Namun di saat yang sama, kerusakan moral justru semakin nyata. Korupsi dilakukan oleh orang-orang terdidik. Kekerasan, penyimpangan perilaku, hingga krisis akhlak menjangkiti generasi yang lahir dari bangku sekolah. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika pendidikan diklaim sebagai solusi, mengapa justru menjadi bagian dari masalah?
Pendidikan hari ini tampak sibuk mengejar standar dan capaian teknis. Nilai akademik, sertifikasi, akreditasi, dan kompetensi kerja menjadi tolok ukur utama keberhasilan.
Anak dididik agar adaptif terhadap pasar, siap bersaing di dunia kerja, dan mampu memenuhi tuntutan ekonomi. Namun, di balik orientasi tersebut, pendidikan kehilangan satu hal paling fundamental: arah hidup manusia. Peserta didik jarang diajak memahami untuk apa ilmu dipelajari dan kepada siapa ilmu itu harus dipertanggungjawabkan.
Akar persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan paradigma sekuler yang mendasari sistem pendidikan modern. Agama diposisikan sebagai urusan privat, sementara ilmu pengetahuan diperlakukan seolah netral dan bebas nilai.
Akibatnya, iman terpisah dari proses pembelajaran, dan ilmu kehilangan fungsinya sebagai penuntun kehidupan. Dalam kondisi seperti ini, kecerdasan tidak lagi diarahkan untuk menjaga kebenaran, tetapi justru kerap menjadi alat pembenaran bagi kepentingan dan hawa nafsu.
Inilah sebabnya mengapa pendidikan mampu melahirkan individu cerdas, namun gagal membentuk kepribadian yang lurus. Sekolah menghasilkan lulusan yang terampil, tetapi miskin orientasi moral.
Pengetahuan berkembang, sementara kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Tuhan semakin menipis. Tidak mengherankan jika berbagai kerusakan sosial justru diproduksi oleh mereka yang secara formal dinyatakan berpendidikan.
Islam memandang pendidikan dengan cara yang berbeda dan mendasar. Pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan pembentukan kepribadian yang utuh. Ilmu tidak berdiri bebas, tetapi terikat pada akidah.
Akal tidak dibiarkan liar, melainkan diarahkan oleh wahyu. Tujuan pendidikan bukan hanya mencetak individu yang cakap secara intelektual, tetapi membentuk manusia yang menyadari posisinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa pendidikan yang dibangun di atas landasan syariat mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak. Ulama, ilmuwan, dan pemimpin lahir dari sistem yang menjadikan iman sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Mereka tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki komitmen moral yang kuat terhadap kebenaran dan keadilan. Fakta ini menunjukkan bahwa kejayaan peradaban Islam bukan lahir meski syariat, melainkan justru karena syariat.
Oleh karena itu, problem pendidikan hari ini sejatinya bukan persoalan teknis semata. Bukan soal kurangnya fasilitas, metode, atau inovasi. Persoalannya bersifat sistemik dan ideologis. Selama pendidikan dibangun di atas paradigma yang memisahkan iman dari ilmu, sebanyak apa pun reformasi dilakukan, kerusakan akan terus berulang dalam wajah yang berbeda.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya sebagai sarana membentuk manusia yang bertanggung jawab di hadapan Allah dan masyarakat. Pendidikan tidak boleh berhenti pada pencetakan tenaga kerja, tetapi harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang mampu menjaga kebenaran, menegakkan keadilan, dan merawat peradaban. Tanpa fondasi syariat, pendidikan hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa arah dan kemajuan tanpa keberkahan. Wallahu a’lam bishowab.

