Jakarta, detiksatu.com || Bincang Bersama Romo Toni Junus Kanjeng NgGung.Authority of Presence sebagai Jalan Kepemimpinan Etis dalam Pelestarian Sastrajendra
Dalam lintasan waktu yang panjang dan sunyi, Romo Toni Junus Kanj. Gung menempuh jalan yang tidak ramai dipilih: jalan kehadiran, bukan kedudukan; jalan pancaran diri sejati, bukan topeng sosial. Di tengah dunia spiritual yang kerap tergoda oleh simbol, hirarki, dan klaim kewenangan, Romo justru memilih berdiri pada apa yang dalam bahasa Jungian disebut Self, bukan Persona Guru.
Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Namun justru di sanalah etika kepemimpinan Romo menemukan kedalaman dan kejujurannya.
Romo secara sadar memilih Authority of Presence kewibawaan yang lahir dari kehadiran batin, bukan dari jabatan, gelar, atau posisi struktural. Dalam kerangka Jung, position bekerja melalui persona: topeng sosial yang memberi jarak dan menciptakan stratifikasi. Sebaliknya, presence memancar dari Self: diri sejati yang utuh, sadar, dan hidup.
Akibat dari pilihan ini terasa nyata bagi siapa pun yang berjumpa dengan Romo:
1. Orang merasa dekat, bukan terintimidasi.
2. Orang merasa setara, bukan berada di bawah.
3. Orang tidak merasa “kecil”, tidak dipaksa mengagungkan.
Dan dari situ pula lahir sebuah ruang yang sehat:
1. Tidak tumbuh kultus pribadi.
2. Tidak tercipta kasta spiritual.
3. Tidak muncul dikotomi “kami yang tercerahkan” versus “mereka yang awam."
Ini bukan kegagalan kepemimpinan.
Ini adalah konsekuensi etis dari kepemimpinan yang sadar.
Menanamkan Tepa Palupi, Bukan Status Rohani
Dalam ajaran Sastrajendra, Romo menegaskan satu prinsip utama: tepa palupi kesadaran rasa. Bukan sekadar olah pikir, bukan pula penumpukan simbol spiritual, melainkan kehalusan rasa yang hidup, membumi, dan berempati.
Romo memahami bahwa terjadinya elitisme spiritual itu ketika gati pikir mengeras tanpa gati rasa, itu romo hindari. Ketika
gati pikir mengeras tanpa rasa. Ketika kesadaran berubah menjadi klaim, ketika pengetahuan menjadi identitas, dan ketika spiritualitas diperdagangkan sebagai status.
Karena itu, di Sastrajendra Living Academy, Romo secara konsisten:
1. Menekankan kesadaran, bukan sensasi.
2. Menghindari jargon magis berlebihan.
3. Tidak menjual kesaktian instan.
4. Tidak memelihara mitos keistimewaan pribadi.
Maka wajar bila elitisme tidak tumbuh. Bukan karena kekurangan daya tarik, melainkan karena sejak awal fondasinya adalah rasa, bukan ego.
Perjalanan Panjang babat Alas Budaya
Profil Romo tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjangnya dalam babat alas pelestarian budaya dan spiritual Nusantara.
1. Pelestarian Seni Tosan Aji
Romo telah lama menapaki dunia perkerisan bukan sebagai kolektor semata, melainkan sebagai penjaga makna. Di saat keris pernah dipandang musyrik dan dicurigai, Romo hadir dengan kesabaran, edukasi, dan ketekunan. Hari ini, perkerisan telah kembali familiar, diterima, dan dipahami sebagai warisan budaya adiluhung.
2. Dari Perkerisan ke Sastrajendra
Jika keris sudah menemukan ruang di masyarakat, Romo membaca bahwa akar terdalam yang lebih mengena adalah Kejawen Sastrajendra. Maka dimulailah mbabat alas baru: hutan budaya spiritual yang lama terpinggirkan, disalahpahami, bahkan ditakuti.
3. Mengangkat Ajaran, Bukan Tokoh
Dalam seluruh perjalanan ini, Romo konsisten: yang harus lestari bukan figur Romo, melainkan ajaran Sastrajendra. Kepemimpinan Romo tidak diarahkan untuk memusatkan orang pada dirinya, tetapi mengembalikan mereka pada kesadaran diri masing-masing.
Kepemimpinan yang Sadar akan Risikonya.
Romo tidak menutup mata bahwa memilih Authority of Presence memiliki sisi yang tidak “menguntungkan” secara struktural. Tidak semua orang nyaman dengan ketiadaan figur sentral yang diagungkan. Tidak semua komunitas bisa tumbuh cepat tanpa simbol otoritas yang tegas.
Namun setelah direnungkan, Romo sampai pada keyakinan:
kepemimpinan di Sastrajendra Living Academy sudah berada pada jalur yang benar.
Orang boleh datang secara personal. Boleh mendekat secara manusiawi. Tidak apa-apa. Selama prinsipnya jelas: ajaran yang lestari, bukan ego pemimpin.
Mengenal sesepuh Sastrajendra Living Academy Toni Junus Kanjeng NgGung Budayawan yang menghidupkan filosofi Jawa kuno.
Kepemimpinannya sebagai Laku, Bukan Panggung
Romo Toni Junus Kanj. Gung berdiri bukan sebagai “guru besar” yang jauh di atas, melainkan sebagai sesepuh yang hadir—hadir dengan rasa, hadir dengan kesadaran, hadir tanpa memaksa.
Dalam dunia yang gemar memproduksi otoritas, Romo memilih memelihara kehadiran.
Dalam dunia yang mudah tergoda elitisme, Romo menanamkan tepa palupi.
Dalam dunia yang haus pengakuan, Romo setia pada laku.
Dan justru di situlah, Sastrajendra hidup.
Red-Ervinna

