalan bagi sineas Indonesia untuk menghadirkan cerita yang lebih segar sekaligus memperluas potensi perfilman nasional.

Rarangken Mengangkat Kepercayaan Leluhur Sunda

Salah satu contoh penggabungan budaya dan horor tersebut hadir melalui film Rarangken produksi PAS Productions.

Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan bahwa film ini terinspirasi dari kepercayaan leluhur masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan magis, ritual adat, serta pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Dalam konteks cerita film, Rarangken merujuk pada perhiasan atau benda yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu. Konsep tersebut dikembangkan menjadi bagian penting dari konflik yang menghubungkan misteri masa lalu dengan teror yang dialami para tokohnya.

Ambu Sonia menyebut benda yang menjadi inspirasi cerita tersebut berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan yang dikenal di wilayah Majalengka. Dalam kisah yang diangkat, pelanggaran terhadap pantangan saat membuka atau menyentuh benda tersebut dipercaya dapat mendatangkan dampak buruk bagi masyarakat sekitar.

Pengangkatan unsur tersebut memperlihatkan bagaimana kepercayaan lokal dapat dikembangkan menjadi narasi horor yang tidak hanya menekankan unsur menyeramkan, tetapi juga membawa latar budaya yang kuat.

Sementara itu, Tsania Prilla mengungkapkan ketertarikannya terlibat dalam film Rarangken karena ingin mengenal lebih jauh budaya Sunda yang menjadi bagian dari latar belakang keluarganya.

Baginya, keterlibatan dalam film tersebut menjadi kesempatan untuk memahami tradisi leluhur yang sebelumnya belum banyak dikenalnya.

Misteri Keluarga dan Kutukan dalam Rarangken

Film Rarangken diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H sebagai sutradara.

Cerita berpusat pada Ranti, diperankan Vanny Meisella, yang kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Kepulangan tersebut berubah menjadi pengalaman mencekam setelah salah satu benda misterius bernama Rarangken dipindahkan.

Peristiwa itu memicu teror yang berkaitan dengan sosok Nyi Larang dan tragedi masa lalu. Ketika berusaha mengungkap asal-usul kejadian tersebut, Ranti menemukan bahwa legenda Rarang menyimpan rahasia yang telah tersembunyi selama puluhan tahun.

Upaya Ranti menghancurkan Rarangken justru menghadirkan kejutan yang mengisyaratkan bahwa kutukan tersebut belum berakhir.

Melalui cerita ini, Rarangken mengangkat persoalan rahasia keluarga, rasa bersalah, dan warisan masa lalu yang terus menghantui generasi berikutnya. Budaya Sunda menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer, konflik, serta misteri yang menyelimuti perjalanan para tokohnya.

Selain Vanny Meisella sebagai Ranti, film ini dibintangi Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai Tetua Adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti kecil, serta Bhadra sebagai Jati kecil.

Horor sebagai Sarana Mengenalkan Warisan Budaya

Diskusi Let’s Talk to Horror menegaskan pentingnya menjadikan budaya lokal sebagai salah satu kekuatan utama perfilman horor Indonesia.

Legenda, ritual, kepercayaan leluhur, hingga cerita yang berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi yang luas bagi para sineas. Kekayaan tersebut juga membuka peluang untuk menghadirkan film dengan karakter yang berbeda sekaligus memperkenalkan tradisi Nusantara kepada penonton yang lebih luas.

Melalui penetapan Pirunduk sebagai film terbaik Oktober 2026, diskusi budaya, dan perilisan Rarangken, Festival Film Horor menghadirkan ruang bagi pelaku industri untuk mengembangkan perspektif mengenai masa depan film horor Indonesia.

Di tengah persaingan industri hiburan yang semakin ketat, eksplorasi budaya Nusantara berpotensi menjadi kekuatan kreatif yang membedakan karya sineas Indonesia sekaligus membantu menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
(Nina)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • FFH Pilih Pirunduk sebagai Film Terbaik Oktober 2026, Rarangken Angkat Mistik dan Budaya Sunda

Trending Now