Pengikut

Luwu Raya Menjerit: Aliansi Pemekaran Provinsi Blokade Jalan Trans Sulawesi

Lamellong
Januari 23, 2026 | Januari 23, 2026 WIB Last Updated 2026-01-23T13:42:38Z
Luwu-detiksatu.com - Jumat, 23 Januari 2026 – Sebagai bentuk tekanan dan wujud keseriusan perjuangan terhadap aspirasi pembentukan Provinsi Luwu Raya, Aliansi Perjuangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya bersama Luwu Tengah melakukan aksi pemblokadean Jalan Trans Sulawesi di perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo. Mereka memasang pondasi di titik strategis jalan tersebut, sehingga kendaraan dari kedua arah terpaksa berhenti, menimbulkan kemacetan signifikan, sekaligus menarik perhatian publik, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat.

Aksi ini bukan sekadar simbol protes. Ini adalah suara rakyat yang menuntut keadilan, kesejahteraan, dan pengakuan atas hak-hak mereka. Selama bertahun-tahun, masyarakat Luwu Raya telah merasa tertinggal, terpinggirkan, dan tak terdengar suaranya. Mereka hidup di wilayah kaya potensi, namun pembangunan dan pelayanan publik tidak merata, meninggalkan luka dan rasa ketidakadilan yang mendalam.

Koordinator Aliansi, dalam orasinya, menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar tuntutan administratif, tetapi panggilan hati masyarakat yang ingin hidup lebih baik. Mereka ingin anak-anak mereka memiliki kesempatan pendidikan yang setara, warga mereka mendapatkan layanan kesehatan yang layak, dan wilayah mereka diakui secara politik maupun ekonomi. Pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan sekadar soal peta administratif, tetapi soal masa depan ribuan keluarga yang ingin hidup dengan martabat dan peluang yang adil.

Di lokasi aksi, hadir berbagai elemen masyarakat: tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga mahasiswa yang menyalurkan semangat perubahan. Mereka semua hadir dengan satu tujuan—agar suara rakyat tidak lagi diabaikan, agar pemerintah pusat, termasuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, membuka mata dan telinga untuk mendengar jeritan rakyat yang selama ini tersisihkan.

Pihak berwenang setempat memantau situasi agar tetap kondusif, namun aliansi menegaskan bahwa mereka akan tetap konsisten hingga ada kepastian langkah nyata dari pemerintah. Mereka berharap Presiden Prabowo sendiri dapat melihat langsung kondisi ini, merasakan keteguhan hati rakyat, dan menyadari bahwa perjuangan ini bukan tuntutan kosong, melainkan jeritan panjang rakyat yang ingin hidup lebih adil dan sejahtera.

Aksi ini dipandang sebagai titik awal dari rangkaian langkah lanjutan yang lebih besar, termasuk mobilisasi massa yang lebih luas dan dialog langsung dengan pemerintah pusat. Aliansi menegaskan bahwa mereka akan terus memperjuangkan aspirasi ini hingga keadilan dan kesejahteraan menjadi nyata, hingga suara rakyat Luwu Raya didengar, dan hingga pemerintah tidak lagi menutup mata dan telinga terhadap hak-hak rakyatnya.

Jumat, 23 Januari 2026, menjadi hari yang mencatat tekad dan harapan masyarakat Luwu Raya. Ini adalah panggilan hati dari ribuan warga yang ingin masa depan mereka diakui—bukan untuk konflik, tetapi untuk keadilan; bukan untuk kekerasan, tetapi untuk perubahan. Dan kini, waktunya bagi pemerintah, termasuk Presiden, untuk melihat, mendengar, dan bertindak.

Liputan:Rd
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Luwu Raya Menjerit: Aliansi Pemekaran Provinsi Blokade Jalan Trans Sulawesi

Trending Now