Pengikut

Demi Waktu, Mengapa Hidup Terasa Cepat Tapi Hampa?

Redaksi
Januari 01, 2026 | Januari 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-01T07:28:32Z
Jakarta,detiksatu.com -- Menjelang akhir tahun, kita sering terkejut oleh satu perasaan yang sama “kok sudah sampai di sini?” Rasanya baru kemarin kita menghitung mundur detik-detik pergantian tahun, rasanya baru kemarin kita menyusun resolusi, merencanakan ini-itu.

  Hari-hari kini 2025 hampir usai, dan 2026 sudah menunggu di depan pintu.  Tidak ada peristiwa besar yang fenomenal, hanya hari-hari yang berjalan seperti biasa. Namun justru di sanalah kegelisahan itu muncul, waktu berlalu, tetapi kita tidak sepenuhnya merasa hidup di dalamnya berlalu begitu saja, seolah tidak sempat kita genggam. Bukan karena hari-hari terlalu singkat, melainkan karena kita terlalu jarang benar-benar hadir di dalamnya. 

Fenomena ini bukan sekadar perasaan sentimental akhir tahun. Ia berkaitan dengan cara manusia mempersepsi waktu, bagaimana otak, ingatan, emosi, dan kesadaran kita membentuk pengalaman tentang cepat atau lambatnya hidup berjalan.

Dalam Islam, kegelisahan semacam ini bukan sekadar soal umur atau rutinitas. Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia tentang waktu sebagai sesuatu yang serius.

وَالۡعَصۡرِۙ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ‏  اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ   ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ 

 “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr). 

Kerugian itu tidak selalu berbentuk kegagalan besar. Ia sering hadir diam-diam dalam bentuk hari-hari yang dijalani tanpa kesadaran dan makna.

Waqt, Waktu yang Hidup

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia waktu adalah seluruh rangkaian yang berproses dengan keadaan dalam kehidupan. Waktu sering hanya dipandang sebagai entitas atau objek abstrak yang dibentuk ulang dari bagaimana kita menjalani kehidupan. ada tiga lapisan waktu dalam kehidupan kita, waktu fisika adalah struktur objektif yang berlaku secara konsisten dalam alam. 

Waktu persepsi adalah bagaimana otak mengukur waktu berdasarkan pengalaman senssorik dan kognitif. Waktu subjekktif adalah bagaimana kita merasakan keberadaan waktu dalam kesadaran kita. Waktu yang berulang dalam tiga lapisan ini menjelaskan mengapa satu jam terasa sangat panjang beberapa kali, dan sangat pendek dilain waktu, karena apa yang dirasakan otak dan kesadaran berubah, meskipun waktu fisik tetap sama.

Secara sederhana, waktu dalam pengertian fisika berjalan konstan. Satu menit tetap enam puluh detik, satu tahun tetap tiga ratus enam puluh lima hari. 

Sejarah waktu adalah perjalanan manusia memahami dan mengukur waktu, dari perputaran matahari dan bulan, pergantian siang dan malam digunakan oleh masyarakat peradaban kuno. 

Penciptaan alat ukur jam matahari, jam air, jam bandul, hingga penemuan jam atom yang sangat presisi, serta konsep waktu dalam fisika yang menghubungkan ruangwaktu dan relativitas menjadi awal mula yang penting bagi peradaban dan kehidupan sehari-hari.

Dalam teori relativitas Albert Einstein, waktu memang tidak mutlak, ia dapat melambat atau mempercepat tergantung kecepatan dan gravitasi tetapi dalam kehidupan sehari-hari, jam di dinding tetap berdetak dengan ritme yang sama bagi semua orang. Yang berbeda adalah cara kita merasakan waktu. Neurosains menunjukkan bahwa otak manusia tidak memiliki “jam internal” yang objektif. Persepsi waktu dibentuk oleh perhatian, emosi, intensitas pengalaman, dan jumlah memori yang tercipta. Otak menilai panjang-pendeknya waktu bukan dari jarum jam, melainkan dari seberapa banyak pengalaman yang tercatat di dalamnya. Karena itulah satu jam menunggu bisa terasa sangat lama, sementara satu hari yang sibuk berlalu tanpa bekas. Waktu fisik sama, tetapi waktu batin kita berbeda.

Islam tidak memandang waktu hanya sebagai angka di kalender atau jarum jam. Ada konsep waqt, yaitu waktu yang dihidupi dengan kesadaran, kesempatan yang Allah titipkan kepada manusia untuk bertumbuh, berbuat, dan mendekat. Waktu tidak pernah netral. Ia bisa menjadi jejak kebaikan atau penanda kelalaian. 

Waqt bersifat batiniah, ketika hati benar-benar hadir. Berbeda dengan waktu konstan. Dua orang bisa menjalani satu hari yang sama panjang, tetapi kualitas waktunya sangat berbeda. Yang satu penuh makna dan kehadiran, yang lain berlalu begitu saja tanpa amal kebaikan. 

Waqt mengajarkan bahwa waktu adalah amanah. Ia bukan milik kita, melainkan titipan. Maka yang dipertanyakan bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi setiap kesempatan yang diberikan.

Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat?

Ilmu pengetahuan modern membantu menjelaskan mengapa waktu sering terasa “melaju”.  Otak manusia tidak memiliki jam internal yang objektif. Ia mengukur waktu lewat pengalaman, emosi, dan ingatan. Ketika hidup dipenuhi rutinitas dan distraksi, sedikit hal yang benar-benar terekam dalam memori. Akibatnya, waktu terasa meluncur cepat.

Saat hidup dijalani seperti oautopilot, sibuk, bergerak, dan produktif, tetapi tidak sepenuhnya hadir. Waktu tetap berjalan, namun kesadaran kita tertinggal di belakang.

Ada analogi sederhana untuk memahami mengapa waktu terasa makin cepat seiring bertambahnya usia. Bayangkan hidup seperti gelas air. Di masa kecil, gelas masih kosong. Satu sendok pengalaman terasa berarti, ia mengisi bagian besar dari ruang yang ada. Saat gelas hampir penuh, satu sendok tambahan nyaris tak terasa.

Begitulah usia bekerja. Saat kecil, hampir setiap hari dipenuhi pengalaman baru seperti belajar berjalan, sekolah pertama, pertemanan baru. Otak merekam banyak “cap memori”, sehingga waktu terasa panjang dan penuh. Saat dewasa, hidup cenderung repetitif, rutinitas kerja, layar gawai, target demi target. Karena sedikit hal baru yang benar-benar disadari, otak mencatat lebih sedikit penanda waktu. Akibatnya, tahun-tahun terasa meluncur cepat. Sedikit hal yang benar-benar kita sadari. Bukan karena Allah mempercepat waktu bagi orang dewasa, melainkan karena kita berhenti menaruh perhatian.

Islam tidak menjanjikan hidup yang panjang, tetapi hidup yang berkah. Barakah bukan soal jumlah waktu, melainkan dampaknya. Sedikit waktu yang diisi dengan niat baik dan kesadaran bisa melahirkan ketenangan dan kebaikan yang panjang umurnya.

Banyak ulama besar menghasilkan karya luar biasa dalam usia yang tidak selalu panjang. Rahasianya bukan jam yang lebih banyak, melainkan waktu yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Barakah waktu lahir ketika waktu diperlakukan sebagai amanah, bukan sekadar ruang untuk mengejar target.  Sebaliknya, waktu yang penuh kecemasan, distraksi, dan kejaran tanpa henti seringkali terasa kosong saat dikenang.

Hidup Setengah Hadir

Di era kecepatan dan distraksi, banyak dari kita hidup dalam mode automatic. Perhatian terbagi antara notifikasi, pekerjaan, dan kecemasan akan hal berikutnya. Kita selalu bertanya “setelah ini apa, besok apa, target berikutnya apa?”. Saat perhatian terfragmentasi seperti ini, otak tidak sempat merekam momen secara utuh.

Tanpa sadar, saat ini tidak pernah benar-benar kita miliki. Hari-hari berlalu tanpa meninggalkan jejak emosi dan makna. Dalam keadaan semacam ini waktu pun terasa seperti sesuatu yang dilewati, bukan dijalani. Inilah kerugian yang sunyi. Akhir tahun sering memunculkan perasaan hampa, banyak waktu telah dilewati, tetapi sedikit yang benar-benar dialami.

Ketika seseorang tidak mampu memaknai perjalanan waktunya, muncul kegelisahan eksistensial. Hidup terasa berjalan tanpa arah. Masa depan tampak kabur, masa lalu tidak memberi pegangan. Waktu berubah menjadi arus yang menyeret, bukan jalan yang kita pilih dengan sadar.

Padahal, kesadaran akan keterbatasan hidup seharusnya melahirkan kebijaksanaan. Waktu yang disadari mengarahkan manusia pada apa yang disebut ihsan menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap momen memiliki nilai dan berada dalam pengawasan Allah.

Kita memang tidak bisa memperlambat jam, tetapi kita bisa memperkaya waktu. Bukan dengan berhenti dari kesibukan, melainkan dengan menghadirkan hati. Otak manusia mengenal dua mode utama: mode otomatis dan mode atensi penuh. Dalam mode otomatis, pengalaman berlalu tanpa detail. Dalam mode atensi penuh, otak merekam suara, rasa, tekstur, emosi dan membentuk memori yang lebih dalam.

Hal-hal sederhana seperti mencoba rute baru, belajar keterampilan baru, benar-benar mendengarkan orang lain, atau jeda sejenak untuk menarik napas dengan sadar, atau meluruskan niat sebelum bekerja  sebelum berpindah aktivitas dapat menciptakan “ruang kesadaran”. Ruang inilah yang membuat waktu terasa lebih hidup.

Dalam istilah modern, ini disebut perhatian penuh atau mindfullness. Dalam tradisi Islam,  hal ini seperti konsep  hudhur al-qalb,kehadiran hati. mengembalikan kesadaran dan fokus hati sepenuhnya kepada Allah dalam setiap tindakan, menjadikan ibadah lebih hidup dan bermakna. Seperti sungai yang terus mengalir, waktu tidak bisa dihentikan. Namun kita bisa memilih untuk masuk ke dalamnya dan merasakan arusnya, bukan sekadar terbawa.

Menamai Perasaan, Menambatkan Waktu

Waktu juga, bersifat emosional.  Ketika kita berani menamai apa yang kita rasakan, seperti perasaan cemas, syukur, lelah, tenang, hal itu seperti kita sedang menambatkan diri pada momen kini. Psikolog Viktor Frankl menyebut bahwa manusia menemukan makna melalui kesadaran atas pengalamannya sendiri. Dengan menyadari emosi, kita membangun narasi waktu batin jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan.  Inilah inti muhasabah, berhenti, menoleh ke dalam, dan menyadari posisi diri.

Menjelang akhir tahun, muhasabah bukan tentang menghitung pencapaian, tetapi menanyakan kualitas kehadiran: berapa banyak waktu yang benar-benar kita hidupi, bukan sekadar kita lewati. Dengan cara ini, waktu tidak lagi terasa kosong. Ia menjadi rangkaian pengalaman yang saling terhubung.

Di penghujung 2025, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apa saja yang telah kita capai, tetapi seberapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri. Waktu tidak hanya diukur oleh kalender dan jam, tetapi oleh kesadaran, emosi, dan makna yang kita tanamkan di dalamnya. Waktu bukan musuh yang harus dikejar, melainkan amanah yang harus dijaga.

Jika tahun ini terasa berlalu begitu saja, barangkali bukan karena hidup terlalu cepat, melainkan karena kita terlalu jarang berhenti untuk benar-benar hadir. Dan mungkin, itulah resolusi paling manusiawi untuk menyambut tahun baru: bukan mengejar waktu, tetapi belajar tinggal di dalamnya. Semoga di tahun yang akan datang, kita belajar kembali menghormati waktu dengan kesadaran, niat yang lurus, dan harapan akan barakah di setiap detiknya.

(Mn)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Demi Waktu, Mengapa Hidup Terasa Cepat Tapi Hampa?

Trending Now