Pengikut

Inilah Cara Bijak Menyikapi Teknologi AI di Dunia Pendidikan

Redaksi
Januari 26, 2026 | Januari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-01-26T06:51:33Z




 Jakarta-- Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam dunia pendidikan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Teknologi ini dimanfaatkan untuk membantu pencarian referensi, penyusunan tugas, hingga penyelesaian persoalan akademik. Dari sisi kemudahan dan efisiensi, AI memberikan manfaat yang tidak dapat diingkari.

Namun, dalam perspektif Islam, setiap kemajuan teknologi harus ditempatkan dalam kerangka amanah. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang bisa dilakukan teknologi, tetapi bagaimana manusia menggunakannya tanpa mengabaikan fungsi akal yang telah Allah anugerahkan.

Dalam Islam, akal memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk tafakkur, tadabbur, dan ta‘aqqul. Seruan ini menegaskan bahwa berpikir bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan bentuk ibadah dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi pada proses pembentukan akal dan adab.

Pendidikan sejatinya melatih manusia untuk memahami persoalan, menimbang kebenaran, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Ketika sebagian besar proses ini dialihkan kepada AI, muncul risiko tergerusnya peran akal sebagai pusat pertimbangan. Peserta didik dapat memperoleh jawaban dengan cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk melatih daya pikir dan kedewasaan intelektual.

Fenomena ini mulai terlihat di berbagai lembaga pendidikan. Banyak peserta didik mampu menyelesaikan tugas dengan hasil yang tampak rapi dan sistematis, namun kesulitan menjelaskan isi dan alasan di balik tulisannya. Secara administratif, kewajiban belajar terpenuhi. Akan tetapi, secara substantif, proses pembentukan nalar dan kejujuran akademik belum tentu berjalan seimbang.

Sebagian pihak beranggapan bahwa teknologi selalu menjadi bagian dari perkembangan peradaban. Pandangan ini benar, namun Islam mengajarkan bahwa ilmu dan teknologi harus berjalan seiring dengan adab. AI tidak memiliki kesadaran moral, tidak memahami halal dan haram, serta tidak mampu menimbang maslahat dan mudarat. Ia bekerja berdasarkan data dan pola, bukan nilai dan tanggung jawab.

Dalam konteks ini, penggunaan AI tanpa batas berpotensi menimbulkan persoalan etis. Ketika tugas diselesaikan tanpa proses berpikir mandiri, kejujuran akademik dipertaruhkan. Padahal dalam Islam, ilmu adalah amanah. Cara memperoleh ilmu sama pentingnya dengan hasil yang diperoleh. Ilmu yang tidak melalui proses yang jujur berisiko kehilangan keberkahannya.

Oleh karena itu, diperlukan sikap yang proporsional dalam menyikapi AI dalam pendidikan. Pertama, AI harus ditegaskan posisinya sebagai alat bantu, bukan pengganti akal. Peserta didik dapat memanfaatkan AI untuk pengayaan wawasan dan eksplorasi awal, namun proses berpikir, menilai, dan menyimpulkan tetap harus dilakukan secara mandiri.

Kedua, lembaga pendidikan perlu menyesuaikan metode evaluasi pembelajaran. Penilaian tidak cukup hanya berbasis hasil tertulis, tetapi perlu dilengkapi dengan diskusi, presentasi, dan pengujian pemahaman secara langsung. Dengan demikian, kejujuran, pemahaman, dan kemampuan berpikir peserta didik dapat dinilai secara lebih utuh.

Ketiga, penguatan literasi dan etika teknologi harus menjadi bagian dari pendidikan Islam. Peserta didik perlu dibekali kesadaran bahwa penggunaan teknologi memiliki batas dan konsekuensi moral. AI harus digunakan dengan niat yang benar, cara yang jujur, dan tujuan yang maslahat.

Pada akhirnya, teknologi adalah sarana, bukan tujuan. Dalam Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas ilmu dan amalnya. AI dapat membantu proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran akal dan adab. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memadukan kecanggihan teknologi dengan kesadaran moral, sehingga melahirkan generasi yang cerdas, beradab, dan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.[]

{ papua Muislim}

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Inilah Cara Bijak Menyikapi Teknologi AI di Dunia Pendidikan

Trending Now