Upacara wisuda tersebut menjadi simbol keteguhan luar biasa setelah perjalanan pendidikan yang penuh cobaan. Selama masa studi, para lulusan menghadapi pemboman, pengungsian, kehilangan orang-orang terkasih, serta penargetan sistematis terhadap sektor kesehatan dan pendidikan di Jalur Gaza.
Acara yang disponsori Yayasan Samir ini digelar di halaman Kompleks Medis Al-Shifa—rumah sakit terbesar di Gaza—yang hancur dan diserbu dua kali selama agresi Israel. Lokasi tersebut dipilih sebagai pesan simbolik: bahwa kehidupan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan tetap tumbuh bahkan dari jantung kehancuran.
Perayaan wisuda itu sekaligus menjadi pesan perlawanan moral dan kesetiaan terhadap nilai kemanusiaan. Para lulusan disebut sebagai dokter yang lahir “dari jantung pembantaian”, tetap berdiri tegak meski perang menghantam hampir seluruh aspek kehidupan di Gaza.
Potret para tenaga medis yang gugur dipajang di dinding Gedung Bedah Khusus yang hancur, disertai tulisan, “Kami mengikuti jejakmu dan melanjutkan perjalanan kedokteran dan kemanusiaan.” Area upacara juga dihiasi foto-foto para martir dari kalangan mahasiswa kedokteran, di bawah slogan, “Mereka bersama kami di jalan, tetapi tidak hadir di podium wisuda.”
Dalam pidatonya, wisudawan Ezz El-Din Lulu menggambarkan betapa berat jalan menuju kelulusan. Ia mengungkapkan bahwa selama masa studinya, ia menerima kabar gugurnya 20 anggota keluarganya, termasuk sang ayah, yang hingga kini jenazahnya masih tertimbun reruntuhan. “Kehilangan itu tidak menghentikan saya untuk menyelesaikan pendidikan ini,” ujarnya dengan suara bergetar.
Sementara itu, Raghad Hassouna, salah satu dokter lulusan, menuturkan bahwa nama “Phoenix” bukan sekadar simbol. “Ini adalah nubuat yang terpenuhi. Kami muncul dari penderitaan dan kehancuran, dan dari tantangan besar akibat perang, dengan tekad yang lebih kuat untuk hidup dan berhasil,” katanya.
Upacara tersebut juga diisi dengan pidato para dekan fakultas kedokteran dan tokoh-tokoh yang mendampingi perjalanan para mahasiswa. Mereka menyampaikan kebanggaan mendalam atas keteguhan para lulusan, seraya mendoakan masa depan yang lebih aman, stabil, dan penuh pengabdian di bidang kemanusiaan.
Dalam kesaksiannya, Dr. Alaa Zaqout, lulusan Universitas Islam, mengatakan bahwa tahun-tahun studinya bertepatan dengan “perang tragis” yang menghantam keluarga, tempat pendidikan, dan lokasi pelatihannya. Ia mengaku berkali-kali menerima kabar kehilangan kerabat dan rekan yang gugur saat menjalani pelatihan di rumah sakit. “Beban psikologis itu sangat berat, tetapi justru memperkuat tekad saya untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran,” ujarnya, meski kelulusannya tertunda sekitar enam bulan.
Sementara itu, Dr. Reham Al-Souri, lulusan Universitas Al-Azhar, menuturkan bahwa ia harus menjalani pelatihan dalam kondisi lapangan yang sangat berbahaya, di tengah keterbatasan sumber daya akibat pengepungan dan rusaknya infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Pemadaman listrik dan internet, kesulitan transportasi, serta pelatihan yang tidak menentu menjadi bagian dari kesehariannya. Ia tetap melanjutkan pelatihan di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, meskipun fasilitas yang tersedia jauh dari memadai dibandingkan sebelum perang.
Dr. Shams Abu Suweireh juga mengisahkan penderitaan akibat pengungsian, minimnya bahan belajar, serta ketergantungan pada perangkat elektronik di tengah krisis listrik dan internet. Ia menegaskan bahwa semua rintangan tersebut tidak mematahkan mimpinya. “Kami menentang segalanya karena keyakinan kami pada mimpi kami,” katanya.
Di Gaza, wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah pernyataan hidup, bahwa di tengah kehancuran dan kematian, generasi baru dokter tetap lahir—siap mengabdi, menyembuhkan, dan menjaga harapan tetap menyala.
sumber: infopalestina

