Para demonstran, banyak di antaranya mengibarkan bendera Palestina dan Turki, berkumpul di Jembatan Galata yang bersejarah di kota tersebut pada Kamis (01/01/2026) meskipun cuaca sangat dingin.
Demonstrasi yang diselenggarakan oleh kelompok masyarakat sipil di bawah Platform Kehendak Nasional bersama klub-klub sepak bola Turki, berlangsung dengan slogan: “Kami tidak akan diam, kami tidak akan melupakan Palestina.”
Lebih dari 400 organisasi masyarakat sipil ikut serta dalam aksi ini, menandakan besarnya kemarahan publik terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza. Beberapa klub sepak bola besar mendorong pendukungnya untuk hadir, membantu menjadikan aksi ini salah satu demonstrasi pro-Palestina terbesar yang pernah terjadi di Turki sejak perang Israel dimulai.
Ketua Klub Sepak Bola Galatasaray, Dursun Ozbek, menggambarkan tindakan Israel sebagai ujian moral bagi dunia.
“Kami tidak akan terbiasa dengan keheningan ini,” kata Ozbek dalam pesan video yang dibagikan di X. “Bersatu melawan penindasan, kami berkumpul di sisi yang sama untuk kemanusiaan.”
‘Genosida yang berlangsung perlahan.
Sinem Koseoglu, koresponden Al Jazeera di Turki, melaporkan dari Jembatan Galata bahwa Palestina tetap menjadi isu yang mendapat konsensus nasional. Ia mengatakan isu ini melintasi batas-batas politik, menyatukan pendukung Partai AK yang berkuasa dengan pemilih dari partai-partai oposisi utama.
“Hari ini orang-orang berusaha menunjukkan dukungan mereka pada hari pertama tahun baru,” kata Koseoglu, saat kerumunan memadati jembatan dan jalan-jalan sekitarnya.
Sumber kepolisian dan kantor berita negara Anadolu melaporkan bahwa sekitar 500.000 orang ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut.
Aksi unjuk rasa tersebut mencakup pidato dan penampilan penyanyi kelahiran Lebanon, Maher Zain, yang menyanyikan lagu “Free Palestine” di tengah lautan bendera yang dikibarkan.
Bagi banyak demonstran, aksi protes tersebut juga merupakan penolakan terhadap narasi gencatan senjata Israel.
“Orang-orang di sini tidak percaya pada gencatan senjata,” kata Koseoglu. “Mereka percaya bahwa gencatan senjata saat ini bukanlah gencatan senjata yang sesungguhnya, melainkan proses genosida yang berlangsung secara perlahan.”
Turki telah menghentikan perdagangan dengan Israel dan menutup ruang udaranya serta pelabuhannya, namun Koseoglu mengatakan para demonstran menginginkan tekanan internasional yang berkelanjutan daripada langkah-langkah simbolis.
“Ide utama di sini adalah untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan rakyat Palestina dan agar dunia tidak melupakan apa yang terjadi di Gaza,” katanya, sambil memperingatkan bahwa banyak orang melihat gencatan senjata sebagai “sangat rapuh”.[]
sumber: Aljazeera.com

