SUL-SEL-DETIKSATU.COM --Media pendidikan Islam di Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari kiprah Darud Da’wah wal Irsyad (DDI). Di balik lahir dan berkembangnya ormas dan jaringan pesantren ini, berdiri dua sosok sentral yang pengaruhnya melampaui zamannya: AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan murid kepercayaannya.
Anre Gurutta (AG) Aliyafi. Keduanya memainkan peran kunci dalam meletakkan fondasi dakwah dan pendidikan Islam modern di kawasan timur Indonesia.��Embrio DDI di Mangkoso Tahun 1930-anPada dekade 1930-an, tepatnya sejak pendirian Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso pada 21 Desember 1938, AGH Ambo Dalle memulai kerja besarnya di kampung pesisir Mangkoso, Barru,
Sulawesi Selatan. Saat itu, lembaga yang kelak menjadi DDI ini dikenal sebagai MAI, ciri khas pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan yang menggabungkan tradisi keilmuan klasik dengan sistem terstruktur.��� MAI Mangkoso menarik santri dari berbagai pelosok Sulawesi hingga Kalimantan,
di tengah dinamika sosial-politik menjelang pendudukan Jepang, menjadi kebutuhan kaderisasi ulama yang terorganisasi.AGH Ambo Dalle tidak hanya mengajar di bilik kayu dan masjid, tetapi merintis cabang MAI di berbagai daerah. Langkah ini menjadikan MAI cikal bakal sistem pendidikan terpadu DDI, yang menguatkan posisinya sebagai ormas Islam berpengaruh di Indonesia Timur.
Penulis:Rd