Pengikut

Merawat Adat, Menjaga Alam: Kiprah Abah H. Dulhani di Kasepuhan Cibarani

Redaksi
Januari 04, 2026 | Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T13:38:29Z
Lebak, detiksatu.com || Abah H. Dulhani (S.Sos) dikenal sebagai sosok sentral dalam menjaga keberlangsungan Kasepuhan Adat Cibarani, Kabupaten Lebak, Banten. Sebagai Ketua Adat, ia tidak hanya berperan sebagai pemimpin simbolik, tetapi juga sebagai penggerak nilai, penjaga hukum adat, serta penghubung harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kasepuhan Adat Cibarani merupakan bagian dari Kasepuhan Banten Kidul yang hingga kini masih mempertahankan tata kehidupan adat secara turun-temurun. Wilayah adat ini mencakup hampir seluruh Desa Cibarani dengan luas kurang lebih 900 hektare, yang terdiri dari sepuluh kampung adat. Di wilayah inilah nilai-nilai kearifan lokal terus dijaga melalui pengelolaan alam, pertanian tradisional, serta pelaksanaan ritual adat.

“Adat itu bukan sekadar peninggalan masa lalu. Adat adalah jalan hidup yang diwariskan oleh karuhun untuk menjaga keseimbangan alam dan manusia,” ujar Abah H. Dulhani, Minggu (4/1/2026)

Dalam struktur adat Kasepuhan Cibarani, Ketua Adat memegang peranan penting dalam mengambil keputusan melalui mekanisme musyawarah mufakat. Setiap persoalan adat, mulai dari pengelolaan tanah, penyelesaian sengketa, hingga penetapan waktu ritual adat seperti Seren Taun, selalu diputuskan secara bersama-sama dengan para sesepuh dan pemangku adat.

“Kami tidak mengenal keputusan sepihak. Semua harus dimusyawarahkan, karena adat itu milik bersama, bukan milik satu orang,” katanya.

Abah H. Dulhani juga menegaskan bahwa adat Cibarani sangat menekankan hubungan spiritual dengan alam. Hutan adat dibagi dalam beberapa kategori, seperti leuweung kolot, leuweung titipan, dan leuweung tutupan, yang masing-masing memiliki aturan ketat dan tidak boleh dikelola secara sembarangan.

“Kalau hutan dirusak, sawah akan kering, sungai akan mati. Maka adat melarang keras merusak leuweung, karena di situlah sumber kehidupan,” tegasnya.

Dalam tradisi pertanian, masyarakat Kasepuhan Cibarani masih mempertahankan berbagai varietas padi lokal dan menjalankan ritual Melak Jampe sebelum menanam padi. Ritual tersebut diyakini sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan hasil panen.

“Menanam padi itu bukan hanya soal hasil, tapi soal etika. Ada doa, ada tata cara, ada tanggung jawab kepada alam,” tutur Abah.

Selain sebagai pemimpin adat, Abah H. Dulhani juga aktif dalam bidang keagamaan dan sosial. Ia terlibat dalam berbagai organisasi keumatan dan kebudayaan, serta sering menjadi rujukan masyarakat dalam persoalan sosial, keagamaan, dan adat.

“Adat dan agama tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus saling menguatkan agar masyarakat hidup rukun dan berakhlak,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi, Abah H. Dulhani mengakui tantangan besar yang dihadapi masyarakat adat, khususnya dalam menjaga minat generasi muda terhadap tradisi leluhur. Namun demikian, ia tetap optimistis bahwa adat akan terus hidup selama diwariskan dengan keteladanan.

“Generasi muda harus dikenalkan adat bukan dengan paksaan, tapi dengan pemahaman. Kalau mereka tahu maknanya, mereka akan menjaga dengan kesadaran,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat adat oleh negara, agar hak-hak adat tidak tergerus oleh kepentingan pembangunan yang mengabaikan kearifan lokal.

“Masyarakat adat bukan penghambat pembangunan. Justru kami menjaga alam agar pembangunan bisa berkelanjutan,” ucapnya.

Abah H. Dulhani menegaskan komitmennya untuk terus menjaga adat dan tanah leluhur Kasepuhan Cibarani.

“Selama adat masih dijaga, selama itu pula Cibarani akan tetap hidup. Amanat karuhun tidak boleh putus di tangan kami, karena adat adalah titipan untuk anak incu putu di masa depan,” pungkas Abah H. Dulhani. (Jul/Red)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Merawat Adat, Menjaga Alam: Kiprah Abah H. Dulhani di Kasepuhan Cibarani

Trending Now