KPU Lembata Gelar Safari Demokrasi di Kolipadan, Ajak Pemuda Muslim jadi Agen Perubahan Berintegritas

Redaksi
Maret 01, 2026 | Maret 01, 2026 WIB Last Updated 2026-03-01T02:13:47Z
Keterangan Foto: Komisioner KPU Kabupaten Lembata Ibrahim Kader dan Paulina Y.B. Tokan saat safari demokrasi di Desa Kolipadan (ist.)


Lembata, NTT, detiksatu.com || Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lembata menggelar kegiatan “Sedap Ramadhan 1447 H: Safari Demokrasi Partisipatif” di Masjid Raudhatul Mustaqim, Desa Kolipadan, Kecamatan Ile Ape, Sabtu (28/02/2026). 

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi politik bagi remaja muslim, anggota karang taruna, serta pemilih pemula, sekaligus ajakan untuk menjadikan pemuda sebagai agen perubahan demokrasi yang berintegritas.

Kegiatan Safari Demokrasi ini dihadiri oleh Komisioner KPU Kabupaten Lembata, Ibrahim Kader dan Paulina Y.B. Tokan, serta Rifky Balamaking, tokoh pemuda Desa Kolipadan. 

Acara dikemas dalam suasana hangat Ramadhan 1447 H dan diawali dengan buka puasa bersama.

Dalam pemaparannya, Ibrahim Kader menegaskan bahwa meskipun saat ini berada pada masa non-tahapan pemilu, KPU tetap berkomitmen memberikan edukasi politik kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Di bulan puasa ini, di mana Ramadhan merupakan bulan pendidikan, mari kita jadikan momentum ini untuk membagi informasi, demi peningkatan kemampuan dan pemahaman kita dalam kehidupan berdemokrasi,” ujarnya

Ia menjelaskan bahwa Ramadhan juga dikenal sebagai "Syahru at-Tarbiyyah" atau bulan pendidikan, karena melalui puasa manusia dididik tentang kedisiplinan, mulai dari disiplin waktu berbuka, sahur, hingga ketaatan pada aturan. 

Menurut Kadiv Teknis Penyelenggaraan KPU Lembata itu, nilai-nilai tersebut merupakan bentuk pendidikan karakter yang relevan dalam kehidupan sosial dan demokrasi.

Baginya, Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menempa diri dan membangun karakter generasi muda.

“Membangun karakter generasi muda adalah kunci. Terutama kejujuran dan disiplin serta rasa empati dan saling menghargai. Jangan mudah tergiur dengan politik uang (money politics)," ujar Ibrahim. 

Ia mendorong pentingnya saling menghargai dalam perbedaan pilihan. Pemuda Muslim harus menjadi corong informasi yang cerdas dalam menyaring berita di media sosial,” tegas Ibrahim.

Ia juga menekankan bahwa demokrasi tidak harus diwujudkan dengan masuk ke partai politik. Demokrasi dapat dimulai dari hal-hal kecil dalam keluarga, seperti berani menentukan pilihan secara bertanggung jawab, hingga aktif berkontribusi dalam organisasi kepemudaan demi kemajuan desa.

Senada dengan hal tersebut, Paulina Y.B. Tokan Kadiv Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Lembata mengajak para pemuda untuk memperkuat literasi membaca dan literasi informasi. 

Di tengah banjir informasi digital, ia menekankan pentingnya verifikasi berita agar masyarakat, khususnya pemilih pemula, tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks yang dapat memecah belah persatuan.

Menurutnya, remaja muslim harus menjadi garda terdepan dalam memfilter berbagai informasi, terutama informasi yang berkaitan dengan demokrasi dan kepemiluan.

Diskusi semakin dinamis saat tokoh pemuda setempat, Rifky Balamaking, memaparkan realitas di lapangan. Ia menyoroti masih kuatnya politik kepentingan di desa yang kerap memposisikan penyelenggara pemilu, seperti PPS, PPK, dan KPU, sebagai pihak yang disalahkan.

Rifky juga mengkritisi teknis kampanye yang sering terpusat dan kurang merata, serta rendahnya kepercayaan diri pemuda desa untuk terlibat sebagai penyelenggara pemilu.

“Kami mengharapkan adanya perbaikan dalam proses rekrutmen dan teknis di lapangan agar lebih baik dan inklusif,” ujarnya.

Sesi tanya jawab menghadirkan suara kritis dari Fajrul, perwakilan pemuda Desa Kolipadan. 

Fajrul mengungkapkan keresahan terkait praktik nepotisme dalam keluarga serta maraknya politik uang, yang membuat pemuda sering kali hanya menjadi penonton dalam pesta demokrasi.

Menurutnya, dalam menentukan pilihan, pemilih pemula cenderung mengikuti arah pilihan orang tua.

Menanggapi hal tersebut, Ibrahim Kader dan Paulina Y.B. Tokan memberikan dorongan agar pemuda berani menjaga integritas dan kemandirian dalam berdemokrasi. 

Mereka menegaskan pentingnya keberanian melapor, memilih berdasarkan hati nurani, serta tidak tunduk pada tekanan maupun imbalan.

Kegiatan Safari Demokrasi ditutup dengan buka puasa bersama dan pesan motivasi kepada para pemuda di Masjid Raudhatul Mustaqim agar tidak lagi menjadi penonton dalam proses demokrasi.

“Jadilah "agent of control" dan "agent of change" bagi lingkungan sekitar,” tutup Ibrahim, mengakhiri Safari Demokrasi dengan harapan lahirnya generasi pemilih yang cerdas, kritis, dan berintegritas di Desa Kolipadan.

Reporter: Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • KPU Lembata Gelar Safari Demokrasi di Kolipadan, Ajak Pemuda Muslim jadi Agen Perubahan Berintegritas

Trending Now