Bekasi - detiksatu.com ll Menjelang pemilihan umum, praktik politik uang menjadi perhatian utama. Di berbagai daerah, praktik ini dikenal dengan istilah yang berbeda-beda, namun umumnya disebut sebagai "serangan fajar".
Dalam pemilihan kepala desa, praktik ini seolah menjadi tradisi, padahal jelas bertentangan dengan prinsip antikorupsi.
Jenis-Jenis Serangan Fajar
Istilah "serangan fajar" diadopsi dari dunia militer, di mana serangan mendadak dilakukan di pagi buta. Praktik ini menargetkan pemilih inti (core voter) dan pemilih mengambang (swing voter), dengan fokus utama pada swing voter.
Praktik ini sering disebut sebagai "klientelisme elektoral," yaitu pemberian imbalan material kepada pemilih saat pemilu.
Politik uang umumnya diberikan dalam tiga bentuk:
- Uang: Amplop berisi uang dengan nilai bervariasi, dipilih karena mudah dibawa dan diberikan secara sembunyi-sembunyi.
- Sembako: Pembagian sembilan bahan pokok seperti beras, minyak, dan gula, seringkali dengan identitas caleg yang diselipkan dalam kemasan.
- Barang Rumah Tangga: Pembagian barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, dengan identitas caleg yang didukung.
Bahaya Serangan Fajar
Meskipun ada anggapan "mengambil uangnya, belum tentu memilih orangnya," praktik politik uang tetap berbahaya.
Pemilih perlu mempertimbangkan bahwa calon yang menggunakan politik uang mungkin akan melakukan korupsi untuk mengembalikan modal kampanye. Sebaliknya, calon yang tidak punya banyak uang mungkin akan lebih fokus membangun desa dan mensejahterakan rakyat.
Oleh karena itu, penting untuk memilih pemimpin desa yang bersih dan tidak terlibat dalam praktik politik uang.
Reporter (Roan)