Empat tahun telah berlalu sejak kepergian ulama yang akrab disapa Abi Thamrin, namun jejak dakwah dan keteladanannya tetap hidup di tengah umat.
Haul kali ini bukan sekadar mengenang, tetapi menjadi ruang muhasabah, merajut kembali semangat perjuangan, serta memperkuat persatuan di antara para murid dan jamaah.
Pimpinan Majelis Al Ihya KH Chaerul Saleh dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin menghadirkan hati dan meluruskan niat di momen haul tersebut.
“Hari ini kita hadirkan hati, ikhlaskan niat dengan segala perasaan yang mendalam. Orang tua kita, guru kita, Abina KH Muhammad Husni Thamrin, dalam hidupnya menghabiskan perasaan, pikiran, waktu, tenaga, dan hartanya untuk melanjutkan dakwah Kanjeng Rasulullah SAW,” tuturnya.
Kiai yang akrab disapa Babah Chaerul itu menegaskan bahwa almarhum tidak mewariskan harta benda, melainkan ilmu dan keteladanan—sebagaimana warisan para nabi dan ulama terdahulu.
“Sebagaimana para nabi dan rasul, yang diwariskan adalah ilmu. Itulah yang diwariskan oleh orang tua kita tercinta. Berkah beliau, pada haul yang keempat ini kita bisa berkumpul bersama,” ujarnya.
Babah Chaerul juga menyampaikan rasa syukur atas kehadiran sejumlah ulama dan tokoh yang turut membersamai haul tersebut, di antaranya Ustaz Umar (Pimpinan Majelis At-Taqwa Cianjur), Dr. Ilham Khaidir, Ustaz Subhan, Abah Sobar, Ustaz Abdul Qadir, Ustaz Hisyam, Ustaz Dudi, Ustaz Budi Abdul Karim, KH Sam’an, Ustaz Bahruddin, serta Habib Bagir selaku Ketua Rabithah Alawiyah Jawa Barat. Dalam acara tersebut, hadir juga menantu Habib Rizieq Syihab yaitu Dr Habib Muhammad Hanif Alatas, yang memberikan ceramah.
Dalam refleksinya, Babah Chaerul mengingatkan bahwa setiap yang hidup pasti akan wafat. Ia mengutip firman Allah, kullu nafsin dzaiqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
“Kalau dilihat waktu, pas hari ini empat tahun lalu beliau wafat. Tapi waktu juga mengingatkan kita bahwa yang ditinggalkan harus terus melanjutkan perjuangan,” katanya.
Ia menyebut wafatnya seorang ulama sebagai “dicabutnya salah satu paku dunia” oleh Allah SWT. Kematian seorang ulama, lanjutnya, bisa menjadi ujian besar bagi umat—apakah akan tumbang atau justru bangkit menjadi lebih kuat.
“Jangan sampai kita ditinggalkan beliau dalam keadaan sedih, lalu hilang semangat. Justru kita harus lebih hebat, lebih kuat, lebih istiqamah,” tegasnya.
Babah Chaerul mencontohkan sejarah wafatnya Rasulullah SAW. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Islam bukan melemah, justru semakin meluas dan berkembang.
“Begitu pula kita. Kepergian guru bukan akhir dari perjuangan. Itu adalah panggilan bagi generasi penerus untuk melanjutkan dan memperluas dakwah,” ujarnya.
Sebagai salah satu yang dituakan di majelis tersebut, Babah Chaerul mengajak seluruh jamaah untuk menjaga hati, keikhlasan, dan persatuan.
“Kalau ada masalah, itu biasa. Namanya juga hidup di dunia. Jangan sampai masalah membuat kita jatuh. Justru dengan ujian kita harus semakin kuat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa hidup penuh dengan ujian—baik berupa kesulitan maupun kenikmatan. Semua itu adalah cara Allah menguji kualitas iman hamba-Nya.
Haul ke-4 KH Muhammad Husni Thamrin pun menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat barisan, dan meneguhkan komitmen melanjutkan dakwah. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, para murid dan jamaah diingatkan agar tidak sekadar mengenang, tetapi juga semangat melanjutkan perjuangan Abi Thamrin.
Empat tahun kepergian ulama bukanlah jeda dalam perjuangan. Sebaliknya, ia menjadi penanda bahwa warisan ilmu dan semangat dakwah harus terus hidup—dalam majelis-majelis ilmu, dalam akhlak para murid, dan dalam pengabdian kepada umat.
Di momen haul ini, doa-doa dipanjatkan, untuk Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta umatnya. Nama KH Muhammad Husni Thamrin disebut dengan penuh cinta. Dan di antara lantunan doa, terselip tekad yang sama: menjaga api perjuangan agar tetap menyala, dari generasi ke generasi berikutnya. []

