*Oleh. Gasper Tabuni.*
Dalam lanskap peradaban modern, kita sering kali terperangkap oleh tirani yang kasat mata. Kita memiliki kepekaan yang luar biasa tajam terhadap retakan pada dinding gedung, lubang di jalan raya, atau karat pada tiang jembatan. Ketika infrastruktur fisik ini goyah, masyarakat menjerit dan telunjuk segera mengarah pada otoritas, menuntut perbaikan segera atas nama keselamatan publik. Namun, di balik riuh rendah tuntutan perbaikan fisik tersebut, terjadi sebuah pengabaian massal yang sunyi namun mematikan terhadap proyek pembangunan yang jauh lebih fundamental: konstruksi nalar dan jiwa manusia. Kita sibuk memoles wajah kota, namun membiarkan arsitektur interior manusianya lapuk dan keropos.
Pembangunan non-fisik sejatinya adalah proses "mengisi daya" pada perangkat lunak kemanusiaan—sebuah upaya memasukkan program nilai, identitas, dan kapasitas intelektual melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan. Namun, tragedi terjadi ketika proses pengisian daya ini mengalami disfungsi fatal. Ketika kita salah dalam memasang fondasi mental atau memberikan asupan energi yang tidak sesuai dengan "spesifikasi" identitas otentik manusia, kita tidak sedang membangun peradaban, melainkan sedang merakit bom waktu sosiologis. Kerusakan pada sistem non-fisik ini jauh lebih berbahaya karena ia tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi getarannya mampu meruntuhkan seluruh sistem kehidupan. Seorang koruptor yang menggerogoti uang negara triliunan rupiah bukanlah orang yang bodoh atau tidak berpendidikan; sebaliknya, ia adalah bukti nyata dari sebuah "bangunan" manusia yang megah di luar namun memiliki struktur moral yang telah runtuh total di dalam.
Ironi ini semakin tajam ketika kita melihat fenomena kamuflase intelektual di sekitar kita. Kita sering kali terkecoh oleh estetika luar; sosok-sosok berdasi, berkemeja rapi, berparas rupawan, dan memegang status mahasiswa atau pejabat. Secara visual, mereka tampak sebagai produk keberhasilan pembangunan manusia. Namun, ketika diuji dalam dialektika kehidupan nyata, yang kita temukan hanyalah kekosongan substansi. Ini adalah fenomena "Reruntuhan Berjalan". Mereka adalah individu yang secara fisik hadir dan terlihat berdaya, namun secara mental dan spiritual telah menjadi puing-puing. Sistem otak mereka tidak dikonstruksi untuk menghasilkan solusi, melainkan terprogram oleh hasrat purba untuk menguasai atau merusak, yang kemudian diperparah oleh hilangnya akar identitas diri akibat sistem pendidikan yang mencabut mereka dari realitas sosialnya.
Puncak dari kegagalan konstruksi berpikir ini termanifestasi secara vulgar dalam ruang-ruang yang seharusnya sakral bagi kaum intelektual, seperti seminar, perayaan Natal mahasiswa, atau Musyawarah Besar (Mubes). Di forum-forum ini, kita menyaksikan sebuah ritual "vandalisme verbal" yang sering disalahartikan sebagai sikap kritis. Debat kusir menjadi panglima. Dalam proses ini, tujuan utamanya bukan lagi pencarian kebenaran atau penyusunan solusi, melainkan penghancuran lawan bicara. Kritik yang dilontarkan tidak ubahnya seperti palu godam yang diayunkan untuk merobohkan dinding argumen saudara sendiri, tanpa sedikitpun niat atau kemampuan untuk menyodorkan batu bata pengganti guna membangun kembali dinding yang lebih kokoh.
Perilaku saling serang tanpa basis data dan bukti keberhasilan ini menandakan adanya cacat logika yang parah dalam konstruksi otak kolektif kita. Kita terjebak dalam ilusi bahwa menjatuhkan orang lain akan otomatis meninggikan diri sendiri. Padahal, kritik tanpa solusi konstruktif hanyalah kebisingan yang mempercepat entropi sosial. Seharusnya, forum intelektual adalah bengkel arsitektur peradaban, di mana setiap argumen berfungsi untuk merekonstruksi, menambal yang bocor, dan memperkuat yang lemah berdasarkan bukti empiris dan niat baik. Jika kita tidak segera menyadari bahwa pembangunan manusia adalah tentang merekonstruksi cara berpikir dari sekadar "memenangkan perdebatan" menjadi "memenangkan masa depan bersama", maka segala atribut kemajuan fisik dan gelar akademik yang kita sandang hanyalah kosmetik di atas wajah peradaban yang sedang membusuk.
*Infrastruktur Non-Fisik: Urgensi Anggaran Permanen sebagai Mekanisme Reset Sosial dan Penjaringan Gagasan Ilmiah*
Pemerintah Daerah harus segera meredefinisi cara pandang mereka terhadap himpunan mahasiswa dan pelajar, bukan lagi sekadar sebagai objek penerima bantuan sosial, melainkan sebagai aset modal manusia (human capital) paling vital yang dimiliki daerah ini. Oleh karena itu, agenda tahunan seperti Natal, Musyawarah Besar, maupun Seminar Ilmiah tidak boleh lagi dipandang sebagai ritual seremonial semata yang menghabiskan anggaran, melainkan harus diakui sebagai "inkubator peradaban" tempat lahirnya rekomendasi kebijakan berbasis riset dan evaluasi pembangunan yang objektif. Sangat ironis jika para mahasiswa—yang seharusnya sibuk menajamkan pisau analisis untuk membedah permasalahan daerah—justru terpaksa mengorbankan waktu akademis mereka menjadi "pengemis proposal" di jalanan demi terselenggaranya kegiatan ini. Para alumni yang kini telah duduk nyaman di kursi Eksekutif dan Legislatif memikul tanggung jawab moral dan historis untuk memutus mata rantai ketidakpastian ini; sudah saatnya ditetapkan pos anggaran tahunan yang permanen dan bermartabat dalam APBD untuk agenda puncak ini, sehingga energi intelektual mahasiswa tidak habis menguap untuk urusan logistik, melainkan fokus sepenuhnya pada produksi gagasan solutif untuk kemajuan daerah.
Lebih jauh lagi, pemerintah perlu memahami dimensi psikologis yang mendalam dari perhelatan akhir tahun ini sebagai mekanisme "reset sosial" bagi kaum intelektual muda. Setelah sekian lama terkurung dalam tekanan ruang kuliah dan dinamika akademis yang kaku, momen pertemuan akbar ini berfungsi sebagai ruang katarsis—sebuah peleburan diri kolektif untuk menetralisir kecemasan dan memulihkan kesehatan mental sebelum mereka kembali bertarung di arena ilmu pengetahuan. Ketika ruang psikologis mereka telah dipulihkan dan "daya" mereka telah terisi kembali melalui interaksi yang sehat, maka output yang dihasilkan bukan lagi kritik yang destruktif, melainkan evaluasi jernih dan program unggulan berbasis ilmiah yang dapat diadopsi langsung oleh Pemerintah Daerah. Dengan membiayai kegiatan ini secara penuh, pemerintah sejatinya tidak sedang membuang uang, melainkan sedang berinvestasi pada pemeliharaan "kewarasan" generasi penerus sekaligus membeli naskah akademik masa depan yang lahir dari kejernihan pikiran anak-anak negerinya sendiri.

