Pengikut

Kontroversial, Pemenang Nobel Perdamaian 2025 Ternyata Pendukung Genosida Israel di Gaza

Redaksi
Januari 05, 2026 | Januari 05, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T22:11:59Z
Jakarta,detiksatu.com  – Penobatan politikus sayap kanan Venezuela, Maria Corina Machado, sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2025 belakangan menuai kontroversi.

Kritik bermunculan datang karena Machado diketahui sebagai pendukung Israel dan genosida Gaza. Ia juga diketahui meminta intervensi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Argentina untuk menjatuhkan rezim Nicolas Maduro di Venezuela pada 2018 lalu.

Diklaim tokoh kunci dalam pergerakan pro-demokrasi Venezuela, Komite Nobel Norwegia mengumumkan kemenangan Machado atas kontribusi yang ia berikan dalam perlawanan yang ia lakukan terhadap rezim diktator di negara asalnya itu, seperti dilansir oleh NDTV.

Akan tetapi, dalam waktu beberapa jam pengumuman nobel perdamaian, kritik dari berbagai pihak muncul. Kritik utamanya muncul karena hubungan yang ia dimiliki Machado dengan Israel dan rezim Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel dan sekutu AS .

Kedekatan Machado dan Netanyahu

Afiliasi Machado dan Netanyahu dapat ditelusuri memiliki jejak dari tujuh tahun lalu. Pada 2018, Machado mengirimkan sebuah surat kepada Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri, dan Benjamin Netanyahu. Surat ini berisikan permohonan intervensi dalam bentuk pengiriman “kekuatan” dan pengaruh untuk menjatuhkan rezim Maduro.

Meskipun menjadi titik kritik, rekam jejak ini bukan satu-satunya alasan kontroversi penerima Nobel Perdamaian tahun ini.

Unggahan Machado di media sosial telah secara konsisten menjadi bukti bahwa ia merupakan sekutu dari Netanyahu. Ia pernah mengatakan “perjuangan Venezuela adalah perjuangan Israel.”

Ia juga berjanji untuk memindahkan kedutaan Venezuela dari Tel Aviv ke Jerusalem, jika ia berkuasa.

Pada 2020, Nournews melaporkan, Partai Vente Venezuela, di bawah Machado, menjalin kerja sama dengan partai Likud Benjamin Netanyahu. Pengumuman resmi merincikan kerja sama di “isu-isu politik, ideologi dan sosial, serta membuat kemajuan pada isu-isu terkait strategi, geopolitik dan keamanan.”

Bjornar Moxnes, anggota parlemen Norwegia, mengutarakan bahwa kerja sama ini menjadi bukti bahwa “penghargaan kepada Machado tidak sejalan dengan tujuan Nobel.”

Dewan Hubungan Amerika-Islam atau CAIR, sebuah organisasi sipil berbasis di AS, menyatakan bahwa “Komite Nobel Perdamaian seharusnya memberikan penghargaan kepada mereka yang menunjukkan konsistensi moral dengan berani memperjuangkan keadilan bagi semua orang,” kata CAIR.

“Seperti mahasiswa, jurnalis, aktivis, dan tenaga medis yang mempertaruhkan karier dan bahkan nyawa mereka untuk melawan kejahatan di zaman kita: genosida di Gaza.”

Sekutu Washington dan Ekstremis Sayap Kanan Seluruh Dunia

Sebagai seseorang yang memiliki ideologi sayap kanan, ia telah memposisikan diri dengan kelompok-kelompok kontroversial lainnya di panggung internasional. Salah satunya adalah dengan mendedikasikan Nobel Perdamaian yang ia dapatkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Hal ini dan rekam jejak lainnya menunjukkan baiknya hubungan Machado AS dan Trump secara khusus. Venezuelan Analysis melaporkan dukungan yang ia berikan kepada Trump diberikan sejak tahun 2020.

Pada 2023, ia memberikan dukungan terhadap politikus sayap kanan Argentina Javier Milei, seorang sayap kanan dengan kontroversi korupsi.

Dukungan ini ia berikan melalui pernyataan-pernyataan mengharapkan “kekalahan telak Kirchnerisme” dalam pemilu 2023 di Argentina. Pada saat yang sama, ia menyebut Milei “sangat jernih, berani, dan penuh energi.”

Selain itu, Machado pun memiliki relasi dengan partai ekstremis sayap kanan di Spanyol seperti VOX. Dalam satu waktu ia memanggil Santiago Abascal sebagai seorang “teman.”

Siapa María Corina Machado?

María Corina Machado Parisca memiliki tiga anak dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Ayah Machado adalah seorang pengusaha bergengsi di industri logam yang perusahaannya dinasionalisasi oleh Hugo Chávez, pendahulu Maduro. Ibunya adalah seorang psikolog dan pemain tenis ternama.

Sebagai seorang insinyur industri dengan spesialisasi keuangan, María Corina bekerja di dunia bisnis sebelum bergabung dengan berbagai organisasi yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pengawasan pemilu.

Dari sana, ia semakin dekat dengan Partai Republik di Amerika Serikat—negara tempat ia tinggal dan menjalin ikatan serta koneksi politik dengannya.

Chavismo selalu menganggapnya sebagai kaki tangan “rencana kudeta imperialis.”

Dakwaan pertama yang diajukan terhadapnya adalah dugaan menerima uang secara ilegal dari yayasan-yayasan AS, dakwaan yang berujung pada larangan bepergian selama tiga tahun.

Pada 2010, ia menjadi bagian dari Majelis Nasional sebagai wakil independen dengan pesan anti-komunis, dan pada 2012 ia kalah dalam pemilihan pendahuluan presiden oposisi dari Henrique Capriles.

Setelah didiskualifikasi, Machado menghabiskan sepuluh tahun terakhir berkecimpung dalam politik di luar sistem—mempromosikan “penggulingan Maduro” pada 2014 bersama Leopoldo López dan mendukung protes pada 2017 dan 2019.

Dia adalah orang pertama yang melabeli pemerintah sebagai “diktator”, menolak semua upaya negosiasi dengan Chavismo.

Dia juga membela penggunaan kekuatan untuk menggulingkan Maduro dan menentang partai-partai oposisi utama, menuduh mereka sebagai “kolaborator”.

Hal ini, ditambah dengan kegigihannya untuk tetap tinggal di negara itu meskipun ada ancaman penangkapan—dan mungkin memanfaatkan koneksi keluarganya di industri logam—membuatnya dijuluki “Wanita Besi”.[]
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kontroversial, Pemenang Nobel Perdamaian 2025 Ternyata Pendukung Genosida Israel di Gaza

Trending Now