Jakarta, detiksatu.com || Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan mengumpulkan sebanyak 1.200 guru besar, dekan, dan rektor dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia dalam sebuah pertemuan dan dialog nasional di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Pertemuan tersebut menjadi perhatian publik karena melibatkan kalangan akademisi lintas disiplin dan institusi pendidikan tinggi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi yang juga bertindak sebagai Juru Bicara Presiden RI mengungkapkan, agenda tersebut merupakan bagian dari langkah strategis Presiden Prabowo sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dalam memperkuat peran pendidikan tinggi bagi masa depan bangsa.
“Ini bagian dari agenda Bapak Presiden untuk berdiskusi langsung, menyampaikan pandangan-pandangan beliau, sekaligus memberikan update mengenai kondisi negara kita saat ini, termasuk dinamika geopolitik global, serta rencana-rencana besar yang harus kita kerjakan ke depan,” ujar Prasetyo Hadi kepada wartawan sebelum acara dialog berlangsung di halaman tengah Istana Kepresidenan RI.
Menurut Prasetyo, yang akrab disapa Pras, pertemuan tersebut juga mencerminkan perhatian dan komitmen Presiden Prabowo terhadap sektor pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi sebagai salah satu pilar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Kalau saudara-saudara perhatikan, dalam satu minggu terakhir ini kita betul-betul ingin menjadikan pendidikan sebagai fokus perhatian. Kita memahami bahwa pendidikan adalah salah satu pondasi dan faktor kunci pembangunan bangsa. Selain kita bekerja keras mengejar swasembada pangan dan swasembada energi, pondasi utamanya tetaplah sumber daya manusia,” jelas Prasetyo
Ia menegaskan, tanpa SDM yang unggul dan berdaya saing, berbagai program besar nasional akan sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan para guru besar, dekan, dan rektor dinilai sangat penting sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan ke depan.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan para akademisi tersebut dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB dan secara khusus melibatkan guru besar dari bidang sosial dan humaniora. Seluruh rangkaian acara, mulai dari penyampaian taklimat oleh Presiden hingga sesi dialog, berlangsung secara tertutup.
Meski demikian, Prasetyo Hadi memberikan sedikit gambaran mengenai isu-isu strategis yang akan dibahas dalam forum tersebut. Salah satunya adalah persoalan pemenuhan kebutuhan tenaga dokter di Indonesia yang hingga kini masih menjadi tantangan besar.
“Diskusi ini sebenarnya sudah mulai dibahas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Misalnya terkait bagaimana kita mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter. Berdasarkan data yang ada, Indonesia masih kekurangan lebih dari 100.000 dokter. Ini tentu harus kita carikan solusi bersama, bagaimana caranya bisa mempercepat tanpa mengorbankan kualitas,” ungkap Pras.
Selain isu tenaga kesehatan, peningkatan kualitas perguruan tinggi dalam negeri juga menjadi tema penting dalam dialog tersebut. Pemerintah, kata Pras, tengah mengkaji berbagai skema untuk meningkatkan mutu universitas negeri sekaligus meringankan beban operasional yang selama ini berdampak pada biaya pendidikan mahasiswa.
“Kita sedang menghitung dan memikirkan bagaimana bisa mengurangi beban operasional di setiap perguruan tinggi negeri. Kita sadar bahwa amanat konstitusi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dan salah satu jalannya melalui pendidikan tinggi. Karena itu, kita ingin universitas-universitas kita maju, berkualitas, dan pada saat yang sama tidak memberatkan masyarakat atau mahasiswa dari sisi pembiayaan,” jelasnya.
Prasetyo menambahkan, Presiden Prabowo berharap dialog ini tidak sekadar menjadi forum seremonial, melainkan ruang pertukaran gagasan yang konstruktif antara pemerintah dan kalangan akademisi. Masukan dari para guru besar, dekan, dan rektor diharapkan dapat memperkaya perumusan kebijakan strategis nasional di bidang pendidikan, kesehatan, serta pembangunan SDM secara menyeluruh.
Dengan mengumpulkan para pemangku kepentingan utama di dunia pendidikan tinggi, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjadikan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi sebagai fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berdaya saing di tingkat global.
Red-Ervinna

