Pengikut

Program MBG: Alat Politik Prabowo untuk Pilpres 2029?

Redaksi
Januari 26, 2026 | Januari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-01-26T06:43:42Z


Jakarta- Sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, MBG telah menjadi sorotan tajam publik, tidak hanya sebagai kebijakan sosial untuk meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai strategi kebijakan yang dapat berimplikasi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Dengan anggaran yang wow dan target penerimaan lebih dari 80 juta orang, program yang dikendalikan presiden ini kini menjadi medan kritik dari berbagai kalangan, mulai dari LSM, pakar akademik, hingga anggota DPR.

Data terbaru menunjukkan program MBG telah menjangkau 55,1 juta orang hingga akhir 2025, menurut laporan kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Capaian ini menempatkan MBG sebagai salah satu program bantuan sosial terbesar di Indonesia, melebihi skala program sejenis di era sebelumnya.

Dalam dokumen RAPBN 2026, pemerintah menargetkan cakupan MBG akan mencapai 82,9 juta penerima manfaat — sebuah angka ambisius yang diupayakan terealisasi pada kuartal pertama 2026.


Target ini mencerminkan upaya perluasan program yang bertujuan tidak hanya mencapai anak sekolah dan ibu hamil, tetapi juga kelompok balita dan ibu menyusui di seluruh penjuru negeri.

Alokasi anggaran untuk MBG tahun 2026 ini dialokasikan pemerintah sebesar Rp335 triliun. Anggaran sebesar ini menjadikan MBG salah satu program prioritas fiskal terbesar di Indonesia, dan menelan porsi hampir separuh dari total anggaran kementerian pendidikan yang jumlahnya Rp757,8 triliun.

Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menyatakan, anggaran MBG yang diambil dari anggaran pendidikan adalah dosa besar bagi pemerintah, MBG itu bukan bagian dari pendidikan.

Dana besar yang mengalir ke MBG tentu saja akan mengurangi anggaran untuk guru, fasilitas sekolah, dan bahan ajar yang selama ini kurang memadai di banyak daerah.

Isnawati Hidayah dari Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) menggambarkan pelaksanaan program ini sebagai sesuatu yang bermasalah dari sisi tata Kelola, karena transparansi yang minim.

Bahkrul Fikri, pakar dari lembaga yang sama, menambahkan kritik tajam terhadap sistem evaluasi pelaksanaan,“Jika peningkatan kualitas adalah tujuannya, penilaian harus mencerminkan masukan dari penerima manfaat, bukan hanya operator dapur.”

Indonesia Corruption Watch (ICW) pun memperingatkan potensi praktik korupsi dalam pengadaan dan pemilihan mitra program, “Penunjukan langsung menciptakan peluang korupsi yang luas.” Kritik ini menegaskan bahwa tanpa mekanisme pengawasan dan transparansi yang kuat, program sosial sebesar MBG berpotensi menjadi sumber kebocoran anggaran dan korupsi sistemik.

Pemerintah memang telah merespons atas kejadian ini yaitu dengan janji perbaikan standard operating procedures (SOP) dan penutupan sementara fasilitas yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Selain kritik administratif dan teknis, analis politik menyoroti bahwa skala dan cara komunikasi program MBG memiliki dimensi politik yang jelas. Beberapa pengamat menyatakan bahwa program sosial berskala besar seperti MBG — yang dirasakan langsung oleh puluhan juta warga — dapat beralih menjadi alat politik. Di banyak masyarakat pedesaan dan komunitas tradisional, bantuan langsung sering dipersepsikan bukan sekadar kebijakan sosial tetapi sebagai wujud hubungan timbal balik antara pemerintah dan warga.

Rocky Gerung mengkritik MBG sebagai kebijakan yang populis dan bisa memiliki konotasi politik karena skalanya besar. Sementara itu pengamat gizi dan kebijakan Diah Saminarsih menyatakan bahwa pertimbangan dalam MBG adalah seratus persen politik karena kurangnya payung hukum dan perencanaan matang.

Sementara itu, Sosiolog UI Imam Prasojo dalam sebuah seminar nasional tentang MBG, ia menyatakan bahwa tata kelola dan mekanisme pelaksanaan MBG yang sangat sentralistik berpotensi membuat arus dana besar berputar untuk kepentingan politik dan investasi, bukan semata untuk kebutuhan gizi masyarakat.

Jadi bisa disimpulkan bahwa MBG ini adalah strategi komunikasi politik pemerintahan menuju Pilpres 2029, di mana pengalaman langsung terhadap bantuan pemerintah dapat diterjemahkan menjadi dukungan politik.

Studi tentang perilaku pemilih pada konteks program sosial semacam ini menunjukkan bahwa perasaan, hutang budi, dan pengalaman langsung sering kali mempengaruhi pilihan politik warga lebih kuat daripada pertimbangan rasional murni.

Tentu saja pemerintah membantah para pengritik MBG ini. Pemerintah tetap mempertahankan bahwa MBG adalah jawaban terhadap masalah malnutrisi dan investasi jangka panjang pada sumber daya manusia Indonesia. Mereka juga menyatakan program ini sebagai fondasi untuk masa depan gizi anak dan keluarga Indonesia.

Bila Prabowo tidak lagi berminat untuk menjadi presiden lagi (2029-2034), maka program MBG ini bisa diterima masyarakat sebagai program murni untuk perbaikan gizi anak dan keluarga di Indonesia. Masalahnya, Prabowo sudah mengungkapkan terus terang bahwa dirinya berminat kembali untuk jadi presiden kedua kalinya. Karena itu jangan salahkan banyak masyarakat menilai MBG ini adalah alat Prabowo untuk meraih kemenangan pilpres 2029. Start of the End, dalam bahasa manajemen. Wallahu alimun hakim.[]


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Program MBG: Alat Politik Prabowo untuk Pilpres 2029?

Trending Now