NTT, DETIKSATU.COM || Tamparan keras bagi dunia pendidikan, peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD, nekat menyudahi hidupnya dengan cara tragis, hanya lantaran orang tuanya tidak mampu membeli buku tulis dan pensil untuk dia bersekolah.
Dua benda paling penting bagi anak sekolah, yang harganya tak lebih mahal dari satu omprengan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibanggakan pemerintah. MBG menggerus dana pendidikan, ratusan triliun rupiah.
Sebelum nekat mengakhiri hidupnya dengan seutas tali di atas pohon cengkih, siswa SD berusia 10 tahun ini, meninggalkan pesan menyayat hati, yang ditulisnya dari
Surat kecil dari kertas lusuh itu, ditemukan Polisi saat mengevakuasi korban. Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah Nganda. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, ia menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan beberapa barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, dan selembar kertas tulisan tangan dalam bahasa daerah. Polisi membenarkan menemukan kertas berisi pesan itu.
Informasi yang diperoleh, malam sebelum kejadian, korban sempat mengeluh sakit kepala kepada ibunya. Ia kemudian dinasehati agar tidak mandi hujan karena dapat memperburuk kondisi.
Paginya, rutinitas seperti biasanya, korban dibangunkan untuk pergi ke sekolah, tetapi mengaku masih pusing. Ibunya tetap meminta agar anaknya pergi ke sekolah, lantaran dalam seminggu telah beberapa kali tidak masuk.
Korban kemudian dititipkan kepada tukang ojek untuk diantar ke pondok milik neneknya, Welumina Nenu, karena seragam sekolah berada di pondok tersebut. Di sana, korban sempat terlihat belajar di bale-bale. Saat ditanya mengapa tidak pergi ke sekolah, korban menjawab masih sakit kepala.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 11.00 WITA, seorang saksi yang hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban menemukan korban tergantung pada salah satu dahan pohon cengkeh. Saksi berteriak meminta pertolongan, dan warga sekitar segera menghubungi petugas.
Personel Polres Ngada tiba di lokasi, mengamankan tempat kejadian, melakukan olah TKP, dan mengidentifikasi jenazah korban sebelum dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk visum et repertum.
Di lokasi, petugas menemukan beberapa barang bukti, antara lain tali nilon, pakaian milik korban, dan selembar kertas tulisan tangan berisi pesan perpisahan dalam bahasa daerah Ngada.
Peristiwa memilukan ini memicu reaksi keras dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Kematian siswa tersebut dinilai sebagai bukti nyata lumpuhnya perlindungan negara terhadap hak dasar anak-anak, terutama mereka yang terhimpit kemiskinan.
“Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga sebuah buku dan pena yang tak terjangkau,” ujar Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI, Rabu (4/1).
Belakangan, sempat muncul pernyataan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut faktor utama anak putus sekolah adalah karena “tidak bisa jajan”. Namun, kasus tragis di NTT ini menjadi tamparan keras bagi narasi tersebut.
Ubaid menegaskan bahwa alasan ‘tidak bisa jajan’ adalah bentuk penghinaan terhadap realitas kemiskinan yang dialami jutaan keluarga. “Kasus di NTT ini secara langsung membantah dan membungkam narasi tersebut. Anak-anak kita putus sekolah bukan karena mereka tidak bisa jajan cilok di kantin. Mereka menyerah karena biaya pendidikan yang mencekik,” tegas Ubaid.
Meskipun pemerintah gencar mengampanyekan “Wajib Belajar 13 Tahun”, realitas biaya sekolah yang kian mahal tetap menjadi momok. “Ketika sekolah diwajibkan, terus bayarnya bagaimana?” tambah Ubaid.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mengungkap keluarga dari bocah SD yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, tak masuk dalam daftar keluarga penerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.
Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang. Dia pindah dari Nagekeo ke Jerebuu ternyata adminduk dia belum diamankan,” kata Melki, di Kupang, Rabu (4/2).
Melki menyampaikan itu ketika ditanya terkait orang tua korban yang tidak terdaftar dalam daftar warga penerima bantuan sosial dari pemerintah. Dia pun meminta agar pemerintah setempat segera membereskan hal tersebut, karena hal ini hanya menyangkut selembar kerta
Ini, kan, cuma soal kertas selembar. Segera bereskan, yang begini-begini kan seharusnya tidak terjadi,” ucapnya. Melki mengatakan tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, yang menjadi penyebab orang tua korban tidak menerima bantuan.
PENTING: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan jika mengalami gejala yang mengarah pada perilaku menyimpang dan membahayakan. (Red)

