JAKARTA,DETIKSATU.COM || Di balik gembar-gembor program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang akan memperbaiki gizi anak bangsa, terselip sebuah pemandangan ironis di halaman belakang sekolah. Bukan piring-piring bersih yang kembali ke dapur, melainkan kantong-kantong plastik hitam besar yang menumpuk di atas bak mobil pikap.
Foto yang beredar baru-baru ini menampar realitas pelaksanaan di lapangan: satu mobil penuh sisa makanan, yang ironisnya, hanya berasal dari satu dapur penyedia saja.
Menu Mewah yang Berakhir di Tong Sampah
Jika melihat isi tong biru yang menjadi tempat pembuangan akhir menu siang itu, siapa pun akan mengelus dada. Nasi yang masih putih bersih, lauk pauk yang utuh, hingga sayuran yang tampak belum tersentuh sendok sama sekali, bercampur menjadi limbah.
"Ini bermacam-macam. Ada ayamnya utuh nggak dimakan, ada telurnya nggak dimakan, apalagi sayurnya sama sekali kayanya nggak dimakan," ungkap sumber yang mendokumentasikan kejadian tersebut.
Pemandangan ini bukan sekadar sisa remah-remah. Ini adalah porsi utuh yang ditolak oleh lidah para siswa. Ayam dan telur—sumber protein yang seharusnya membangun sel otak dan otot anak-anak itu—justru berakhir menjadi santapan lalat.
Lidah Tak Bisa Bohong
Akar masalahnya sederhana namun fatal: selera. Niat baik pemerintah memberikan asupan gizi seimbang tampaknya membentur tembok preferensi rasa anak-anak. Menu yang disusun di atas kertas dengan hitungan kalori dan gizi presisi, nyatanya "tidak masuk" di lidah mereka.
"Mungkin bukan selera mereka," tambah sumber tersebut dengan nada prihatin.
Ketidakcocokan menu ini menciptakan paradoks. Anggaran negara triliunan rupiah digelontorkan untuk membeli bahan pangan terbaik, namun output-nya bukanlah anak yang kenyang dan sehat, melainkan volume sampah organik yang meledak.
Air Mata di Balik Dapur
Di sisi lain rantai pasok ini, ada cerita para pekerja dapur yang tak kalah memilukan. Mereka adalah pahlawan tak terlihat yang bertaruh jam tidur demi mengejar target distribusi ribuan kotak makan tepat waktu.
"Padahal yang kerjanya bikin MBG sampai begadang, sampai nggak tidur. Kasihan juga sebenernya kalau kaya gini," keluh narasi tersebut.
Bayangkan lelahnya memotong sayur, membumbui ratusan kilo ayam, dan menanak nasi sejak dini hari, hanya untuk melihat hasil jerih payah itu dibuang begitu saja beberapa jam kemudian. Ada kelelahan emosional yang tak terbayar ketika masakan yang dibuat dengan keringat justru berakhir di bak sampah.
Rugi Negara, Rugi Kita Semua
Fenomena "satu dapur, satu mobil sampah" ini adalah alarm bahaya. Jika satu titik distribusi saja menghasilkan limbah sebanyak ini, bayangkan jika dikalikan dengan ribuan sekolah di seluruh Indonesia setiap harinya.
Ini bukan lagi sekadar soal anak yang memilih-milih makanan (picky eater). Ini adalah indikasi inefisiensi anggaran yang masif. Setiap butir nasi dan potong daging yang terbuang adalah uang rakyat—uang negara—yang hangus tanpa manfaat.
Evaluasi menyeluruh terhadap variasi menu, cita rasa, dan edukasi gizi kepada siswa menjadi harga mati. Tanpa perbaikan strategi, program mulia ini terancam hanya menjadi proyek "memberi makan tong sampah" terbesar di negeri ini.

