Presiden Prabowo Subianto-Donald Trump, Sepakati Kerja Sama Investasi Logam Tanah Jarang, Indonesia Buka Peluang bagi AS di Sektor Mineral Kritis

Februari 21, 2026 | Februari 21, 2026 WIB Last Updated 2026-02-21T04:39:46Z
Jakarta, detiksatu.com || Prabowo Subianto menjalin kesepakatan strategis dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait penguatan kerja sama investasi di sektor mineral kritikal. Salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen Indonesia untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi perusahaan Amerika Serikat berinvestasi dalam pengembangan logam tanah jarang (LTJ), termasuk di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat.

Kesepakatan itu dicapai di sela-sela kehadiran Presiden Prabowo dalam forum internasional yang membahas Board of Peace (BoP) pada Jumat, 20 Februari 2026. Pertemuan bilateral tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok global mineral kritikal.

Mineral Strategis di Era Energi Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan negara-negara industri maju terhadap logam tanah jarang terus meningkat tajam. Komoditas ini menjadi komponen penting dalam pengembangan teknologi energi baru terbarukan, seperti motor listrik, turbin angin, baterai kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Logam tanah jarang bukanlah istilah baru di kalangan peneliti Indonesia. Riset mengenai komoditas ini telah berlangsung lebih dari satu dekade, melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penelitian nasional.
Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu pihak yang berkontribusi sejak tahap awal eksplorasi. 

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., mengungkapkan bahwa penelitian LTJ di Indonesia telah dimulai sejak 2008 melalui kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).
“Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ungkap Lucas di UGM, Sabtu, 21 Februari 2026.

Potensi Besar, Tantangan Nyata

Lucas menegaskan bahwa potensi logam tanah jarang Indonesia cukup besar. Namun demikian, sebagian besar masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Hingga kini, Indonesia bahkan belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk komoditas tersebut.

Ia menekankan pentingnya membedakan antara potensi geologi dan realitas produksi. Berbeda dengan komoditas seperti emas dan tembaga yang telah lama diproduksi secara masif dan memiliki infrastruktur pengolahan matang, logam tanah jarang masih membutuhkan tahapan riset mendalam sebelum dapat memasuki fase komersial.
Salah satu temuan penting muncul di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Kawasan tersebut awalnya diteliti karena adanya anomali radioaktif oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dalam perkembangannya, penelitian lanjutan mengungkap kandungan logam tanah jarang yang signifikan di kawasan tersebut.
“Awalnya daerah ini diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN. Dalam perjalanannya, diketahui bahwa kandungan logam tanah jarangnya tinggi di Indonesia,” jelas Lucas.

UGM memiliki rekam jejak kuat di kawasan tersebut. Peneliti yang pertama kali mengungkap potensi Mamuju merupakan alumni Departemen Teknik Geologi UGM yang menyelesaikan studi magister dan doktoralnya dengan fokus pada wilayah tersebut.

Tantangan Teknologi dan Investasi

Meski potensi sumber daya terus ditemukan, tantangan terbesar pengembangan logam tanah jarang terletak pada teknologi pengolahan. Lucas menjelaskan bahwa LTJ kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif serta memiliki karakter mineral yang berbeda-beda di setiap lokasi.
“Logam tanah jarang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda di setiap lokasi sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik,” ujarnya.

Karakteristik mineral yang kompleks membuat proses ekstraksi memerlukan teknologi tinggi dan investasi besar. Setiap lokasi memiliki komposisi mineral yang unik, sehingga metode pengolahannya tidak dapat diseragamkan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan LTJ memerlukan kemitraan internasional, termasuk transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Selain Bangka Belitung, kawasan Kalimantan dan Sulawesi kini juga menunjukkan prospek baru pengembangan LTJ. Namun penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kelayakan ekonomi cadangan-cadangan tersebut.

Kolaborasi Kunci Kedaulatan Mineral

Kesepakatan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump dinilai dapat membuka peluang masuknya investasi dan teknologi dari Amerika Serikat, sekaligus mempercepat hilirisasi mineral kritikal di dalam negeri. Namun demikian, sejumlah akademisi mengingatkan agar Indonesia tetap memprioritaskan penguasaan teknologi dan nilai tambah di dalam negeri.

Lucas menegaskan bahwa pengembangan logam tanah jarang tidak bisa hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri agar Indonesia tidak hanya menjadi pemilik cadangan, tetapi juga mampu menguasai teknologi pengolahan dan rantai pasok industri berbasis LTJ.
“UGM patut bangga karena ikut berkontribusi sejak tahap awal. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia benar-benar mampu mengolah logam tanah jarang,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritikal, langkah strategis pemerintah membuka investasi asing di sektor logam tanah jarang dinilai sebagai momentum penting. Jika dikelola dengan tata kelola yang transparan, teknologi yang tepat, serta penguatan kapasitas nasional, Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan dan pengolahan logam tanah jarang di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperkuat posisi dalam peta ekonomi global berbasis energi bersih.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Presiden Prabowo Subianto-Donald Trump, Sepakati Kerja Sama Investasi Logam Tanah Jarang, Indonesia Buka Peluang bagi AS di Sektor Mineral Kritis

Trending Now