Foto: BBM jenis Pertalite dijual dengan harga Rp 30 ribu di Kota Lewoleba (dok.EB)
Lembata, NTT, detiksatu.com || Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Lembata, NTT sejak beberapa hari terakhir memicu lonjakan harga dan berdampak serius terhadap aktivitas masyarakat.
BBM subsidi tersebut dijual dalam botol Aqua dengan harga bervariasi, mulai dari Rp20 ribu, Rp30 ribu hingga mencapai Rp50 ribu per botol, berukuran sekitar kurang lebih sekitar ¾ liter.
Hermanus Kia, warga Lewoleba, kepada detiksatu, Kamis (22/1/2026) mengaku melihat langsung penjualan Pertalite dalam ukuran ¾ liter di wilayah kota Lewoleba sejak Rabu, 21 Januari 2026.
Menurutnya, tingginya harga disebabkan keterbatasan atau kelangkaan stok BBM. Selain itu, kata dia, jalur distribusi diduga disabotase oleh oknum pengecer yang kemudian menjual kembali dengan harga mahal.
"Aktivitas lumpuh total, berdampak pada ekonomi terutama bagi usaha swasta seperti pedagang keliling, ojek, dan juga pelaku usaha tani, bengkel, nelayan yang menggunakan bahan bakar pertalite sangat terhambat,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah harus segera melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi BBM subsidi, khususnya terhadap antrean dan praktik penjualan kembali oleh oknum tertentu agar ditertibkan karena terindikasi menghambat dan membuat BBM tidak tersalurkan dengan benar.
Keluhan serupa juga disampaikan Ina Making, warga Lewoleba lainnya. Ia mengungkapkan bahwa Pertalite dijual seharga Rp20 ribu per botol Aqua, namun isinya tidak penuh. Harga tersebut, kata dia, ditemuinya hampir di seluruh wilayah Kota Lewoleba sejak 20 Januari 2026.
Menurut Ina, keterlambatan pasokan BBM diduga disebabkan terhambatnya akses kapal pengangkut minyak menuju Lembata akibat cuaca buruk.
“Saya sekarang mulai membawa bekal ke kantor supaya saat jam istirahat tidak perlu pulang ke rumah. Kendaraan (roda dua) juga digunakan benar-benar hanya untuk kebutuhan mendesak,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Yani, pengguna kendaraan bermotor roda dua. Ia menyebutkan bahwa harga Pertalite per botol Aqua yang terisi penuh dijual seharga Rp30 ribu di Kota Lewoleba.
Sementara itu, sumber lain menyebutkan adanya kendala di tingkat perusahaan transportir. Kapal pengangkut BBM yang berukuran kecil memiliki daya muat terbatas, sehingga distribusi semakin sulit, terutama di tengah kondisi hujan dan angin kencang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan dan lonjakan harga Pertalite di Lembata.
Namun, masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan agar distribusi BBM kembali normal dan aktivitas ekonomi dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Reporter: Emanuel Boli

