Luwu-detiksatu.com - Palopo, Walmas, Luwu Utara, dan Luwu Timur hari ini berdiri dalam satu barisan perjuangan.
Persatuan ini bukan lahir dari dorongan sesaat, melainkan dari kesadaran kolektif bahwa suara rakyat Tanah Luwu terlalu lama bergema tanpa jawaban yang pasti.
Dari tanah Luwu yang sarat sejarah, semangat itu berakar kuat. Di Palopo, denyut perjuangan terus dijaga. Di Walmas, rakyat berdiri di garis terdepan, menjaga poros-poros jalan sebagai simbol keteguhan sikap.
Sementara di Luwu Utara dan Luwu Timur, tekad yang sama mengeras—bahwa perjuangan ini adalah kehendak bersama seluruh Tanah Luwu.
Jalan-jalan yang dijaga dan poros-poros yang dikawal bukanlah bentuk penolakan terhadap ketertiban. Itu adalah bahasa terakhir rakyat ketika ruang dialog terasa semakin sempit. Ketika aspirasi disampaikan berulang kali tanpa kepastian, keberanian pun menjadi pilihan.
Ini bukan gerakan sporadis. Ini adalah perjalanan panjang yang ditempa oleh kesabaran dan penantian. Tua dan muda menyatu, siang dan malam dilewati bersama. Lelah bukan alasan untuk mundur, karena yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi Tanah Luwu.
Walmas, Sabtu 24 Januari 2026, menjadi saksi keteguhan itu. Hingga hari tersebut, pohon-pohon masih melintang kokoh di Poros Bosso–Mamara. Jalan penghubung berubah menjadi garis sikap. Batang-batang kayu yang direbahkan bukan simbol kekacauan, melainkan pesan tegas bahwa kesabaran rakyat telah mencapai batasnya.
Di poros itu, masyarakat tetap berjaga. Panas dan dingin dihadapi bersama. Tidak ada teriakan kosong, tidak ada langkah tanpa tujuan. Yang ada hanyalah sikap: bertahan sampai ada jawaban, bersuara sampai ada kepastian.
Luwu, Palopo, Walmas, Lutra, dan Lutim berdiri dalam satu sikap—tegak, tenang, dan tegas. Persatuan menjadi kekuatan, kebersamaan menjadi tameng.
Sejarah akan mencatat masa ini sebagai saat ketika Tanah Luwu memilih bersuara dengan martabat. Bukan untuk menciptakan kegaduhan, tetapi untuk mengingatkan bahwa keadilan yang ditunda terlalu lama hanya akan melahirkan keberanian yang lebih besar.
Satu tanah, satu tekad. Luwu Raya tidak diam.
Rakyat tidak akan mundur—demi harga diri, keadilan, dan masa depan bersama.
Reporter:Rd

