Jakarta, detiksatu.com || Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi turut memberi efek lanjutan terhadap kondisi sosial dan ekonomi di Jakarta. Sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional, Ibu Kota mulai merasakan tekanan, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah yang menggantungkan hidup pada sektor informal,
( 1/1/ 2026).
Kondisi tersebut terlihat dari menurunnya kemampuan masyarakat dalam memperoleh penghasilan harian. Pekerja tanpa pendapatan tetap, pedagang keliling, hingga tukang ojek pangkalan mengaku mengalami penurunan pendapatan dalam beberapa waktu terakhir. Melemahnya daya beli masyarakat serta berkurangnya mobilitas dinilai menjadi faktor utama yang memperparah situasi.
Hasil penelusuran tim awak media di kawasan Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, Jakarta Timur, menunjukkan realitas sulit yang dihadapi para tukang ojek pangkalan. Sepinya penumpang menjadi keluhan utama, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari pun kini semakin berat.
Salah seorang tukang ojek pangkalan, Fauzan, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Sekarang penumpang sepi. Untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup,” ujarnya saat ditemui di pangkalan ojek kawasan Kelapa Satu, Rawa Kuning.
Saat ditanya mengenai kemungkinan beralih ke layanan transportasi berbasis aplikasi, Fauzan menyebut keterbatasan ekonomi sebagai kendala utama. Menurutnya, kepemilikan telepon pintar serta biaya operasional tidak terjangkau bagi dirinya dan sebagian rekan sesama tukang ojek pangkalan.
“Jangankan beli handphone, untuk makan saja pas-pasan. Makanya kami tetap jadi ojek pangkalan,” tuturnya.
Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya kesenjangan akses terhadap transformasi digital di sektor transportasi. Di tengah pesatnya modernisasi layanan, sebagian masyarakat belum mampu mengikuti perubahan akibat keterbatasan ekonomi dan sarana pendukung.
Keluhan serupa juga disampaikan Udin, tukang ojek pangkalan lainnya di wilayah yang sama. Ia mengungkapkan beban ekonomi semakin berat karena harus membiayai tiga anak yang masih bersekolah.
“Anak saya tiga, semuanya sekolah. Yang paling besar sekolah di SMA swasta, tiap bulan harus ada biaya, belum jajan hariannya,” ujarnya.
Udin menambahkan, di wilayah Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, belum tersedia SMA Negeri, sehingga warga dengan keterbatasan ekonomi terpaksa menyekolahkan anak ke sekolah swasta dengan biaya lebih tinggi. Ia berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberi perhatian serius terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.
“Kami berharap ada pembangunan SMA Negeri di Rawa Kuning, Pulogebang,” kata Udin.
Pengamat sosial menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kebijakan perlindungan sosial serta pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dinilai harus lebih adaptif terhadap kondisi riil di lapangan, khususnya bagi kelompok rentan yang bergantung pada penghasilan harian.
Jika tekanan ekonomi ini terus berlangsung tanpa intervensi yang tepat, dikhawatirkan akan memicu persoalan sosial yang lebih luas. Di tengah bencana alam dan ketidakpastian ekonomi, masyarakat kecil kembali menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Red-Ervinna

