Bilateral Eksklusif di Washington, Presiden Prabowo Perkuat Posisi Indonesia di Panggung Global

Februari 21, 2026 | Februari 21, 2026 WIB Last Updated 2026-02-21T02:29:06Z
Jakarta, detiksatu.com || Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa Prabowo Subianto menjadi satu-satunya kepala negara yang menggelar pertemuan bilateral langsung dengan Donald Trump di tengah agenda peluncuran Board of Peace (BoP) di Washington, D.C., Amerika Serikat,  (19/2/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Teddy kepada awak media di sela kunjungan kerja Presiden di Hotel Four Seasons, Washington DC, Jumat.
“Kemarin ada lebih dari 15 kepala negara dan pemerintah yang hadir. Namun satu-satunya kepala negara yang melakukan bilateral langsung dengan Presiden Trump adalah Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

Satu-satunya Pertemuan Bilateral

Menurut Seskab, di tengah padatnya agenda internasional yang dihadiri lebih dari 15 pemimpin dunia, pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump menjadi sorotan tersendiri. Hal itu dinilai sebagai bentuk pengakuan atas posisi strategis Indonesia dalam dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Pertemuan bilateral tersebut tidak hanya bersifat simbolis, melainkan menghasilkan kesepakatan konkret di bidang perdagangan yang telah lama dibahas kedua negara.

Penandatanganan Perjanjian Perdagangan

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik yang memuat ketentuan tarif resiprokal (timbal balik) sebesar 19 persen untuk produk impor Indonesia ke AS.

Teddy menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil negosiasi signifikan dibandingkan tarif sebelumnya.
“Saya mau ingatkan lagi, jadi perjanjiannya memang 19 persen. Tahun lalu itu 32 persen, sekarang menjadi 19 persen,” tegasnya.

Penurunan tarif tersebut dinilai sebagai capaian diplomatik yang strategis, karena berpotensi meningkatkan daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat.

Tarif Nol Persen untuk 1.819 Produk Unggulan

Selain kesepakatan tarif resiprokal 19 persen, perjanjian tersebut juga mencakup tarif 0 persen untuk 1.819 produk unggulan nasional dari sektor pertanian dan industri.

Produk-produk tersebut antara lain:
* Kopi
* Kakao
* Minyak kelapa sawit
* Produk semikonduktor
* Sejumlah komoditas manufaktur bernilai tambah

Kebijakan tarif nol persen ini dipandang sebagai peluang besar bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di sektor agroindustri dan teknologi.

Pertemuan Tertutup 30 Menit

Usai penandatanganan perjanjian perdagangan, Presiden Prabowo dan Presiden Trump melanjutkan pembicaraan tertutup selama kurang lebih 30 menit.
Meski belum dirinci secara detail, pembicaraan tersebut disebut mencakup berbagai isu strategis, termasuk kerja sama investasi, stabilitas kawasan Indo-Pasifik, dan penguatan kemitraan ekonomi jangka panjang antara kedua negara.

Teddy menyampaikan bahwa pemerintah akan menunggu perkembangan lanjutan dari implementasi kesepakatan tersebut.
“Kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat. Yang sekarang 19 persen ya, mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia. Kita tunggu saja,” pungkasnya.

Pernyataan Resmi Gedung Putih

Kesepakatan tersebut juga diumumkan melalui laman resmi Gedung Putih saat Presiden Trump dan Presiden Prabowo bertemu di sela agenda peluncuran Dewan Perdamaian (Board of Peace).

Dalam keterangan resmi itu disebutkan bahwa kedua pemimpin menyampaikan apresiasi atas langkah cepat dan konsisten yang telah dilakukan kedua negara dalam mengimplementasikan perjanjian perdagangan timbal balik.
“Mengingat kembali perjanjian bersejarah antara Amerika Serikat dan Republik Indonesia tentang perdagangan timbal balik SK 63, kedua pemimpin menyampaikan apresiasi atas langkah cepat dan konsisten yang telah dilakukan oleh kedua negara.
Mereka juga menegaskan komitmen yang kuat untuk mengimplementasikan kesepakatan besar tersebut,” demikian petikan keterangan resmi.

Dampak Strategis bagi Indonesia
Pengamat menilai kesepakatan ini memiliki arti penting bagi perekonomian nasional, terutama dalam konteks pemulihan dan penguatan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Dengan penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen serta pembebasan tarif untuk ribuan produk unggulan, Indonesia berpotensi meningkatkan volume ekspor sekaligus memperluas penetrasi pasar di Amerika Serikat.

Pertemuan bilateral eksklusif tersebut sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis Washington di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah menyatakan akan segera menindaklanjuti implementasi teknis perjanjian tersebut melalui koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, guna memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha nasional.

Dengan tercapainya kesepakatan ini, hubungan Indonesia–Amerika Serikat memasuki babak baru kerja sama ekonomi yang lebih erat, dengan harapan mampu memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja di Tanah Air.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bilateral Eksklusif di Washington, Presiden Prabowo Perkuat Posisi Indonesia di Panggung Global

Trending Now