Jakarta, detiksatu.com || Kawasan Blok M Square yang sempat mengalami penurunan aktivitas dalam beberapa tahun terakhir kini kembali menunjukkan denyut kehidupan yang kian menguat. Pusat perbelanjaan legendaris di Jakarta Selatan tersebut tampak ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan.
Pantauan wartawan, Kamis (8/1/2026), memperlihatkan kios-kios ritel dan tenan kuliner kembali aktif, sementara arus pengunjung terlihat nyaris merata di hampir seluruh area mal.
Kebangkitan Blok M Square tidak terlepas dari peran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kembali mengisi ruang-ruang usaha dengan beragam konsep kuliner dan produk kreatif. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga pekerja kantoran tampak lalu-lalang, menikmati suasana yang kini terasa lebih hidup dibandingkan beberapa waktu lalu.
Salah satu magnet keramaian adalah gelaran kuliner bertajuk “Dapur Kuliner Nusantara” dengan tema From Asian to Bali. Event yang berlangsung sejak 24 Desember 2025 hingga 11 Januari 2026 ini menghadirkan sekitar 50 tenan kuliner dari berbagai daerah dan konsep masakan.
Juan (23), kasir sekaligus perwakilan event organizer, mengungkapkan antusiasme pengunjung terbilang tinggi sejak hari pertama pelaksanaan hingga saat berita ini diturunkan.
“Pengunjung sangat antusias. Dari awal acara sampai sekarang selalu ramai, terutama di jam sore dan malam. Untuk tenan sendiri kurang lebih ada 50, dengan berbagai macam jenis kuliner,” ujar Juan kepada wartawan.
Selain sektor kuliner, meningkatnya minat masyarakat terhadap hiburan layar lebar turut menjadi pendorong ramainya Blok M Square. XXI Blok M Square menjadi salah satu titik yang menyedot perhatian publik, seiring penayangan film nasional terbaru berjudul “Uang Passolo”, karya sineas muda asal Sulawesi Selatan, Andi Burhamzah.
Di tengah keramaian pengunjung, kami menjumpai Ayu Andriani (34), seorang ibu muda asal Soppeng, Sulawesi Selatan, yang datang bersama suaminya, Fahmy Nurdin (46). Keduanya baru saja menyaksikan film Uang Passolo di Studio 6 XXI, lantai 5 Blok M Square.
“Baru selesai nonton Uang Passolo. Filmnya sangat dekat dengan realitas kehidupan orang Bugis, terutama soal tradisi dan persiapan pernikahan,” kata Ayu usai pemutaran film.
Menurut Ayu, film tersebut berhasil menggambarkan dinamika kehidupan anak muda Bugis-Makassar yang kerap dihadapkan pada tuntutan adat, tradisi, serta ekspektasi keluarga. Dalam konteks budaya Bugis, kehormatan keluarga dan gengsi sosial masih menjadi pertimbangan utama, sehingga pilihan pribadi sering kali harus menyesuaikan dengan kehendak orang tua dan nilai leluhur.
“Ceritanya menyentuh. Anak muda digambarkan terikat tradisi, harus menjaga nama baik keluarga. Kadang keinginan pribadi harus dikalahkan demi memenuhi harapan orang tua,” tuturnya.
Ia menilai film ini relevan sebagai bahan refleksi, khususnya bagi generasi muda. Pesan moral yang disampaikan dinilainya kuat dan jernih, terutama tentang pentingnya menghormati orang tua serta tidak memaksakan kehendak pribadi hingga mengorbankan nilai kemanusiaan.
“Pesan yang paling kena itu soal jangan memaksakan kehendak sampai membuat ibu kita menangis. Ada hal-hal yang mungkin tidak selalu kita pahami sebagai anak, tapi orang tua pasti punya pertimbangan sendiri,” tambah Ayu.
Film Sarat Pesan Sosial dan Budaya
Dirilis pada 8 Januari 2026, Uang Passolo dibintangi oleh Imran Ismail, Masita Aspam, Jade Thamrin, Adhy Basto, Tumming Abu, Godfred Orindeod, Reynold Lawalata, serta Sukri Basto.
Film ini memadukan drama dengan sentuhan komedi ringan, namun tetap menyajikan kritik sosial yang tajam dan relevan dengan realitas masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan.
Secara garis besar, film ini mengangkat persoalan tradisi, gengsi sosial, dan tekanan ekonomi dalam prosesi pernikahan Bugis-Makassar, yang dikenal dengan istilah uang passolo. Kontribusi dana dalam hajatan pernikahan demi menjaga martabat dan kehormatan keluarga.
Kisah film berpusat pada Biba (Masita Aspam), seorang guru dengan penghasilan terbatas, dan Rizky (Imran Ismail), videografer pernikahan yang tengah mengalami keterpurukan ekonomi. Keduanya memimpikan pernikahan sederhana sebagai awal kehidupan baru.
Namun, harapan itu berbenturan dengan keinginan keluarga Biba yang menjunjung tinggi gengsi sosial dan menuntut uang passolo dalam jumlah besar.
Tekanan keluarga membuat rencana pernikahan berubah drastis. Jumlah tamu membengkak, tuntutan dekorasi dan katering mahal terus mengalir, hingga keharusan menghadirkan hiburan elekton selama dua malam berturut-turut. Di tengah situasi tersebut, Biba masih menyimpan impian membangun rumah sederhana untuk ibunya, sebuah keinginan yang perlahan terancam pupus.
Konflik memuncak ketika tanah keluarga harus digadaikan demi membiayai pesta pernikahan. Film ini dengan tajam menyoroti dilema klasik antara cinta, tanggung jawab keluarga, dan tekanan adat, tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan dan humor yang membumi.
Penayangan Uang Passolo serta meningkatnya jumlah pengunjung bioskop terbukti memberikan efek domino bagi aktivitas ekonomi Blok M Square.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku merasakan lonjakan pengunjung, terutama pada jam-jam sore hingga malam hari. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan pusat perbelanjaan yang selama ini mengandalkan sinergi antara sektor hiburan, kuliner, dan ritel.
Dengan kembalinya geliat pengunjung serta hadirnya karya film nasional yang mengangkat kearifan lokal, Blok M Square kembali menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai pusat belanja, melainkan juga sebagai ruang interaksi budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat urban Jakarta.
Red-Ervinna

