Bencana alam kembali melanda wilayah Kabupaten Dogiyai. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan longsor besar di Kampung Kegata, Distrik Piyaiye, pada Kamis (7/11/2025) sekitar pukul 15.20 Waktu Papua. Longsoran dari perbukitan menghantam pemukiman warga, termasuk Gereja Antiokia Kegata yang baru diresmikan tahun lalu.
Peristiwa tersebut disaksikan langsung oleh warga Kampung Kegata. Rumah ibadah yang selama ini menjadi pusat kegiatan rohani jemaat kembali mengalami kerusakan berat. Atap gereja runtuh, dinding bangunan roboh, dan material longsor menerobos hingga ke bagian belakang gereja. Kondisinya kini dinyatakan tidak dapat digunakan lagi.
Bencana ini menambah rentetan kejadian serupa di wilayah Piyaiye. Sebelumnya, pada 27 Juni 2025, Gereja Kema Injil Indonesia (GKII) Kegata juga dilanda banjir dan longsor yang merusak bangunan gereja. Jemaat kala itu bekerja keras membersihkan lumpur agar tempat ibadah dapat kembali difungsikan.
Namun kini, Gereja Kemah Injil Indonesia Wilayah III Papua Daerah Kegata kembali menjadi korban bencana yang sama. Longsor pada 7 November tidak hanya merusak gereja, tetapi juga menghantam sedikitnya lima rumah warga dengan material batu-batu besar.
Kepada wartawan, salah satu warga Kampung Kegata, Ferdinan Bidau Mote, membenarkan kejadian tersebut.
“Hujan turun sepanjang hari, warga tidak bisa berkebun atau beraktivitas. Longsor datang tiba-tiba dan menghantam gereja sampai rusak total. Semua bagian dalamnya hancur. Rumah warga juga kena hantam batu besar,” ujarnya pada Sabtu (8/11/2025).
Ia menambahkan bahwa masyarakat kini hidup dalam kekhawatiran karena bencana bisa terjadi kapan saja. Sejumlah warga bahkan terpaksa mengungsi karena rumah mereka tertimbun.
Masyarakat dan jemaat Gereja Antiokia Kegata menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah maupun provinsi untuk turun tangan secara serius.
“Pemerintah sebagai wakil Tuhan harus hadir di tengah masyarakat. Kami berharap pemerintah bisa membangun kembali gereja serta membantu warga yang rumahnya rusak,” ujar Mote.
Saat ini jemaat terpaksa mendirikan tempat ibadah darurat agar kegiatan rohani tetap dapat berlangsung.
Editor : Helucha
Kontributor : Lambertus Magai

