Pengikut

Reformasi Perusahaan BUMN Besar Jadi Agenda Utama 2026, Rosan Roeslani: Danantara Fokus Perkuat Nilai dan Daya Saing

Redaksi
Januari 15, 2026 | Januari 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T05:44:41Z
Jakarta, detiksatu.com || Ketua Pegawai Eksekutif (Chief Executive Officer/CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa reformasi perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berskala besar akan menjadi agenda utama yang mulai dijalankan secara lebih masif pada tahun 2026. Langkah ini merupakan kelanjutan dari proses pemulihan dan restrukturisasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan Rosan dalam forum Danantara Economic Outlook 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (14/1/2026). Dalam paparannya, Rosan menyebut bahwa sejumlah BUMN strategis, khususnya di sektor perbankan dan telekomunikasi, saat ini berada pada posisi yang tepat untuk memasuki fase pemulihan kinerja yang lebih solid.
“Reformasi BUMN besar akan menjadi agenda selanjutnya mulai 2026. Kami melihat fondasi yang semakin kuat, baik dari sisi permodalan, efisiensi operasional, maupun tata kelola perusahaan,” ujar Rosan.

Perbankan Himbara Siap Pulih Dan Tumbuh

Rosan menjelaskan bahwa tiga bank besar milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), berada dalam posisi yang kondusif untuk pemulihan pendapatan.
Menurutnya, penurunan biaya dana (cost of fund) yang diiringi dengan membaiknya pertumbuhan penyaluran kredit menjadi faktor utama yang mendorong optimisme terhadap kinerja perbankan BUMN ke depan.
“Dengan biaya dana yang menurun dan pertumbuhan pinjaman yang kembali membaik, bank-bank Himbara berada di jalur yang tepat untuk meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan,” jelasnya.
Selain sektor perbankan, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga dinilai memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham. Rosan menilai Telkom memiliki aset strategis yang dapat dioptimalkan lebih lanjut guna mendorong pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi.

“Telkom berada pada posisi yang tepat untuk memberikan nilai lebih kepada pemegang saham, terutama dengan pemanfaatan aset yang lebih tinggi dan fokus pada lini bisnis yang bernilai tambah,” kata Rosan.

Kredibilitas Pasar Mulai Terbangun

Rosan menambahkan, Danantara telah memperoleh tingkat kredibilitas pasar yang semakin baik, seiring dengan kemajuan pemulihan yang tengah berlangsung di sejumlah BUMN yang sebelumnya menghadapi tekanan berat. Beberapa di antaranya adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Timah Tbk (TINS).

Upaya restrukturisasi yang dilakukan secara konsisten dinilai mulai menunjukkan hasil nyata, baik dari sisi operasional maupun persepsi investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan tersebut.
“Pasar telah merespons secara positif terhadap pemulihan beberapa BUMN, sebagaimana dibuktikan oleh kenaikan tajam harga saham. Investor menghargai kemajuan restrukturisasi yang nyata, dan ini menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap agenda reformasi,” ungkapnya.

Dampak Luas Bagi Perekonomian Nasional

Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa reformasi BUMN memiliki implikasi yang sangat luas bagi perekonomian Indonesia. Ia menyebut, total aset BUMN secara kolektif mencakup lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia.
Dengan porsi aset yang begitu besar, setiap perbaikan dalam kinerja operasional dan tata kelola BUMN diyakini akan berdampak langsung terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

“BUMN sangat terintegrasi dengan aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat. Mulai dari listrik yang disediakan oleh PT PLN, bahan bakar dari PT Pertamina, layanan transportasi udara melalui Garuda Indonesia, hingga dana tabungan masyarakat yang dipercayakan kepada bank-bank Himbara,” paparnya.

Penyederhanaan Jumlah BUMN Jadi Program Jangka Panjang

Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga menyinggung arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang secara eksplisit menetapkan tujuan untuk mengurangi jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 200 perusahaan.
Namun, Rosan menegaskan bahwa kebijakan tersebut harus dipahami sebagai program jangka menengah hingga panjang, bukan sekadar agenda korporasi dalam satu tahun kalender.

“Ini adalah program multi-tahun. Penyederhanaan jumlah entitas bertujuan untuk menciptakan struktur yang lebih efisien, fokus, dan memiliki kejelasan mandat bisnis,” ujarnya.

Menurut Rosan, bagi pasar publik, jumlah entitas yang lebih sedikit berpotensi mengurangi konflik mandat dan instruksi, sehingga keputusan bisnis dapat diambil secara lebih konsisten. Pada akhirnya, hal ini diharapkan dapat menghasilkan pengembalian yang lebih besar bagi para pemegang saham, terutama dalam bentuk dividen.

BUMN Didorong Lebih Tangguh Hadapi Gejolak Global

Ke depan, Danantara menargetkan agar perusahaan-perusahaan BUMN dapat berkembang menjadi entitas yang lebih tangguh dan adaptif terhadap dinamika ekonomi global. Ketahanan tersebut mencakup kemampuan menghadapi siklus ekonomi makro, fluktuasi harga komoditas, hingga meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global yang dapat memengaruhi keputusan pembiayaan.

“Reformasi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga membangun daya tahan jangka panjang. BUMN harus mampu bertahan dan tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global,” pungkas Rosan.

Dengan agenda reformasi yang semakin terarah dan dukungan kebijakan pemerintah, Danantara optimistis BUMN Indonesia akan memasuki fase baru yang lebih sehat, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional pada tahun-tahun mendatang.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Reformasi Perusahaan BUMN Besar Jadi Agenda Utama 2026, Rosan Roeslani: Danantara Fokus Perkuat Nilai dan Daya Saing

Trending Now