Di tengah arus digital yang kian deras, ketika perhatian generasi muda kerap tersedot layar gawai, seorang siswa justru memilih menekuni dunia literasi dengan cara yang tak biasa. Ia adalah Frederikus Anwar Geli, siswa SMAK St. Thomas Aquinas, yang berhasil menerbitkan buku perdananya bertajuk
Berbagai Aksara yang Menjelma. Langkah kondusif buku tersebut sudah ditangan Frederikus pada 8/02/2026 langsung mulai dijual kepada penggemar yang minat membaca.
“Saya tidak pernah membutuhkan uang lebih dari proses jual buku ini,hanya saja saya bisa membuktikan bahwa kemampuan hasil belajar saya selama di sekolah ini”
Buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan jejak perjalanan batin seorang remaja yang menempatkan kata-kata sebagai ruang perenungan. Dalam setiap halaman, Frederikus merangkai aksara menjadi refleksi tentang kehidupan, persahabatan, iman, kegelisahan remaja, hingga harapan akan masa depan.
Dari Kegemaran Menulis ke Penerbitan Buku
Ketertarikan Frederikus pada dunia tulis-menulis tumbuh sejak bangku sekolah menengah. Berawal dari kebiasaan mencatat pikiran dan pengalaman pribadi, ia kemudian aktif menulis puisi dan esai pendek. Dorongan dari guru bahasa Indonesia dan lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan literasi menjadi pemantik semangatnya.
“Menulis adalah cara saya berdialog dengan diri sendiri,” ungkap Frederikus saat ditemui di lingkungan sekolah. Baginya, aksara bukan sekadar simbol, melainkan medium yang mampu menjelma menjadi gagasan, emosi, bahkan harapan.
Proses penyusunan buku ini memakan waktu berbulan-bulan. Ia harus membagi waktu antara kegiatan belajar, tugas sekolah, serta proses penyuntingan naskah. Tantangan terbesar bukan hanya pada teknis penulisan, tetapi juga menjaga konsistensi dan keberanian untuk membagikan karya pribadinya kepada publik.
“Berbagai Aksara yang Menjelma”: Refleksi dan Keberanian
Judul *Berbagai Aksara yang Menjelma* dipilih sebagai simbol perubahan—bagaimana huruf-huruf sederhana dapat bertransformasi menjadi makna yang hidup. Buku ini memuat kumpulan puisi reflektif dan prosa pendek yang sarat nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Pembaca diajak menyelami sudut pandang remaja yang peka terhadap realitas sekitar dan bertindak lebih konsisten membentuk perjalanan selanjutnya bukan hanya menggunakan alat teknologi sebagai bahan hedonisme atau kesenangan yang tidak menguntungkan bagi pengembangan talenta. Ada kegelisahan tentang masa depan, kritik halus terhadap lunturnya empati sosial, hingga penguatan nilai iman yang menjadi fondasi hidupnya sebagai siswa sekolah Katolik.
Guru pembimbing literasi di SMAK St. Thomas Aquinas menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, karya Frederikus menjadi bukti bahwa budaya literasi di sekolah SMAK St. Thomas Aquinas tidak hanya berhenti pada teori, tetapi mampu melahirkan karya nyata dengan pembuktian literasi yang melahirkan divesifikasi atau berbagai macam gaya penulisan dan karya yang lahir dari pengalaman dan pemikiran individual Frederikus.
SMAK St. Thomas Aquinas bukan lembaga yang biasa dipandang krisis scientia melainkan, instansi yang melahirkan aksi nyata daripada apa yang diajarkan dan diarahkan oleh Guru-guru di sekolah.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Penerbitan buku ini diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berani berkarya dengan aksi nyata, bukan hanya mimpi belaka untuk mencapai kebanggaan daripada proses yang ada. Di usia yang masih muda, Frederikus telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi melainkan sebuah proses yang harus ditangani dengan cerdik untuk bisa mendapatkan target yang ditanam dalam harapan individualnya.
Ia berharap bukunya dapat menjadi teman refleksi bagi pembaca, khususnya kalangan remaja. “Saya ingin tulisan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang punya cerita untuk dituliskan sebagaimana untuk menjadi pengingat bahwa remaja adalah generasi yang meneruskan ke emasan bangsa dan membuktikan bahwa pelajaran disekolah bukan hanya teory sesaat melainkan pembahasan yang harus dikembangkan secara nyata,” ujarnya.
Perjalanan Frederikus Anwar Geli menunjukkan bahwa dari aksara sederhana dapat melahirkan karya yang bermakna. Di tengah tantangan zaman, ia memilih menjadikan pena sebagai jalan berkarya—membuktikan bahwa literasi tetap hidup dan menjelma dalam generasi muda.
Sumber: Frederikus Anwar Geli

